logo
×

Selasa, 27 Maret 2018

Gila, Harga Bawang Putih Nyaris Tembus Rp 50.000 Per Kg

Gila, Harga Bawang Putih Nyaris Tembus Rp 50.000 Per Kg

NUSANEWS - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyayangkan merangkaknya harga bawang putih. "Harusnya tidak ada kenaikan karena kita impor se­suai kebutuhan bukan keinginan. Jadi tidak ada alasan harga naik," kata Amran di Auditorium Ke­menterian Pertanian (Kementan), Jakarta, kemarin.

Amran mengimbau semua stakeholder, termasuk pengusaha bawang putih agar menciptakan stabilitas harga. Apalagi, izin impor sudah dikeluarkan.

"Mari kita saling pengertian dan jangan dibuat gaduh. Kami imbau para pengusaha bawang putih agar menyejukkan situasi," serunya.

Selain bawang putih, Amran juga mengingatkan pedagang daging tidak menaikkan harga menjelang bulan suci Rama­dan. Karena, pemerintah juga melakukan impor untuk komodi­tas tersebut.

Amran menginstruksikan ja­jarannya di Kementan untuk bekerja keras, melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah. "Banyak masyarakat mengeluhkan harga kebutuhan pokok 10 tahun lalu lebih murah. Saya ingin bulan puasa harga pangan lebih stabil dari 2017," katanya.

Seperti diketahui, harga bawang putih sejak awal tahun harganya tinggi dan terus mengalami kenaikan dikit demi sedikit.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri mengungkapkan, sam­pai dengan saat ini belum ada penurunan harga. "Sekarang malah sudah mendekati Rp 50 ribu per kg dari harga normal­nya sebesar Rp 25 ribu per kg," katanya.

Dia menuturkan, merang­kaknya harga bawah putih karena stok kosong di pasaran. Bawang putih impor belum masuk.

"Pemerintah bilang sudah impor. Tetapi belum ada yang masuk ke pasar. Mungkin barangnya masih di pelabuhan," kata Mansuri.

Mansuri mengaku kecewa dengan tingginya harga bawang putih. Karena, bawang putih mayoritas berasal dari impor. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan, di balik tingginya harga bawang putih ada permainan. "Kenaikan harga kan selama ini disebabkan hanya dua. Masalah distribusi dan ada pedagang besar yang nakal," cetusnya.

Mansuri meminta, Kementan dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) membentuk tim khusus mengawasi distribusi pangan impor. "Produk impor kok melonjak. Ini karena kon­trolnya kurang serius," pung­kasnya.

Cek Daging Brazil 

Tim Kementan berencana akan mengecek sapi di rumah potong hewan (RPH) di Brasil. Hal ini dilakukan menyusul rencana Kemendag mengimpor daging sapi beku dari negeri samba tersebut.

"Tim sudah dibuat sudah diusul ke Sekjen, jadi kita be­rangkat ke sana harus atas izin Setneg," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan He­wan, I Ketut Diarmita.

Ketut menjelaskan rencana impor ini dilakukan sebagai upaya menurunkan harga daging menjelang Ramadan. Pemerintah akan mengintervensi pasar saat harga daging tinggi jelang mau­pun saat Ramadan. Menurutnya, Presiden Jokowi inginkan harga daging Rp 80 ribu per kg.

"Jadi impor untuk menekan harga sekaligus memenuhi kebutuhan bulan puasa," terang­nya.

Ketut belum bisa memastikan jumlah daging sapi Brasil yang bakal diimpor. Namun dia me­mastikan pasokan daging sapi hingga Lebaran aman karena ada surplus sebanyak 11 ribu ton.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Direktorat Pe­ternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Syamsul Ma'arif menyebutkan saat ini telah ada 8 RPH di Brasil yang telah me­nawarkan diri untuk memasok daging ke Indonesia.

"Baru masuk delapan (pro­posal dari RPH). Nanti kita review apakah memenuhi syarat semuanya atau tidak," pungkas­nya.

SUMBER
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: