
Nusanews.com - Pengamat politik dari Monash Institute Muhammad Nasih mengkritisi sikap partai Gerindra yang tak kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah saat ini.
Menurutnya, ada beberapa hal yang menyebabkan partai pimpinan Prabowo Subianto tersebut tidak kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah saat ini.
“Gerindra tidak memiliki kekuatan yang signifikan. Selain itu, Gerindra juga tidak memiliki kekuatan moral yang kuat, karena diantara kadernya terlibat korupsi,” kata Nasih pada TeropongSenayan di Jakarta, Senin (05/09/2016).
Yang lebih memprihatinkan lagi, lanjut dia, Gerindra tak memiliki kader yang kritis dan ditinggalkan parpol yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP).
“Maksud hati oposisi. Namun, di tengah jalan ditinggal oleh parpol-parpol koalisi. Sementara moralitas partai tidak cukup untuk menjadi oposisi sendiri,” ungkapnya.
Padahal, kata dia, Jika Gerindra memiliki moralitas itu secara paripurna, maka walaupun sendiri pasti berani. Dan segala langkah politiknya pasti akan terasa berenergi dan bergigi.
Menurutnya, politik saat ini adalah politik saling sandra.
“Kalau tidak bersih betul, jangan coba-coba (oposisi). Bisa-bisa diborgol dan masuk penjara oleh yang sedang berkuasa,” ujarnya.
Tidak adanya moralitas yang tinggi dan ditambah dengan kader partai Gerindra yang masih merupakan masa lalu menjadi salah satu faktor tidak kritisnya partai tersebut pada pemerintah.
“Itu juga jadi faktor. Dan sebagiannya adalah politisi masa lalu yang berasal dari partai-partai yang kini berkuasa atau bergabung dengan kekuasaan. Jadi, berat menggerakkan mereka jadi kekuatan oposisi yang benar-benar tajam,” terang Nasih.
Padahal, kata dia, sikap beroposisi sesungguhnya sikap yang menguntungkan untuk saat ini.
Apalagi, sambung dia, pemerintahan Jokowi-JK kelihatan sekali kedodoran.
“Ekonomi melorot. Janji meroket, tetapi malah menurun. Banyak pelanggaran hukum dan etika bernegara yang terjadi,” ungkapnya.
Saat ditanya apa yang menyebabkan moralitas di partai Gerindra menurun, Nasih menegaskan karena adanya sejumlah kader partai yang terjerat kasus korupsi.
“Ya itu tadi, moral politiknya tidak cukup. Sebab, Gerindra bukan partai yang bersih-bersih amat. Ada kadernya yang kena OTT, misalnya. Itu jadi kendala,” kata dia.
Mestinya, lanjut dia, Gerindra memang harusnya ambil peran saat ini.
“Prabowo harus mengambil ketegasan menyatakan bahwa semua kader Gerindra harus benar-benar “berpuasa”. Puasa itulah yang akan membuat mereka bisa membangun moralitas politik untuk mengatakan yang benar itu benar dan yang salah harus dihentikan,” tandasnya.
Menurutnya, Jika Gerindra tak bisa ambil momentum dengan menjadi oposisi yang kritis, maka, Gerindra akan menelan pil pahit di 2019 mendatang.
“Rugi besar. Gerindra tidak akan mendapatkan perhatian masyarakat Bahkan bisa dianggap tidak punya kepedulian terhadap keadaan negara dan rakyat yang sekarang makin buruk. jika dianggap tidak peduli, untuk apa dipilih dalam Pemilu?. Prabowo mesti mengatur kembali barisannya, agar rapi dan tidak disersi lalu masuk perangkap musuh,” pungkasnya. (it)

