logo
×

Jumat, 03 Juni 2016

Cerita Lengkap Yusril Usai Dituduh Ahok "Mengemis-ngemis" ke Partai Politik

Cerita Lengkap Yusril Usai Dituduh Ahok "Mengemis-ngemis" ke Partai Politik

Nusanews.com - Pakar Hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra memberikan pernyataan mengenai langkah politiknya di Pilkada DKI 2017. Ia mengaku sudah mendaftar di banyak partai politik agar mendapatkan kendaraan parpol untuk maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta.

Namun demikian, Yusril mengaku terpukul dengan hinaan pesaingnya yang juga Gubernur DKI Basuki T Purnama (Ahok) yang menyebut Yusril harus mengemis-ngemis mencari dukungan parpol. Lalu apa kata Yusril disebut Ahok seperti itu?

Berikut penuturan Yusril dalam pesan yang diterima TeropongSenayan, Kamis (2/6/2016).

Kamis (2/6/20160 siang, saya hadir di kantor DPW PKB DKI Jakarta dalam rangka fit and proper test sebagai bakal calon gubernur DKI Jakarta.  Beberapa wartawan meminta tanggapan kepada saya atas pernyataan pak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang pernah menyindir dan sinis kepada  saya  lantaran saya sibuk mencari kendaraan politik untuk ikut pilkada DKI Jakarta 2017 dengan mendaftar di banyak partai politik.

Saya jawab bahwa saya merasa diolok-olok atas sindiran  pak Ahok tersebut. Mengapa saya merasa diolok-olok?  Karena mendaftarkan diri  dan mencari kendaraan partai merupakan salah satu cara untuk bisa ikut pilkada. Dan itu bukan tindakan  hina. Yang termasuk tindakan hina adalah tindakan melecehkan partai politik. Siapapun yang menghargai dan menghormati partai politik akan mengatakan demikian, dan terhina jika diolok-olok.

Kalau datang ke partai, saya diolok-olok terus, dihina, dan (dibilang) ngemis ke partai itu namanya tidak menghargai partai politik dan fungsi partai politik. Janganlah seseorang yang akan maju ikut pilkada melalui  jalur perseorangan kemudian mengolok-olok dan tidak menghargai partai politik. Sebagai orang partai politik, saya mengakui keberadaan dan peran partai politik yang sangat penting dalam demokrasi.

Saya mengakui  tidak mudah untuk ikut pilkada melalui jalur perseorangan. Buktinya, pak Ahok sendiri masih gamang untuk ikut pilkada melalui jalur  perseorangan atau independen.  Padahal pak Ahok sudah koar-koran akan maju melalui jalur independen dengan tidak menganggap penting partai politik. Kegamangan pak Ahok itu,  terlihat dari sikapnya yang seolah masih membuka kesempatan agar  pak Djarot Saiful Hidayat yang merupakan salah satu ketua DPP PDI Perjuangan  bisa menjadi pendampingnya dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Terus kalau pasangannya Pak  Djarot, mau pakai apa?  Pak Djarot yang merupakan pengrusus inti partai mau ditarik ke independen?  Ya enggak mungkin lah.

Saya sudah dapat memprediksi arah politik dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 nanti.
Partai politik  hanya akan mendukung bakal calon yang memiliki elektabilitas tinggi. Saya sendiri Alhamdulillah, walaupun belum menjadi calon resmi dan baru sebagai bakal calon gubernur sudah punya elaktabilitas yang menurut  sejumlah media dan lembaga survei  sudah “membuntuti’ pak Ahok.  Dan saya juga bersyukur menjadi salah satu dari tiga bakal calon yang lolos dalam penjaringan di Partai Geruindra. Tetapi saya siap mengikuti prosedur yang dijalankan oleh partai-partai politik tempat saya mendaftar seperti PDIP, Partai Demokrat, Partai Gerindra, dan PKB. Semuanya saya serahkan pada mekanisme partai politik.

Jakarta, 2 Juni 2016

YUSRIL IHZA MAHENDRA

(ts)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: