
Kata Salamuddin menjelaskan dalam mengatasi krisis besar kemungkinan ke depan pemerintahan Jokowi akan mengeluarkan paket kebijakan setiap hari. “Melalui paket kebijakan tersebut Jokowi mimpi uang besar, proyek besar, investasi besar, utang besar dan untung besar,” ungkapnya.Terkait dengan UU APBN 2016, satu sisi target kenaikan pajak dan penerimaan begitu besar. Namun sisi lain pemerintah mengatakan berkomitmen memberikan fasilitas, keringanan dan bahkan penghapusan pajak serta insentif lainnya.
“Melalui APBN 2016 yang ambisius tersebut Jokowi mengaharapkan internasional, para investor melirik Indonesia yang memiliki rencana besar dan hebat,” jelas Salamuddin.ia mengutarakan, UU APBN 2016 lebih tinggi kedudukannya secara hukum dibandingkan paket. Kalau pelanggaran UU bisa diminta pertanggungjawabannya oleh DPR. “Sementara kalau paket bisa dibuat dan dibatalkan pemerintah sendiri. Jadi investor pasti berfikir ini ‘ngibul’,” paparnya.
Disitulah diambil kesimpulan "Saat ini Presiden Joko Widodo atau Jokowi banyak mengeluarkan kebijakan ketok magic atau bim salabim abra kadabra’ alias kebijakan ‘ngibul’. Demikian dikatakan pengamat dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng, Jumat (6/11). “Perilaku ‘ketok magic’ pemerintahan ini paling sedikit terlihat dalam dua hal yang menjadi polemik dalam kebijakan mengatasi krisis dan UU APBN 2016,” ungkap Salamuddin.“Semua pengusaha dan investor asing pasti merasa aneh dengan hal yang kontradiktif dalam APBNP 2016 sehingga mereka akan sampai pada kesimpulan pemerintah ‘ngibul’,” pungkasnya.(itj)

