logo
×

Minggu, 05 Agustus 2018

Jokowi, Novel Baswedan dan Sayembara Sepeda: "Tuan Presiden Janjinya Mana?"

Jokowi, Novel Baswedan dan Sayembara Sepeda: "Tuan Presiden Janjinya Mana?"

NUSANEWS - “Sekarang coba maju yang ingin (sepeda) maju,” ujar Presiden Joko Widodo saat menggelar kuis. Ya mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut memang dalam beberapa kali kesempatan kerap memberikan kuis, yang berisi pertanyaan dari seputar wawasan kebangsaan hingga pertanyaan lain di beberapa kali kegiatan kenegaraan di Istana maupun kunjungannya ke daerah-daerah..

Bagi siapa yang bisa menjawab pertanyaan Jokowi, nantinya akan mendapat hadiah berupa sepeda langsung dari Presiden RI ke-7 ini.

Kuis ini pernah menjadi sangat populer bahkan masuk dalam tranding topic Twiiter kala bocah kelas III SD bernama Aripan ‘kepleset’ lidah saat menjawab pertanyaan Jokowi soal nama-nama ikan.

“Negara kita Indonesia, lautnya luas. Dua pertiga Indonesia adalah laut, samudera. Di laut ini kan banyak ikan, sebutkan empat saja nama ikan.” kata Jokowi

Peristiwa ini terjadi saat pembukaan gelaran Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) Tahun 2017 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (26/1/2017).

Jokowi mempunyai filosofi tersendiri mengenai keputusannya membagi-bagikan sepeda tiap kali melakukan kunjungan. Pada akun facebook-nya Jokowi menjelaskan kalau bersepeda merupakan cerminan dari kemandirian dan kerja keras.

“Bersepeda itu mandiri dan bekerja keras. Kemajuan, kelajuan, juga kecepatan dihasilkan dari usaha sendiri, gerak tubuh sendiri, tanpa mesin atau dorongan tenaga orang lain. Seberapa cepat kita ingin sampai ke tujuan tergantung seberapa keras kita mengayuh,” ungkap Jokowi.

Ia menambahkan, bersepeda merupakan wujud dari kebersamaan, yang didalamnya terdapat koordinasi dan pembagian fungsi dari berbagai anggota tubuh.

“Dengan mengayuh sepeda seluruh anggota badan bergerak dalam harmoni. Dua tungkai kaki mengayuh pedal seirama, mata memandang awas ke depan, tangan menggenggam kemudi seraya jari waspada menarik tuas rem,” jelasnya.

Hal itu sebagian filosofi yang dijelaskan kader PDI-P tersebut sebagai alasan untuk membagikan sepeda. Namun kuis sepeda kini beralih menjadi sayembara. Jika dulu Jokowi dijadikan Subjek kini berubah menjadi Objek.

Tuan Presiden Janjinya Mana?

Adalah wadah pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mengubah kuis Sepeda ala Jokowi dengan Sayembara Sepeda sebagai titik kritik dari jalan ditempatnya kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

Wadah Pegawai KPK ini ‘meniru’ langkah Jokowi dalam membagi-bagikan sepeda. Namu letak perbedaannya terdapat pada jawaban. Bukan jawaban ‘Ikan Tongkol’ yang mereka tunggu, tapi Sepeda jenis BMX akan diberikan kepada masyarakat umum kalau berhasil menjawab siapa pelaku penyiraman air keras ke Noval Baswedan.

“Sepeda ini akan terus ada di depan lobi KPK sampai pelakunya ditemukan,” ujar Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo di Gedung KPK Jakarta, Jumat (27/7).

Sayembara sepeda ini dijadikan simbol bentuk dukungan dari wadah pegawai KPK agar ada kinerja serius dari lembaga penegak hukum, dalam hal ini Kepolisian untuk mengungkap kasus Novel.

“Kami tidak akan pernah berhenti untuk mendukung pengungkapan kasus Bang Novel, bahkan sampai 2019, 2020, dan seterusnya,” kata Yudi

Sayembara ini sekaligus bentuk kekecewaan para pegawai KPK terhadap lambatnya pengungkapan pelaku penyerangan. Pegawai KPK menuntut Presiden Joko Widodo mendorong kepolisian segera mengungkap pelaku penyerangan.

“Tuan Presiden Janjinya Mana?,” menjadi simbol lain dan terpampang jelas dalam sebuah poster besar tepat didepan pintu keluar gedung KPK.

Novel sendiri pernah menagih hal serupa kepada Presiden Jokowi. Bahkan ia mengingatkan kepada mantan Wali Kota Solo tersebut kalau masa Pilpres 2019 sebentar lagi akan tiba. Yang artinya ia berharap Jokowi mau memberesken kasus tersebut sebelum masa jabatan satu periodenya selesai tahun depan.

“Saya harap Bapak Presiden, Pak Jokowi punya kesempatan untuk realisasikan janjinya untuk ungkap ini. Tentunya ungkap dengan tidak setengah-setengah, tapi tuntas,” kata Novel di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Selasa (17/7).

Terlebih pada Rabu (1/8) bertepatan dengan momen genap satu tahun Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkicau di akun Twitter yang menginstruksikan Polri segera menuntaskan kasus teror tersebut.

Pada 1 Agustus 2017, Presiden Jokowi dalam akun resmi Twitternya menulis, “Kasus yang menimpa Pak Novel Baswedan harus segera dituntaskan. Pengusutannya terus mengalami kemajuan -Jkw”.

“Harapan saya, Presiden Jokowi masih tetap ingat pada tulisan itu (di Twitter). Mengambil langkah agar peristiwa yang sepertinya sengaja tidak diungkap ini bisa terungkap,” ujar Novel kepada wartawan, di kantor KPK, Jakarta, Kamis (2/8).

Novel pun merasa khawatir dengan keberadaan pihak tertentu yang dapat menggoyahkan Jokowi menyelesaikan kasus. Bisa disebabkan adanya jasa atau pun peranan orang tersebut sehingga membuat orang nomor satu di Indonesia itu enggan dan bahkan tidak berani mengungkap kasus penyerangan terhadap Novel.

“Saya kira kalau sudah gitu, kita mau berharap ke siapa lagi?,” kata dia.

16 Bulan Kasus Novel Gelap Gulita

“16 Bulan Kasus Novel Gelap Gulita” menjadi penyambut bagi siapapun yang ingin memasuki area gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), di Kuningan, Jakarta. Poster ini terpasang tepat dipintu keluar kendaraan yang juga sebagai akses masuk ke gedung KPK bagi para pejalan kaki.

Poster dengan latar belakang hitam dan tulisan berwarna merah ini juga menyuguhkan foto Novel Baswedan hingga kata-kata “Tuan Presiden Janjinya Mana”. Selain sayembara Sepeda, poster besar ini sengaja dipasang oleh wadah pegawai KPK sebagai simbol tagih janji kepada Presiden Jokowi untuk menuntaskan kasus yang sudah 16 bulan belum ada satu pun terduga pelaku yang dijadikan tersangka.

Segalanya bermula Selasa 11 April 2017. Saat itu Novel baru saja menyelesaikan sholat subuh berjamaah di Masjid Al Ikhsan, di Jalan Deposito RT 03/10, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa 11 April 2017.

Saat hendak perjalanan pulang, tiba-tiba saja terdapat dua orang laki-laki berboncengan sepeda motor menyiramkan air keras ke arah wajah Novel. Akibat siraman cairan korosif itu, mata kiri Novel mengalami kerusakan sampai 95 persen.

Pada saat itu, Novel sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading sebelum dirawat di RS Jakarta Eye Center sebelum pada akhirnya tepat 12 April 2017 Dokter merujuk agar Novel mendapatkan perawatan mata di Singapura. Sejak saat itu, Novel terus berada di Singapura untuk menerima pengobatan.
15 April 2017

Dalam masa perawatan itu, Novel sempat diwawancara oleh salah satu media. Ketika itu mengungkapkan fakta yang mengejutkan kalau serangan terjadi berkaitan dengan sejumlah kasus korupsi yang dia tangani.

Selain itu yang lebih menghebohkan yakni, ia menyebut adanya seseorang yang kuat bahkan seorang jenderal polisi turut punya andil dalam penyerangan dirinya.

“Saya memang mendapat informasi bahwa seorang jenderal polisi terlibat,” kata Novel.

29 Juni 2017.

Ketika itu, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian merilis sketsa wajah dari dua teduga pelaku penyerangan Novel Baswedan. Menurut Tito, sketsa wajah tersebut dapat dibuat berdasarkan keterangan saksi yang melihat para pelaku sebelum aksi penyerangan terjadi.

Selain itu Tito menginformasikan tentang ciri-ciri pelaku, yakni berjenis kelamin laki-laki berusia sekitar 35 tahun dengan tinggi badan kurang lebih 167 cm. Memiliki bentuk wajah yang bulat dan kulitnya yang berwarna sawo matang.

31 Juli 2017.

Presiden Joko Widodo memanggil Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian untuk meminta penjelasan terkait perkembangan kasus penyerangan Novel Baswedan.
Jokowi belum memutuskan untuk membentuk tim pencari fakta karena masih memercayai kinerja kepolisian yang bekerja sama dengan KPK dalam menangani kasus ini.

1 Agustus 2017

Presiden Jokowi dalam akun resmi Twitternya menulis, “Kasus yang menimpa Pak Novel Baswedan harus segera dituntaskan. Pengusutannya terus mengalami kemajuan -Jkw”.

14 Agustus 2017.

Novel menjalani pemeriksaan perdana aparat Kepolisian di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura. Saat itu, Novel menolak mengungkapkan kepada penyidik Kepolisian siapa jenderal polisi yang ia tuduh terlibat dalam penyerangan dirinya. Novel saat itu beralasan hanya membuka nama sang jenderal kepada suatu tim gabungan pencari fakta.

21 Agustus 2017.

Direktur Penyidikan KPK Brigjen Polisi Aris Budiman Melaporkan Novel Baswedan ke Polda Metro Jaya. Alasanya, Arif mengaku terhina dengan pernyataan Novel Baswedan dalam surat elektronik atau email yang dikirimkan Novel.

“Dia (Aris) merasa nama baiknya tercemar,” ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono, saat dikonfirmasi, Kamis, 31 Agustus 2017.

Argo ketika itu menjelaskan bahwa Arus Budiman sebelumnya pada 13 Agustus melapor secara tertulis. Barulah pada 21 Agustus mendatangi Polda Metro untuk membuat laporan.

31 Agustus 2017

Novel Baswedan dijadikan tersangka atas laporan Dirdik KPK, Brigjen Pol Aris Budiman. Novel dianggap melanggar Pasal 27 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“SPDP sudah dikirim ke jaksa, pelapor, dan terlapor,” ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono, 31 Agustus 2017.

Aris mengaku bersitegang dengan Novel mengenai aturan perekrutan penyidik dari kepolisian. Pada Februari 2017, Novel disebut mengirim surat elektronik yang berisi keberatannya atas mekanisme pengangkatan penyidik dari Polri yang dianggapnya tidak sesuai dengan aturan internal KPK. Surat elektronik itu menyebut-nyebut nama Aris, hingga membuatnya tersinggung dan melaporkannya ke Polda Metro Jaya.

“Pada 14 Februari 2017, ada e-mail yang menyerang secara personal. Tentu saya marah, tersinggung, terhina. Tidak berintegritas,” ujar Aris saat rapat panitia angket KPK di gedung DPR

20 Februari 2018

Presiden Joko Widodo kembali berjanji untuk menuntaskan kasus Novel. Bedanya, Jokowi kini berjanji untuk mengejar janji Kapolri.  “Saya akan terus kejar di Kapolri agar kasus ini menjadi jelas dan tuntas. Akan kita kejar terus Polri,” kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta,Selasa (20/2).

Pada kesempatan ini Jokowi pun memberikan janji lain yakni adanya langkah lain apabila kepolisian sudah tak mampu menyelesaikan kasus ini. Namun ia enggan menyebut apa langkah lain yang akan ditempuh tersebut.

22 Februari 2018.

Novel kembali menginjakkan kaki di Tanah Air. Novel bahkan sempat berkunjung ke Gedung KPK. Saat itu, berbagai kalangan mulai dari pegawai KPK hingga aktivis datang untuk menyambut Novel.

8 Maret 2018

Komnas HAM membentuk tim untuk memantau proses penyelidikan kasus penyiraman air keras terhadap Novel sejak 8 Maret 2018. Komnas HAM membentuk tim ini karena menilai penyelidikan kasus tersebut di kepolisian terlalu lama.

“Berdasarkan keputusan sidang Paripurna Komnas HAM Nomor 02/SP/II/2018 tanggal 6 dan 7 Februari 2018, telah disepakati pembentukan Tim Bentukan Sidang Paripurna terkait kasus Novel Baswedan,” ujar Ketua Tim Pemantauan Kasus Novel, Sandrayati Moniaga, dalam jumpa pers di kantor Komnas HAM, Jakarta, 9 Maret 2018.

Tim bertugas memantau proses penyelidikan polisi, menemukan faktor penghambat, dan memberikan rekomendasi agar kasus ini bisa cepat selesai. Rekomendasi akan diberikan kepada beberapa pihak, seperti Presiden Joko Widodo dan kepolisian.

14 Maret 2018

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mendapat 23 pertanyaan saat diperiksa tim khusus pemantau penyerangan air keras di Komnas HAM. Selama tujuh jam diperiksa, Novel Baswedan membeberkan kronologi kejadian penyerangan air keras yang menimpa dirinya pada April 2017.

11 April 2018

Novel Baswedan mengaku dirinya melapor ke Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM). “Saya melaporkan enggak cuma ke kepolisian, saya juga melapor ke Komnas HAM,” kata Novel, di Gedung KPK, Rabu (11/4).

19 Mei 2018

Tim Pemantau Komnas HAM mengaku memiliki temuan penting terkait dengan kasus penyerangan Novel. Namun demikian, Komnas HAM belum mau terbuka tentang temuan itu.
Rencananya, hasil pemantauan tim akan disampaikan pada sidang paripurna Komnas HAM dan kepada stake holders terkait.

“Tim akan bekerja secara terbuka dan bekerja sama dengan semua pihak terkait, termasuk Presiden, Kepolisian, KPK, organisasi HAM, dan masyarakat,” kata Ketua Tim Pemantauan Komnas HAM Sandrayati Moniaga, ketika dihubungi.

Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF)

Pihak Kepolisian sendiri mengaku telah menerjunkan Satgas khusus dengan 166 penyidik dari Polda Metro Jaya untuk menuntaskan kasus ini. Selama satu tahun berjalan, penyidik telah memeriksa 68 saksi dan 38 rekaman CCTV. Selain itu, penyidik juga memeriksa 109 toko yang khusus menjual bahan-bahan kimia.

Namun demikian pada akhirnya Polisi pun mengakui kesulitan lantaran penyidik belum dapat mengidentifikasi dua orang pelaku penyiraman air keras itu.

Sebab menurut juru bicara Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono, dari 38 titik CCTV yang diperiksa, hanya dua titik saja yang berhasil diambil gambarnya. Ia berdalih 36 titik CCTV lain resolusi gambarnya tidak bagus dan datanya sudah terhapus.

Selain itu, dari 109 toko kimia yang diperiksa, kata Argo, hanya 91 toko yang masih beroperasi. Berdasarkan hasil pemeriksaan, ia mengatakan, polisi tidak mendapati pembelian yang tidak wajar pada periode 9 dan 10 April 2017.

Lebih jauh, belum adanya keterangan tambahan dari Novel juga dijadikan alasah dari lambannya pengusutan kasus ini. Keterangan tambahan berupa pertanyaan mengenai kasus besar apa saja yang telah ditanganinya, kapan merasa dikuntit orang, dan saat itu sedang menangani kasus apa. Dengan begitu, polisi dapat menggunakan metode deduktif dalam pengungkapan kasus Novel.

“Novel silakan datang ke penyidik (polri) welcome kalau ada bukti-bukti yang kuat,” kata Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol M Iqbal di Mabes Polri, Jakarta, Kamis 2 Agustus 2018.

Sementara Novel dalam beberapa kali kesempatan lebih tertarik untuk mengungkapkan kasus ini ke Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Salah satu yang mendasar yakni dugaan adanya keterlibatan Jenderal Polisi yang sempat diungkapkan Novel.

Selain itu, Novel pun sempat Novel pun sempat mengkritik pimpinan KPK soal perlindungan yang diberikan kepada pegawai. Ia menekankan soal keseriusan pimpinan dalam merespons serangan terhadap anak buahnya. Sebab kasus penyiraman yang menimpanya bukanlah yang pertama. Novel setidaknya telah mengalami kejadian teror sebanyak enam kali sejak mengabdi di komisi anti rasuah.

“Ke depan setiap penyerangan kepada orang-orang KPK, pimpinan KPK harus atau tentunya mau membuka itu sebagai masalah yang serius dan melaporkan kepada pihak-pihak yang mempunyai kewajiban melakukan tindakan-tindakan itu,” ujar Novel di gedung KPK, Kamis 3 mei 2018.

Ia mengaku khawatir jika tak ada komitmen dari para komisioner KPK akan membuat keberaniannya para pegawai dalam bekerja mengungkap kejahatan kerah putih di Indonesia menjadi turun.

“Kita tidak mau apabila orang-orang yang selama ini mengganggu, menyerang, orang-orang di KPK, kemudian menjadi lebih berani, tentu itu membahayakan,” kata Novel.

Agaknya filosofi Sepeda yang dijelaskan Presiden Joko Widodo ada benarnya kalau disandingkan dengan perjalanan kasus Novel. Sepeda menurut Jokowi merupakan cerminan dari kemandirian dan kerja keras, ini berlaku bagi Novel yang dituntut untuk ‘bekerja keras’ dan ‘mandiri’ untuk mengungkapkan kasus ini, seperti membentuk TGPF yang kini tengah diperjuangkannya.

Sementara filosofi bersepeda merupakan wujud dari kebersamaan, yang didalamnya terdapat koordinasi dan pembagian fungsi, mungkin hal ini cocok untuk Jokowi sendiri. Tentu sebagai Presiden dirinyalah yang bisa melakukan kordinasi dan pembagian fungsi agar kasus ini cepat selesai.

SUMBER
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: