
NUSANEWS - Calon gubernur DKI Jakarta nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama, sempat memaparkan data tentang gini rasio di Jakarta saat debat cagub-cawagub, Jumat (13/1/2017) malam.
Basuki atau Ahok membandingkan gini rasio Jakarta dengan nasional.
"Memang kami akui gini rasio di DKI lebih tinggi daripada di nasional. Tapi kita jangan lupa tahun 2013 ketika kami pertama masuk ke DKI, perbedaan rasio di DKI dan nasional itu jauh sekali 0,43 dan 0,41. Sekarang kami sudah 0,41," ujar Ahok di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (13/1/2017).
Gini rasio merupakan indeks ketimpangan ekonomi masyarakat. Ahok menjabarkan bahwa gini rasio di Ibu Kota menurun dalam tiga tahun.
Benarkah demikian?
Kompas.com menelisik data gini rasio provinsi yang dimuat di www.bps.go.id, situs resmi Badan Pusat Statistik.
Dari data itu, pada 2013, gini rasio tingkat nasional adalah 0,41. Sementara pada 2016 menurun menjadi 0,40.
Di DKI Jakarta, gini rasio pada tahun 2013 adalah 0,43. Dan setelah tiga tahun atau pada 2016 menurun menjadi 0,41.
Jika dilihat dari angka yang disajikan dalam situs tersebut, Ahok menyampaikan isu turunnya kesenjangan ekonomi masyarakat mengacu pada data BPS.
Calon gubernur nomor urut 1, Agus Yudhoyono juga sempat menyinggung soal gini rasio.
Agus mengatakan gini rasio di Jakarta masih tinggi. Namun, dia tidak menyebutkan data.
Dia berharap programnya akan membuka lapangan kerja sehingga ketimpangan akan menurun.
"Kita tahu masalah ketimpangan gini rasio, masih cukup tinggi, dan ini harus kita selesaikan dengan cara menarik simpati dari mereka yang sudah luar biasa hidupnya kepada saudara kita yang lemah," ujar Agus. (kp)

