logo
×

Sabtu, 26 Desember 2015

Kritik Wapres Jusuf Kalla, Masinton Berlindung di Balik Suara Rakyat

Kritik Wapres Jusuf Kalla, Masinton Berlindung di Balik Suara Rakyat
Jusuf Kalla-Masinton. (NBCIndonesia.com)
NBCIndonesia.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla naik pitam setelah dikritik politikus PDIP Masinton Pasaribu yang menudingnya sebagai biang keladi kegaduhan di internal pemerintahan Presiden Joko Widodo. Tak terima dengan tudingan itu, JK balik menyerang dengan menyebut Masinton hanya dipergunakan sebagai corong pihak tertentu.

Masinton kembali mengomentari serangan balik yang dilontarkan Wapres JK. Masinton mengakui ditunggangi kepentingan rakyat Indonesia.

"Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Pak JK sebagai orang tua dan tokoh senior yang saya hormati. Suara saya mengkritik Pak JK sebagai Wapres adalah mewakili sikap saya sebagai warga negara dan sebagai wakil rakyat," kata Masinton dalam keterangan tertulisnya, Rabu (23/12).

Masinton berlindung di balik suara rakyat, tanpa ada kepentingan politik di belakangnya. Dia juga menegaskan tak disetir pihak lain.

"Tidak ada motif lain selain menyuarakan kehendak rakyat yang mengamanatkan agar negara dikelola dengan benar tanpa mencampuradukkan antara wewenang kekuasaan dengan kepentingan bisnis (conflict of interest), seperti yang pernah terjadi pada masa orde baru," tuturnya.

Masinton menegaskan semua informasi dan pernyataan yang dia sampaikan adalah fakta-fakta yang sebelumnya sudah diketahui publik melalui pemberitaan di media massa. Dia mencontohkan program pembangkit listrik 35.000 megawatt, penggeledahan kantor Pelindo II oleh Bareskrim Mabes Polri, maupun Freeport.

"Walaupun pahit, kebenaran harus disuarakan. Itulah politik sebagai sikap dan politik sebagai perjuangan yang saya pahami sejak pergerakan mahasiswa hingga sekarang sebagai anggota parlemen di DPR. Sebagai orang muda kami butuh tauladan dan bimbingan kenegarawanan Pak JK," ucapnya.(mdk)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: