logo
×

Sabtu, 31 Maret 2018

Berang, PDIP Dan Nasdem Minta Fadli Zon Pindah Ke Rusia Saja

Berang, PDIP Dan Nasdem Minta Fadli Zon Pindah Ke Rusia Saja

NUSANEWS - Waketum Gerindra Fadli Zon menginginkan Indonesia mempunyai pemimpin seperti Vladimir Putin. Sosok positif Putin, seperti berani, visioner, dan cerdas sangat dibutuhkan saat ini. Keberhasilan Putin membawa kebangkitan Rusia, disebut Fadli, sangat menginspirasi.

“Klu ingin bangkit n jaya, RI butuh pemimpin spt Vladimir Putin: berani, visioner, cerdas, berwibawa, nggak byk ngutang, nggak planga plongo,” cuit Fadli di akun pribadinya  @fadlizon, Jumat (30/3/2018).

Menanggapai kicauan Fadli Zon di twitter itu, rame-rame Partai pendukung Jokowi pun berang dan protes akan nyiyiran padli Zon tersebut. PDI Perjuanag minta Padli Zon agar pindah ke Rusia Saja.

“FZ pindah ke Rusia saja,” kata Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira kepada wartawan, Jumat (30/3/2018).

Andreas mempertanyakan pernyataan Fadli Zon. Karena itu, PDIP menegaskan tetap mendukung penuh Joko Widodo, terutama pada pemilihan presiden dan wakil presiden pada pertengahan April 2019 mendatang.

“Ada gitu yang seperti Putin di Indonesia? Kita punya Jokowi,” ujarnya.

Senada dengan PDIP, Sekjen Partai NasDem Johnny G Plate menyatakan, Jika Fadli ‘butuh’ Putin, Johnny punya satu saran. Fadli sebaiknya pindah negara saja.

“Kalau ingin seperti Putin, pindah saja ke Rusia,” ujar Jhonny di Jakarta, Jumat (30/3/2018).

“Indonesia kepemimpinan kultur nusantara, kultur membangun perekonomian kita dengan cara gotong royong, relasi internasional dengan pendekatan soft power, pendekatan-pendekatan nonmiliter. Yang halus, bukan kasar,” tambahnya.

Sementara, wasekjen DPP Partai Hanura Tridianto mengatakan tidak masalah kalau Fadli Zon kagum sama presiden Rusia Vladimir Putin dan ingin ada pemimpin Indonesia seperti Putin.

“Ya itu rapopo (tidak ada masalah). Biasa saja dan boleh-boleh saja,” kata Tridianto kepada pers di Jakarta, Sabtu (31/3/2018).

Tapi kalau kemudian kesannya sambil menghina Jokowi plonga-plongo, menurut Tridianto maka itu jelas tidak sopan dan tidak beradab.

“Mengkritik dalam demokrasi itu biasa dan oke-oke saja. Tapi mengkritik itu beda banget dengan menghina,” kata dia.

SUMBER
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: