
Nusanews.com - “Saya lebih suka kalau Ibu Risma tetap di Surabaya, karena persoalan kepemimpinan di Surabaya sejak dulu sampai saat ini selain ibu, belum ada yang membela rakyat kecil,” ujar Budi warga Asem Jajar Surabaya.
Budi yang berasal dari Purwakarta Jawa Barat, telah berdomisili di Surabaya sejak tahun 1990, dan menikah dengan salah satu gadis dari Kabupaten Gresik.
Menurut Budi, salah satu penyebab warga Surabaya tidak inginkan Tri Rismaharini alias Risma ke Jakarta untuk masuk dalam perhelatan Pilgub DKI, dikarenakan warga Surabaya lebih menginginkan agar Risma memimpin hingga Gubernur Jawa Timur.
Bahkan menurut Budi, jika Risma meninggalkan Surabaya saat ini, maka Wishnu yang menjadi wakilnya dipastikan akan naik menjadi Walikota, Budi khawatir Kota Surabaya akan semakin semrawut.
Kekhawatiran Budi sangat beralasan, ketika Risma menolak untuk membangun jalan tol di tengah kota, dengan alasan akan menambah masalah, mulai dari banjir, dan juga penggunaan jalan tol tidak diperuntukkan oleh seluruh lapisan masyarakat, apalagi alasan jalan yang seharusnya gratis malah bayar, merupakan salah satu keberpihakan Risma kepada masyarakat kecil,
“Saya rasa ruas jalan akan semakin kecil dan itu artinya akan semakin menimbulkan kemacetan, cara Ibu berpikir baik, dan merupakan salah satu pemikiran brilian,” menurut Budi.
Namun Wishnu Sakti Buana, yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Surabaya, bersama anggota DPRD lainnya ikut memaksakan agar pembangunan jalan tol tersebut tetap dilakukan, bahkan pemerintah pusat hingga Gubernur Soekarwo, DPRD Propinsi juga ikut mencoba membujuk Risma, namun tetap saja Risma bertahan dan menggantikan dengan pelebaran jalan lingkar luar Surabaya.
Sementara alasan kemacetan, sampai diadakannya jalan tol tengah Surabaya ini dibangun, oleh Risma digantikan dengan perbaikan transportasi umum, dan pembangunan trem.
Kekhawatiran Budi jika Wisnu yang saat ini menjadi Wakil Walikota ternyata juga disampaikan oleh Ican salah satu warga keturunan yang juga mendukung Risma agar tetap menjaga Surabaya hingga Jawa Timur.
“Saya cuma takut, jika Surabaya dipegang oleh orang yang lebih mementingkan kekuasaan daripada keadaan, maka habislah Surabaya,” ujar Ican yang menceritakan kembali bagaimana Wisnu sempat ribut dengan Risma ketika akan menggantikan Bambang DH yang akan maju menjadi Calon Gubernur Jatim.
Wisnu memang terkenal dengan sepak terjangnya yang hanya mengurus proyek, dan inilah yang menjadikan Wisnu tidak terlalu disukai oleh warga Surabaya, hal ini diungkap Ican, ketika Wisnu menggantikan Bambang DH sebagai Wakil Walikota, selama lima bulan Wishnu tidak bertemu dengan Risma.
“Sekalinha ketemu malah minta Ibu Risma menyetujui lahan milik TNI AL agar ditukar guling, karena pihak swasta akan membangun hotel diatas tanah tersebut,” ujar Ican, dan seperti yang sudah di duga, Risma menolak mentah-mentah keinginan Wisnu.
“Saya rasa ibu Risma juga tahu siapa dan bagaimana seorang Wisnu yang hanya memikirkan proyek dan pendapatan buat dirinya, jika di tinggal ke Jakarta, bisa-bisa taman-taman yang sudah dibangun oleh Risma juga dijual Wisnu ke swasta,” ujar Ican sambil tersenyum.
Baik Ican maupun Budi, keduanya dan bersama – sama warga Surabaya lainnya, meminta Risma tetap di Surabaya, dan kalau perlu sampai menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur untuk dua periode, dan Wisnu sendiri jangan diberikan kesempatan untuk memimpin Surabaya.
“Kalau Risma dinobatkan sebagai Wakikota Terbaik Ketiga di dunia, kalau dipimpin Wisnu bisa-bisa Surabaya mendapat penghargaan Walikota dengan urusan proyek terbanyak di dunia,” ujar Budi sambil tertawa. (pb)

