![]() |
| Presiden RI Joko Widodo (kedua kanan), bersama Presiden Cina, Xi Jinping (kedua kiri) didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo (kanan), dan para kepala negara berjalan menuju Gedung Merdeka saat peringatan ke-60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) 2015 di Bandung, 24 April 2015. ANTARA/aacc2015/Hafidz Mubarak A |
“Kami melihat, betapa korporasi-korporasi Aseng mendikriminasi buruh-buruh pribuml. Mereka mulai merekrut buruh-buruh Aseng,” kata Sri Edi Swasono (21/10).
Menurut Sri Edi, pribumi hanya dijadikan buruh kelas rendah, misalnya menjadi satpam. “Lengah, karena kekagumannya sama Ahok. Saya tidak rasis ya,” ungkap Sri Edi.
Sri Edi menegaskan pihaknya tidak rela pribumi terus “digusur”, bahkan nasibnya seperti suku Aborigin di Australia. “Saya tidak ikhlas melihat pribumi terus digusuri, dan bisa-bisa minggir jadi Aborigin,” tegas Sri Edi.
Sebelumnya, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri membenarkan adanya ribuan tenaga kerja asing dari Cina yang sudah masuk dan bekerja di Indonesia.
Berdasarkan data Izin Menggunakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) yang diterbitkan Kementerian Ketenagakerjaan per Januari 2014 hingga Mei 2015, ada sedikitnya 41 ribu buruh asal Cina yang pernah mendapatkan izin kerja. Sampai akhir Juni 2015, Menteri Hanif memastikan ada 12 ribu buruh Cina di Indonesia.
Redaksi
Sumber : Intelijen


