NUSANEWS - Aksi Bela Rakyat yang dilakukan ratusan massa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Gedung DPRD Jawa Timur berlangsung ricuh. Satu orang mahasiswa yang dianggap provokator diamankan petugas.
Insiden ini bermula saat ratusan mahasiswa se-Jawa Timur datang dan langsung memaksa masuk ke dalam gedung. Dikarenakan diadang ratusan personel polisi, aksi saling dorong tak bisa dihindari.
Seorang orator yang terus berteriak mengajak rekan-rekannya masuk. Aksi terus memanas dan massa saling dorong.
Kabag Ops Polrestabes Surabaya, AKBP Bambang Sukmo Wibowo, yang bersiaga di lokasi mengingatkan siapa pun yang menjadi provokator akan ditangkap.
"Kalian generasi muda. Masa depan kalian masih panjang. Dengar, yang jadi provokator saya tangkap. Yang ingin masuk silakan, hanya perwakilan," kata Bambang mengingatkan melalui mikrofon.
Imbauan itu tidak diindahkan, Bambang kembali berteriak. "Barang siapa menyuruh merusak gedung ini, saya akan tangkap. Tinggal saya buktikan, silakan buktikan, lihat saja," tegas Bambang yang dijawab dengan tantangan.
"Apakah gedung ini milik rakyat? Apakah ini benar kalau kita dilarang masuk ke gedung yang dibangun dengan uang rakyat, saya bukan provokator. Silakan pukul saya, tidak takut," seorang orator menjawab peringatan polisi.

Demo BEM di DPRD Jatim ricuh 2017 merdeka.com/andrian salam wiyono
Hingga seorang mahasiswa yang mengaku tidak takut dipukul, ditarik masuk melewati atas pagar setinggi 1 meter oleh sejumlah personel polisi yang berjaga. Kemudian terjadi adu pukul antara polisi dengan mahasiswa yang dianggap provokator. Muka seorang polisi dilempar dengan megaphone.
Ketegangan mulai mereda saat salah seorang mahasiswa yang mencoba menenangkan rekan-rekannya, dan bersedia menjadi perwakilan untuk masuk ke dalam gedung.
Tampak Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol M Iqbal datang memasuki lokasi aksi dan langsung ikut menenangkan aksi mahasiswa yang memprotes kebijakan Jokowi-Jusuf Kalla yang dinilai tidak pro-rakyat.
Sekadar diketahui, sebelum aksi di Gedung DPRD Jawa Timur, para mahasiswa sempat menyambangi Kantor Gubernuran di Jalan Pahlawan. Mereka ditemui Wakil Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul).
Aksi di Gubernuran oleh BEM Unair, ITS, Untag, Unmer Surabaya, Universitas Brawijaya Malang, Staida Gresik dan beberapa kampus lain se Jawa Timur ini, berlangsung kondusif.
Setelah mendengar orasi Gus Ipul, para mahasiswa bergeser ke DPRD Jawa Timur dengan longmarch. Sebelum aksi dimulai, mereka terlebih dulu menunaikan Salat Zuhur di Masjid Kemayoran, yang berada di depan Gedung DPRD.
Usai salat, mereka langsung menggeruduk gedung dan memaksa masuk dan terjadilah aksi dorong, hingga satu orang diamankan karena dianggap provokator.
Demonstrasi ini merupakan aksi protes mahasiswa atas kebijakan pemerintah yang tak pro-rakyat. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kenaikan tarif listrik, kenaikan STNK-BPKB, serta harga sejumlah bahan pokok yang kelewat tinggi, dianggap para demonstran terlalu menyengsarakan rakyat.
Sementara program Tax Amnesti, yang diberlakukan pemerintah tahun lalu, dianggap menguntungkan pengusaha besar. Dan rakyatlah yang menanggung penderitaan atas kebijakan penguasa yang tak pro rakyat tersebut.
Berikut beberapa tuntutan mahasiswa; mencabut dan mengkaji ulang PP Nomor 60/2016, merevisi kebijakan kenaikan tarif listrik, memberikan transparansi kenaikan BBM, dan menuntut kebijakan Presiden Jokowi yang pro rakyat. (mdk)


