![]() |
| Politikus PDIP Effendi Simbolon. (Foto:Antara/Wahyu Putro A) |
Hal ini setelah rekaman pembicaraan yang diduga Setya Novanto, Bos Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin dan pengusaha Muhammad Riza Chalid beredar luas. Menteri ESDM Sudirman Said pun telah melaporkan kasus ini ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). MKD pun kini sedang mengusut kasus tersebut.
Namun seiring berjalannya waktu, banyak pihak seolah menyalahkan Sudirman Said.
Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan misalnya, meski namanya dicatut dalam rekaman, tetapi dia mengaku tidak mempermasalahkan hal itu. Bahkan Menko Luhut menyebut tindakan Sudirman Said sebagai sesuatu yang aneh. Sudirman, kata Luhut tidak melaporkan kepada Jokowi perihal aduannya ke MKD.
Sikap Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla dan Luhut Pandjaitan memang berbeda dalam menyikapi kasus ini. Padahal ketiganya dicatut dalam rekaman transkrip yang beredar luas itu.
Kondisi ini pun memunculkan banyak spekulasi atas kasus ini. Salah satunya pengalihan isu.
Istilah membuat isu baru untuk menutup isu lama memang sudah sejak dulu sering dilakukan para elite politik. Begitu juga dengan kasus pencatutan nama presiden ini.
Wakil Ketua Komisi VII DPR periode 2009-2014 yang kini menjadi anggota Komisi I DPR, Effendi Simbolon menilai, kegaduhan yang muncul akibat laporan Sudirman Said terkait Freeport adalah sebuah pengalihan isu belaka. Menurut politisi PDIP ini, substansi dari PT Freeport saat ini adalah mengenai kewajiban divestasi saham kepada pemerintah, tetapi malah ditutupi dengan kegaduhan laporannya ke MKD DPR.
"Tindakan Sudirman Said adalah pengalihan isu terlepas dari kasus Ketua DPR Setya Novanto. Sebab ada yang sedang kita tunggu untuk kewajiban mendivestasikan sahamnya. Bahwa kemudian dialihkan melalui cara-cara infotainment," ujar Simbolon di diskusi Warung Daun, Jakarta, Sabtu (21/11) kemarin.
Simbolon dengan tegas menolak divestasi saham PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui Initial Public Offering (IPO). Dia menyebut, yang berkoar-koar soal divestasi saham Freeport melalui IPO adalah antek-antek bos besar Freeport McMoran Inc, James Moffet.
Effendi menjelaskan, rencana divestasi saham Freeport melalui IPO dilontarkan oleh Menteri ESDM Sudirman Said dan Menteri BUMN Rini Soemarno. Menurut Effensi, seharusnya, penawaran saham langsung ditujukan kepada pemerintah untuk menghindari banyaknya calo-calo. Tetapi, ujar dia, Menkeu selalu bilang tidak memiliki uang untuk membeli saham Freeport.
"Yang antek-anteknya Moffet itu yang mau IPO. Yang divestasi saham enggak mau IPO itu sudah benar," tegas Simbolon.
Simbolon enggan berspekulasi benar atau tidaknya transkripan Setnov yang meminta saham Freeport. Simbolon menuding Sudirman mengalihkan isu besar dengan menyeret Setnov. Padahal, Freeport sekarang ini sedang panik karena harus melaksanakan ketentuan divestasi tahun ini.
"Memang yang menjadi seksi ketika ada kepentingan-kepentingan pihak kemudian berkonspirasi untuk memuluskan memperpanjang (kontrak karya). Padahal dua pihak ini sama-sama ingin memperpanjang yang satu lewat jalur A, yang satu lewat jalur B," tandasnya.
Benarkah demikian?
Dalam pernyataan sebelumnya, Effendi Simbolon juga menyebut Ketua DPR Setya Novanto hanya dijadikan 'kambing hitam' dalam masalah PT Freeport. Dia menduga Setya Novanto hanya dijadikan 'bantalan' dalam pertarungan dua kelompok yang memiliki kepentingan besar di PT Freeport.
Effendi menjelaskan, kasus Freeport ini merupakan desain yang diukir oleh Menteri ESDM Sudirman Said. Sesungguhnya, kata dia, sasaran tembaknya adalah pengusaha Minyak Riza Chalid. Menurut dia, Sudirman mulai mengincar Riza dengan membentuk tim reformasi tata kelola migas dengan menunjuk Faisal Basri sebagai ketuanya.
"Ujug-ujug tunjuk Faisal Basri, hanya gunakan figur baik dan polos untuk mengeluarkan audit forensik, dan makanya dia sekarang bingung. Itulah digunakan Pertamina untuk meminta auditor audit forensik, ini sudah dengan batasan dan tembakannya Riza, rudalnya langsung menghancurkan, destroy kekuatan Riza, dan berlanjut ke proses Freeport," kata Effendi di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (19/11) lalu.
Dalam masalah Freeport dia menyebut ada kepentingan mantan petinggi Petral yakni Ari Soemarno yang merupakan kakak Menteri BUMN Rini Soemarno. Effendi mengatakan, bahwa Ari dan Riza yang bersahabat sejak berkarier di Petral pada 2004, kini pecah kongsi sehingga muncullah dua kelompok yang dia maksud itu.
"Ari Soemarno dan Riza pecah kongsi pada 2004. Karena ini yang bermasalah bukan Sudirman tapi Ari Soemarno tetapi dilakoni Sudirman dan ada lagi godfathernya, yang level lebih tinggi, yang nanti Anda tahu, ini perang frontal, nah ketika ini misi mereka memuluskan proses perpanjangan kontrak karya dan lainnya terganjal karena tidak ada negosiasi sebelum 2019," ujarnya.
Menurutnya, kasus pencantutan nama Presiden ini tidak akan muncul jika dalam pertemuan Setya Novanto dan Presiden Direktur Freeport Maroef Sjamsoeddin tidak ada Riza Chalid. Sebab, berulang kali Effendi menuturkan bahwa yang menjadi sasaran adalah Riza. Karena mengetahui dalam pertemuan itu dihadiri Riza, dia lalu menuding Maroef yang berada di kubu Sudirman merekam pembicaraan tersebut dan dibeberkan ke publik.
"Itulah yang terjadi, andaikan tak ada Riza di pertemuan, itu tak akan terblow up, ini ibarat pesawat Malaysia tidak tahu ke mana dan disinyalir ada orang dihilangkan maka dijatuhkan, maka ada Novanto, momentum blow up, sasarannya tapi bukan Novanto," tandasnya.(mdk)


