
NUSANEWS - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono membuat sebuah cuitan di Twitter @SBYudhoyono pada Senin (18/6/2018).
Isi cuitan tersebut kemudian menjadi sorotan dan banyak mendapat berbagai tanggapan.
Dalam tweet-nya, SBY menyinggung soal penguasa yang melampaui batas.
Presiden Indonesia keenam itu menilai bahwa hal tersebut mencederai keadilan dan akal sehat.
Bahkan, dalam tulisannya, SBY sampai membawa-bawa nama Tuhan.
Berikut selengkapnya:
Saya perhatikan, banyak penguasa yang lampaui batas sehingga cederai keadilan dan akal sehat. Mungkin rakyat tak berdaya, tapi apa tidak takut kpd Tuhan, Allah SWT ? *SBY*
Saya perhatikan, banyak penguasa yang lampaui batas sehingga cederai keadilan dan akal sehat. Mungkin rakyat tak berdaya, tapi apa tidak takut kpd Tuhan, Allah SWT ? *SBY*— S. B. Yudhoyono (@SBYudhoyono) 18 Juni 2018
Hingga artikel ini diterbitkan, tweet SBY di atas sudah di-retweet 3269 kali dan mendapat 2 ribu komentar.
Tanggapan pun beragam. Ada yang setuju, ada pula yang sebaliknya.
Dewan Pakar DPN PKPI, Teddy Gusnaidi lewat Twitter-nya mengatakan bahwa SBY semakin tua semakin bijak. Kendati demikian, Teddy juga melemparkan sindiran untuk mantan presiden Indonesia itu.
"Pak @SBYudhoyono semakin tua semakin bijak. Tidak lagi menuding sana-sini, tapi mulai mengingatkan dirinya yang pernah berkuasa selama 10 tahun, untuk bisa dijadikan pelajaran bagi penguasa setelah dirinya.
Jarang loh, orang yang mau mengkritisi diri sendiri.
Kalau @prabowo mengkritik kebijakan Presiden, itu wajar karena Prabowo belum pernah jadi Presiden, gak bisa dibandingkan.
Tapi kalau @SBYudhoyono, sama saja mempermalukan dirinya, karena FAKTANYA, Jokowi memperbaiki kerusakan zaman SBY dan semua kebijakan Jokowi melebihi SBY.
Beda gue dengan @SBYudhoyono adalah, Gue menyampaikan analisa berdasarkan data, fakta dan tidak main klaim mewakili rakyat. Kalau SBY, menyampaikan perasaannya berdasarkan katanya-katanya dan selalu klaim atas nama rakyat.
Butuh konsultan?" tulisnya.
Selain Teddy, Ketua Progres 98 Faizal Assegaf mengomentari tweet SBY.
Menurut Faizal Assegaf, di era SBY banyak kader demokrat yang terlibat KKN sehingga menjadi kebal hukum.
Sementara di era Jokowi, rakyat bebas mengkoreksi tanpa adanya intimidasi semena-mena.
Ia menambahkan jika cuitan SBY itu memberikan bukti bahwa SBY iri dengan prestasi Jokowi.
"Justru di era kekuasan JKW, rakyat sangat perkasa hingga bebas mengoreksi kekuasan tanpa adanya intimidasi scr semena-mena.
Sebaliknya di era SBY, kekuasaan terbukti melampui batas, akibatnya banyak kader Demokrat trlibat KKN & aktor utama skandal Century jd kebal hukum.
Pernyataan Pak @SBYudhoyono tsb, terbukti galau, bahasa tegas saya: Culas!
Sebab terkesan begitu iri & tidak fair atas prestasi luar biasa dari @jokowi yg berhasil dgn aneka terobosan pembangunan.
Sementara 10 thn SBY, rakyat dibuat tdk berdaya dgn politik licik & koruptif!
Kalau rakyat mengoreksi arogansi @SBYudhoyono lantas dituding menjilat JKW utk target mengais jabatan. Maka kami persilakan SBY direkrut jd Komisaris.
Dengan demikian SBY mungkin akan berhenti menghasut rakyat untuk membenci presiden @Jokowi. Monggo pak!," tulis Faizal Assegaf.
![]() |
| Balasan Faizal Assegaf () |
Untuk Siapa Tweet SBY?
Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan mengatakan bahwa tweet SBY soal pemimpin melampaui batas ditujukan untuk pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.
Ia mengatakan, cuitan tersebut berkaitan dengan pengangkatnya Komjen (pol) Iriawan adi Pj Gubernur Jawa Barat.
"Iya, cuitan itu bisa saja kita kaitkan dengan peristiwa pelantikan Iriawan menjadi Pj Gubernur Jawa Barat. Karena bagi kami, itu melanggar aturan ya," ujar Syarief kepada Kompas.com.
Menurut Syarif, bagi Partai Demokrat, Pj Gubernur Jabar seharusnya dipegang oleh pejabat Kemendagri. Bukan perwira Polri aktif di luar kementerian itu.
Sementara itu, saat ditanya soal perwira tinggi Polri yang jadi Pj Gubernur di beberapa Pilkada lalu, Syarif punya alasannya.
"Itu kasusnya berbeda. Waktu itu, perwira Polri tersebut sudah beralih fungsi dan tugasnya jadi pejabat di Kemendagri. Kalau itu enggak apa-apa, bukan dari luar," ujarnya.
SUMBER


