
NUSANEWS - Mudahnya mengakses dan menyebar informasi di dunia maya, telah menciptakan prilaku tidak sehat di kalangan masyarakat. Salah satunya dialami oleh calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump.
Kasus ini terjadi sebulan lalu atau pertengahan Juni 2016. Trump mereply sebuah cuitan di akun media sosial twitter, yang berisi hasil polling keterpilihan dirinya dan calon presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton. Dalam hasil polling itu, Trump kalah telak dengan selisih hinga 5,8 persen suara atas Hillary.
Namun, Trump justru dengan percaya diri mengucapkan "Terima kasih" kepada para pendukung dan pemilihnya, disertai tagar "America First".
THANK YOU! #AmericaFirst pic.twitter.com/qp07UfnnjM— Donald J. Trump (@realDonaldTrump) June 17, 2016
Seusai kasus itu, tim kampanye sang kandidat pun harus direpotkan dengan berbagai klarifikasi ke media. Pertanyaannya adalah, kenapa hal seperti yang dialami Trump dapat terjadi?
Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Columbia University dan Institut Nasional Perancis, hanya dua dari lima orang yang membaca artikel atau melihat video di media sosial, sebelum membaginya kepada orang lain.
Sementara mayoritas lainnya atau sekitar 60 persen, akan serta-merta membagi artikel atau video tanpa pernah menyimaknya terlebih dahulu. Hal ini lah yang menurut para pengamat media sosial, terjadi pada Donald Trump. Bukan tak mungkin, kasus serupa juga terjadi pada Kamu.
"Orang lebih suka membagi sebuah artikel daripada membacanya," ujar Arnaud Legout, salah seorang dari anggota tim peneliti. Dia mengatakan, hal ini merupakan fenomena khas dari konsumsi informasi modern. Orang membentuk opini berdasarkan ringkasan, atau ringkasan ringkasan, tanpa membuat upaya untuk pergi lebih dalam. (ar)

