logo
×

Jumat, 01 Juni 2018

Unjani Bongkar Praktik 'Kotor' Percaloan di Fakultas Kedokteran

Unjani Bongkar Praktik 'Kotor' Percaloan di Fakultas Kedokteran

NUSANEWS - Praktik percaloan yang bertujuan meloloskan calon mahasiswa masuk ke Fakultas Kedokteran terjadi di Universitas Jendral Ahmad Yani (Unjani).

Namun pihak kampus mengklaim telah berhasil mengungkap praktik 'kotor' tersebut.

Praktik percaloan tersebut terjadi pada 6 Mei 2018.

Ketika itu, Unjani melaksanakan seleksi untuk calon mahasiswa kedokteran yang berlangsung di fakultas kedokteran ruang 5, 6, dan ruang 12.

Kemudian ketika seleksi di ketiga ruang tersebut berlangsung, pengawas berhasil menangkap empat pelaku, satu diantaranya mahasiswa Unjani.

Sekretaris Rektor Unjani, Brigjen TNI Dedi Hernadi, mengatakan, mahasiswa tersebut yang pertama yakni E yang membawa kamera capture berbentuk alat tulis, namun setelah diselidiki E merupakan mahasiswa Unjani fakultas yang lain semester dua.

"Kemudian kami menangkap inisial S, R dan F karena pengawas mendengar getaran suara. Ternyata setelah diperiksa ada headset dan handphone untuk digunakan di ruang seleksi," ujar Dedi di Kampus Unjani, Kamis (31/5/2018).

Kemudian dari hasil pengembangan mereka ternyata memiliki teman yang lain yang saat seleksi tidak tertangkap yakni A, N, S, W dan SB, mereka semua merupakan jaringan para calo.

Otak dari percaloan tersebut yakni R warga Cililin, Kabupaten Bandung Barat, yang merupakan ibu kandung dari S yang tertangkap membawa headset dan ponsel.

"Selain itu ada bosnya yakni B dan H dan kami juga menangkap T yang berperan menjadi koordinator lapangan atau yang mengawasi dilapangan," katanya.

Modus operandi pelaku dalam mencari korban yakni ketika calon mahasiswa melakukan registrasi dengan berpura-pura menghubungi orang tua korban dengan mengaku bisa membantu untuk meluluskan masuk fakultas kedokteran Unjani.

"Upah yang ditawarkan dari kelompok ini berkisar antara Rp 200 hingga 250 juta, apabila penawaran awal ini orang tua setuju biasanya langsung diadakan pertemuan," katanya.

Setelah deal, lanjut dia, pelaku mengajarkan menggunakan sebuah alat seperti earphone yang digunakan ketika masuk ruang ujian, lalu alat tersebut dipasang setelah pemeriksaan, kemudian ponsel dihidupkan.

"Menurut mereka, selama 30 menit jawaban belum dikirim karena soal dalam proses pengiriman. Soalnya dikirim dengan cara mengcapture oleh E yang tugasnya memfoto soal," katanya.

Kemudian soal di kirim ke kelompoknya untuk dikerjakan, lalu setelah 30 menit atau sekitar satu jam jawabannya dikirimkan melalui alat semacam headset.

Rektor Unjani, Mayjen TNI Witjaksono, menambahkan semua pelaku yang terlibat praktek percaloan tersebut telah diamankan di Polres Cimahi.

"Sedangkan untuk mahasiswa yang terlibat dalam praktek percaloan tersebut, pihak kampus memastikan akan mengeluarkannya karena kami memiliki kode etik," kata Witjacksono.

Sedangkan untuk calon mahasiswa yang mengikuti seleksi dengan menerima praktik percaloan tersebut, lanjutnya, pihak kampus pun tidak meloloskannya.

Menurutnya, Fakultas Kedokteran merupakan fakultas yang paling banyak diminati, dalam setahun saja calon mahasiswa yang mendaftar sebanyak 2.500 sedangkan yang diterima hanya 150 mahasiswa.

"Jadi karena adanya persaingan yang sangat ketat itu ada yang memanfaatkan kesempatan untuk melakukan pelanggaran (percaloan)," katanya.

SUMBER
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: