logo
×

Kamis, 04 Mei 2017

Akui Anak Gelap, Tak Mau Gunakan Nama Soekarnoputra

Akui Anak Gelap, Tak Mau Gunakan Nama Soekarnoputra

Pada Februari 2006, barulah sang ibunda, Bendara Raden Ayu (BRA) Armi yang sudah sepuh mulai menuturkan masa lalunya. Kepada putra semata wayang, Bowo Soekrowo, 59, Armi mengaku pernah dinikahi Presiden pertama RI Ir Soekarno secara diam-diam pada akhir 1956. Kala itu, Armi bekerja sebagai staf penerima tamu di Istana Negara. Bagaimana kisahnya?

Indra Bonaparte A.R., Garut

NUSANEWSm JAKARTA - ”Setelah menikah (siri, Red), ibuku (BRA Armi, Red) tinggal di sebuah rumah di kawasan Bendungan Jago Kemayoran, Jakarta Pusat. Lalu pindah ke sebuah rumah di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara. Menurut ibuku, bapak sering bertandang ke rumah di Bendungan Jago Kemayoran maupun di Muara Angke itu. Di rumah kami di Purworejo, Jawa Tengah (Jateng) masih tersimpan foto-foto mereka. Yang saya pegang di  sini hanya sedikit,” ungkap Bowo Soekrowo, 59.

Ia melanjutkan, ketika itu sang ibunda mengandung dirinya menjelang sembilan bulan hasil pernikahan dengan Bung Karno. Ibundanya yang sedang hamil tua kala itu diberangkatkan ke Desa Bayan Kecamatan Bagelen, Purworejo, Jateng dengan diantar seorang perwira berpangkat Letnan Kolonel (Letkol) TNI Angkatan Darat (AD). ”Menurut ibu, mereka berangkat dari Muara Angke ke Bagelen Purworejo hanya bertiga, yaitu ibu, Letkol AD itu, dan sopir yang mengendarai mobil Jeep,” ungkap Bowo kembali mengenang.

Dia melanjutkan, Letkol AD yang namanya enggan disebutkan Bowo itu terus menunggui ibundanya hingga melahirkan sesuai perintah Bung Karno. ”Begitu aku lahir, kata ibuku, Letkol tentara itu hendak memungutku untuk dijadikan anak angkat. Tapi ibuku melarang karena pesan bapak (Soekarno, Red) agar aku tetap tinggal di Bagelen hingga dewasa. Menurut ibu, jati diri bapak kandungku harus dirahasiakan hingga tiba saatnya untuk disampaikan kepadaku. Selanjutnya aku diangkat anak oleh Pak Abdul Rachman,” tutur Bowo lagi.

Menurutnya, saat sang ibunda menuturkan masa lalu dan jati dirinya maupun jati diri putranya, BRA Armi juga menyodorkan akta kelahiran yang menyebutkan kalau Bowo memiliki nama asli Sukrowo Suryoatmojo dengan nama orang tua Ir Soekarno (bapak) dan BRA Armi (ibu).

Bukan hanya itu, BRA Armi juga menyodorkan surat-surat silsilah keluarga mereka yang dikeluarkan Keraton Surakarta maupun foto-foto ibundanya bersama Ir Soekarno. ”Dari surat silsilah yang dikeluarkan Keraton Surakarta (Solo, Red), aku juga baru tahu kalau ibuku dari garis keturunan Raja Brawijaya V lalu terus ke bawah, Paku Buwono I. Sementara bapak (Soekarno, Red) sama juga dari garis keturunan Raja Brawijaya V lalu terus ke bawah, Paku Buwono X, sedangkan ibunda beliau (Ida Ayu Nyoman Rai, Red) dari garis keturunan Amangkurat I. Nah, Raja Brawijaya V itu adalah raja terakhir Kerajaan Majapahit sebelum bubar setelah dihantam Kerajaan Demak. Raja Brawijaya V itu punya 107 putra dan putri yang garis keturunannya saat ini tersebar di seluruh dunia,” jelas Bowo.

Menurut dia, sang ibunda mendadak memanggilnya ke Purworejo menjelang hari ulang tahunnya yang ke-48 pada Februari 2006 lalu. Ini lantaran dia mendapat bisikan gaib agar jati diri ayah kandungnya segera dibuka sebelum ajal menjemput sang bunda. ”Ibuku bilang kalau usianya sudah semakin dekat, sudah waktunya jati diriku dibuka. Setelah aku tahu asal usulku, keesokan harinya dari Purworejo, ibuku, aku, dan isteri langsung berangkat ke makam bapak (Soekarno, Red) di Blitar. Anehnya, lagi-lagi tibanya tengah malam di sana, padahal aku nggak pernah merencanakan tiba di sana tengah malam. Juru kunci makam sepertinya juga sudah tahu kedatangan kami, karena beliau sudah menyambut kami di pelataran depan dan langsung  mengantar kami ke pusara bapak. Di sana ibu langsung berdoa begitu panjang,” urai Bowo.

Malam itu, mereka bertiga sengaja bermalam di Kota Blitar. ”Tengah malam itu, ibu banyak  memberiku wejangan. Salah satunya, ibu mengatakan kalau aku ini adalah salah satu lembu peteng (anak gelap, Red) Soekarno yang berwatak sangat keras. Kata ibu, silakan aku menyamai kepintaran dan kecerdasan bapak, tapi jangan sekali-sekali menyamai ilmunya bapak yang satu itu. Dan aku berjanji  untuk menepatinya. Aku mengerti maksud ibu, ilmu yang satu itu pasti soal perempuan,” ujarnya.

”Dan satu lagi yang kuingat wejangan turun temurun mulai dari kakek dari ibu, jangan pernah berlaku mencintai hal yang duniawi, tapi kejarlah ilmu kesempurnaan hidup yang merupakan ilmu warisannya Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ishaq AS lalu diteruskan hingga kepada Prabu Aji Saka di Tanah Jawa ini,” urai Bowo.

Dari Blitar mereka kembali ke Purworejo, beberapa bulan kemudian BRA Armi berpulang ke Rahmatullah alias meninggal dunia. ”Saya suka sedih kalau mengenang itu. Apalagi saya terlahir sebagai lembu peteng, tapi bagaimanapun juga saya tetap bangga sebagai anak seorang Proklamator bernama Soekarno,” ujar Bowo.

Uniknya, ketika jati diri sesungguhnya sudah dibeberkan sang ibunda, mulailah orang-orang dari segala lapisan dan profesi berdatangan mencari hingga ke rumahnya. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia, mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, bahkan Sulawesi, dan Kalimantan. ”Mereka yang  ke sini ini nggak langsung ke sini. Lha wong mereka nggak pernah tahu alamatku. Mereka bisa berhari-hari, bahkan ada yang berminggu-minggu di Kota Garut ini untuk mencariku, kemudian baru berhasil menemukan kediamanku. Anehnya mereka mencariku setelah menerima mimpi. Nggak masuk akal memang, tapi kenyataannya demikian. Setelah bertemu denganku, mereka memberiku berbagai cenderamata seperti benda-benda pusaka. Tapi aku sangat yakin, kalau mereka yang sudah datang ke sini dan bertemu denganku karena mereka memang berdarah nasionalis sejati, dan bukan hamba uang!” tegasnya.      

Lantas apakah setelah itu mulai menjalin komunikasi dengan putra-putri Soekarno? Bowo mengaku hingga saat ini belum membuka komunikasi dengan mereka. ”Selain putra putri dari Bu Fatmawati, Bu Hartini, Bu Dewi dan Bu Haryati. Cukup banyak yang mengaku sebagai putranya bapak (Soekarno, Red). Aku sangat tahu itu. Dan memang harus diakui kalau memang banyak lembu peteng-nya bapak, termasuk aku ini. Dan aku pun nggak akan menyodorkan diri, apalagi minta diakui sebagai anggota keluarga besar yang resmi dari Soekarno. Aku pun nggak akan menggunakan nama Soekarnoputra di belakang namaku. Bagiku nggak penting lagi hal seperti itu. Lha wong diwawancarai kayak begini saja, seumur-umur baru sekarang ini maunya sama kamu ini (INDOPOS, Red),” jelas Bowo serius.

Namun Bowo mengaku pernah berkomunikasi dengan putra dan putri Soekarno yang juga hasil dari pernikahan gelap Soekarno. Mereka adalah  GRAY Elisabeth Anjaini Soekarnoputri dan Satrio Wibowo. ”Selama ini aku baru menjalin komunikasi dengan putri bapak (Bung Karno, Red) yang lama tinggal di Belanda lalu tinggal di Bandung, namanya GRAY Elisabeth Anjaini Soekarnoputri. Bahkan Anjaini ini pernah datang  ke rumah ini dan bermalam di sini. Banyak sekali yang kami bahas tentang kondisi negara ini waktu  itu. Lalu ada juga putra bapak yang bernama Satrio Wibowo yang setahu saya tinggalnya di Kota Bogor, Jawa Barat.  Kami pernah bertemu di Bogor. Baik Anjaini maupun Satria Wibowo itu masih putra bapak dari trah Keraton Surakarta,” jelasnya.

Di akhir wawancara, Bowo sangat sadar dan yakin kalau negara ini menyimpan kekayaan alam yang luar biasa dahsyatnya. Sayangnya kekayaan alam ini sudah terlalu lama dikuras untuk kepentingan asing, dan belum ada cara untuk menghentikannya. Hal tersebut bisa terjadi lantaran berbagai amandemen terhadap UUD 1945, ditambah berbagai undang-undang yang dibuat namun terlalu  menguntungkan kepentingan asing.

”Meski sudah dieksplorasi puluhan tahun oleh asing, tapi aku tetap yakin kalau kekayaan bumi dan laut negara ini masih begitu melimpah ruah dan begitu dasyat banyaknya. Yang aku sesalkan kenapa negara ini yang sudah merdeka 72 tahun, tapi sebagian besar bangsa ini masih hidup miskin, bahkan hidupnya masih sangat miskin. Belasan juta orang sama sekali tak punya tanah, tapi hanya segelintir orang di negara ini yang punya tanah berjuta-juta hektare,” ujarnya.

”Puluhan juta anak-anak negeri ini setiap Senin dalam upacara bendera menyanyikan lagu Indonesia Raya yang menyebutkan kata-kata Indonesia Tanah Airku. Tapi sebagian besar dari mereka hidup di rumah-rumah kontrakan karena nggak punya tanah. Artinya bangsa ini belum berhasil melintasi jembatan emas kemerdekaan. Tapi aku yakin kondisi memprihatinkan ini akan segera berakhir, tinggal kita semua tetap berdoa dan berikhtiar untuk mengakhirinya,” pungkas Bowo lalu tersenyum penuh makna.

Politikus, Permadi mengaku Bung Karno memang mempunyai puluhan putra dan putri tidak resmi alias gelap. Alasannya, karena memang Ir Soekarno banyak mencintai dan dicintai kaum hawa. ”Bung Karno itu punya bibit unggul dan canggih serta topcer dalam olah asmara. Bagaimana tidak, satu kali bersenggama dengan wanita bisa langsung mengandung dan melahirkan anak. Jadi faktanya memang Bung Karno itu punya puluhan anak di luar yang resmi atau yang sudah dipublikasikan itu,” tutur tokoh nasionalis  yang bergaul akrab dengan putra-putri Bung Karno dari Ny Fatmawati, Ny Hartini maupun Ny Ratna Sari Dewi itu kepada INDOPOS.

Dilanjutkan Permadi, hingga saat ini anak-anak gelap Soekarno yang diketahuinya antara lain Ny Kartini Manoppo yang melahirkan Totok Suryawan;  Ny Jetje Langelo yang melahirkan Gempar Fatahillah Soekarnoputra, lalu GRAY Elisabeth Anjaini Soekarnoputri, serta Satrio Wibowo. Mereka di luar Megawati Cs yang terdiri dari Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra dari Ibu Fatmawati. Lalu dua putra dari Ny Hartini bernama Taufan Soekarnoputra (alm) dan Bayu Soekarnoputra, dan satu putri bernama Kartika Sari Dewi dari Ny Ratna Sari Dewi.

”Totok Suryawan itu tidak mirip sama sekali. Gempar Fatahillah itu sangat mirip, lalu GRAY  Elisabeth Anjaini Soekarnoputri sangat mirip. Anjaini ini perempuan, tapi sifatnya seperti laki-laki dengan gaya bicaranya yang ketus. Bahkan Anjaini ini menunjukkan kepada saya hasil test DNA dari rumah sakit di Swiss yang menunjukkan kalau DNA Anjaini identik dengan DNA Bung Karno. Selain itu, Anjaini juga menunjukkan kepada saya surat pernyataan Bung Karno lengkap dengan tanda tangan beliau dengan tinta hijau sebagai ciri khasnya yang menyebutkan kalau Anjaini adalah putri kandungnya. Anjaini juga menunjukkan kepada saya foto-foto dirinya saat berusia dua tahun sedang digendong bapaknya (Bung Karno, Red). Sedangkan Satrio (Wibowo, Red) itu juga mirip sekali dengan Bung Karno. Selain mereka tentu masih banyak lagi putra putri Bung karno. Di Pulau Bali saja ada beberapa putra putri Bung Karno,”  urai Permadi panjang lebar.

Terkait pengakuan Bowo Sukrowo, Permadi mengaku belum bisa memastikan apakah Bowo itu memang putra kandung Bung Karno atau tidak. Sebab dirinya memang belum pernah bertemu langsung Bowo. ”Gampang saja mas untuk mengetahui beliau itu putra kandungnya Bung karno atau tidak? Berapa persen kemiripannya dengan Bung Karno? Semakin mirip dia, maka semakin mungkin dia memang putranya Bung Karno. Apalagi kalau ditambah adanya bukti otentik seperti akta kelahiran, surat-surat silsilah yang diterbitkan lembaga resmi seperti Keraton Surakarta. Tapi yang jelas untuk memastikannya saya mesti ketemu beliau dulu,” pungkas Permadi.  

Sementara itu, Sukmawati Soekarnoputri yang merupakan putri kandung Bung Karno dari Ny Fatmawati saat tanyakan terkait pengakuan Bowo Soekrowo, serta ditunjukkan foto-foto Bowo membantah dengan tegas. ”Bohong itu!” tegasnya yang belakangan dikenal cukup akrab dengan Kartika Sari Dewi maupun Totok Suryawan kepada INDOPOS.