Nusanews.com - Tingginya elektabilitas calon petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) diprediksi tidak akan bertahan lama. Selalu harumnya nama Ahok sejauh ini dinilai wajar lantaran belum ada sosok calon lain yang secara resmi diumumkan partai politik untuk bersaing dengannya di Pilkada DKI 2017 mendatang.
"Kalau Ahok elektabilitasnya tinggi ya jelas, karena (partai) yang lain kan belum mengumumkan calonnya," ujar Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPD PDI P Gembong Warsono saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (28/6/2016).
Menurutnya, ketika telah muncul beberapa nama yang akan diusung Parpol untuk bertarung dengan Ahok di Pilkada, maka secara otomatis hasil survei akan berubah.
"Itu sudah hukum survei. Ketika sendiri pasti tinggi, ketika ada calon lain pasti turun. Lagi pun wajar kalau elektabilitas Ahok tinggi karena dia incumben. Justru kalau gak tinggi aneh," terangnya.
Sebelumnya, dalam survei yang kembali dirilis Cyrus Networ beberapa waktu lalu menyebutkan jika Ahok dipastikan head to hoad dengan enam sosok lain di Pilkada DKI, mantan Bupati Belitung Timur itu akan tetap bertengger di posisi teratas.
Keenam orang tersebut yakni Katua Umum Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra, Politisi Partai Gerindra Sandiaga Uno, mantan Menpora Adhyaksa Dault, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.
Berdasarkan survei tersebut, Ahok selalu memiliki elektabilitas di atas 60 persen saat dihadapkan dengan Yusril, Sandiaga, Djarot, dan Adhyaksa. Sedangkan jika dihadapkan dengan Risma dan Ridwan Kamil, elektabilitas Ahok tidak mencapai angka tersebut.
"Angka terendah Ahok adalah 57 persen. Itu jika disimulasikan dengan Ridwan Kamil yang sudah menyatakan diri tidak akan maju dalam Pilkada DKI Jakarta," ujar Managing Director Cyrus Network, Eko Dafid Afianto. (rn)

