
Oleh: Erie Sudewo, Pendiri Dompet Duafa
==============
Aneh. Pergantian 2016 ke 2017 nggak jor-joran. Pesta sih masih. Cuma lebih bersahaja. Hasil muhasabah kah? Waduh, saya gak berani jawab.
Di saat begini, saya ingat ucapan Ahmad Sabar. Dia bilang: “Muhasabah ada 10 bagian. Yang 9 bagian introspeksi. Yang 1 bagian senang-senang”. Karena biasa introspeksi, yang senang otomatis terkendali. Namanya 9 lawan 1, jelas siapa unggul?
Kalau begitu, pesta juga 10 bagian dong. Cuma 9 senang, yang 1 introspeksi. Karena biasa senang, begitu mau introspeksi, kendalanya 9 kali lipat. Nah lawan 9, yang 1 siap kalah.
Mustinya yang biasa muhasabah lebih waspada. Mau bobo saja koreksi diri. Padahal shalat 5 waktu, jadi alat muhasabah paling penting. Gak Tahajud, pasti dia sesali banget.
Soal momen, yang biasa muhasabah tak peduli. Kapanpun dan dimanapun bisa koreksi diri. Pas ganti tahun memang bisa dikhususkan. Yakin, kata Ahmad Sabar, dia ingin lebih khusyu koreksi diri. Setahun sekali.
Yang senang pesta juga tak cari momen. Kapanpun dan dimanapun musti selalu senang. Apalagi di pergantian tahun, pasti dia tempatkan jadi puncak kesenangan. Setahun sekali.
Yang biasa muhasabah, waktu amat berharga. Di malam tahun baru, Tahajudnya bakal lebih terasa. Usai Shubuh, 1 Jan’17 bakal dilakoni lebih patuh. Untuk apa? Coba ihtiar agar terhindar dari bencana Al Ashr. “Demi Masa”.
Yang biasa pesta, ya pasti abaikan waktu. Di malam tahun baru, mimpinya jadi orang paling penting. Disiapkan jauh-jauh hari. Di saat pergantian tahun, detiknya ditunggu debaran jantung. Semua nyaris tahan napas, seolah momen hidup mati.
Begitu jarum jam masuk 00.00, serentak dia pimpin teriakan: “Happy New Year”. Mulut teriak, entah hatinya. Kekosongan tak terasa. Sebab semua larut dalam hingar bingar.
Saat adzan Shubuh mendayu, yang biasa muhasabah melangkah ke masjid. Hmmm... Jadi ingat lirik lagu Raihan. “Tabuh berbunyi getarkan alam sunyi”. Namun yang biasa senang, tak sehelai pun bulu romanya berdiri.
Usai Shubuh, yang biasa muhasabah dan yang biasa bersenang-senang, kembali ke rumah. Bedanya yang satu mengaji. Yang lain rebahkan kepala karena penat semalaman berpesta.
Ketika tiba-tiba terjadi Tsunami, ina lillahi wainna ilaihi rojiun. Keduanya ditelan samudera. Yang satu berharap ampunan ridho Allah SWT, yang lain sedang terlelap. Ketika keduanya dibangkitkan, astaghfirullah, bukankah dibangunkan sesuai nawaitu waktu wafat?
Ya Allah. Semua Engkau beri waktu sama. 24 jam. Bahkan ada dari rahim yang sama, keluarga sama, dan dengan fasilitas yang sama. Namun ada yang berhasil dan ada yang tidak. Ada yang Majusi, ada XYZ, dan ada yang sujud pada Allah.
Tahun baru memang pertanda berganti tahun. Namun yang pokok, kelak ada pergantian kehidupan. Banyak yang tiup terompet. Sebanyak itu yang tak tahu terompet dipicu otak dan nafsu. Sedikit yang bermuhasabah. Sesedikit itu pula yang tahu, landasan muhasabah adalah hati dan akal.
Dalam keheningan saya merenung: “Siapa yang tak sadar kekeliruan 2016, dia tak punya masa depan di 2017. Siapa yang tak mau akui keliru kemarin, dia tak bakal punya masa depan”. (rol)

