
Nusanews.com - Bergelar Profesor bukan berarti langsung mendapatkan tanggapan positif dari netizen ketika hasil pendapat yang diakui melalui sebuah survey jika Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapatkan poin tertinggi sebagai bacagub DKI Jakarta, dan “memaksa PDIP” harus dukung Ahok.
Melalui akun milik @Labpsikopol_UI, Hamdi Muluk mengatakan jika saat ini bacagub yang layak sesuai dengan survey dengan judul “Menakar Kandidat Gubernur DKI 1” adalah Ahok yang menempati poin tertinggi.
Hamdi Muluk selaku Ketua Laboratorium Psikology Politik UI, mengatakan jika Ahok memiliki visi yang jelas, dalam pencalonan kali ini, kemudian disusul Risma dan Ridwan Kamil.
Namun visi apa yang dimaksud oleh Hamdi tidak dijelaskan, karena tahapan pencalonan saja belum dimulai, sementara Hamdi bersama Burhanudin Muhtadi, keduanya pendukung Ahok, sudah bisa mengeluarkan visi Ahok.
“Lucu ya, atau jangan-jangan visi Ahok yang buat mereka dari kelompok Labpsikopol UI ini, jadi sudah tahu, sementara tahapan belum jalan sama sekali,” ujar Dimas salah satu pegawai swasta di Jakarta.
Untuk membelokkan pilihan masyarakat, mereka berusaha mengatakan jika syarat utama menjadi Calon Gubernur adalah kapabilitas seseorang untuk maju sebagai Gubernur.
“Soal Kapabilitas yang dimaksud oleh mereka untuk Ahok yang mana ya? Menggusur warga miskin? Atau berbicara kasar dan juga suka menyalahkan orang lain?” Ujar Dapit salah satu anggota dari Jempol Rakyat, yang kaget jika persoalan kapabilitas Ahok mereka unggulkan.
Karena menurut Dapit, kapabilitas Ahok dalam soal hukum justru bisa dikatakan lemah, karena berulangkali Ahok harus berurusan dengan hukum.
“Cuma satu Gubernur di Indonesia yang pernah dipanggil oleh KPK, Pengadilan, dan juga Polisi sebanyak dua kali, dan soal kasus yang berurusan dengan tanah, dan ini sejarah,” ujar Dapit tertawa, karena mengingat jika para pakar yang mengatasnamakan UI ini terkesan memaksa diri.
“Mungkin ada titipan yang sudah masuk ke kantong pribadi, dan akhirnya menjual nama besar UI,” ujar Dapit yang melihat survey yang dilakukan dengan mengatasnamakan pakar, baik pakar politik, jurnalis, dan pakar lainnya, namun tidak disebutkan siapa saja.
Sementara akun @Labpsikopol_UI sendiri baru saja dibuat, karena sebagai salah satu lembaga dari universitas terkenal bukan tidak mungkin pasti memiliki pengikut yang cukup banyak.
“Jadi akun itu baru dibuat untuk kepentingan mereka mendukung Ahok, hanya sayangnya membawa nama UI, dan saya boleh menuduh UI khususnya Departemen Psikology tidak lebih dari sebuah lembaga survey,” ujar Dapit.
Akun @Labpsikopol_UI baru memulai postingan delapan jam yang lalu, ketika berita ini dibuat, dan yang paling menggelikan ketika akun ini mengatakan jika ini adalah sebuah tradisi.
“Jika ini tradisi berarti sudah lama terjadi, sementara selama ini Hamdi Muluk lebih banyak berbicara secara pribadi, seperti pada tahun 2014 lalu, Hamdi mengatakan jika Jokowi tidak pantas menjadi presiden,” ujar Dapit.
Dari seluruh kesimpulan yang dibuat, ternyata tujuan survey ini untuk menggiring PDIP agar mau memilih Ahok sebagai calon gubernur mereka, dan tidak memilih Yusril, karena dianggap tidak populer. (pb)

