
OLEH: DAR EDI YOGA
ADA rasa miris ketika membaca judul berita di media bahwa Presiden Minta Relawan Tak Cari Musuh, Tapi Siap Berkelahi.
Sebagai orang Jawa harusnya mengerti akan falsafah hidup para leluhur yaitu Nglurug Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, yang artinya kurang lebih: "Kita harus bersikap ksatria, bertanggung jawab. Maju perang tanpa membawa pasukan, dan meraih kemenangan tanpa harus menjatuhkan pihak yang menjadi lawan."
Sebagai seorang pemimpin di republik ini, yang dilahirkan dan dibesarkan di tanah Jawa, maka sudah sepatutnya bila mencontoh falsafah para leluhur seperti falsafah kepemimpinan Sultan Agung, yang diungkapkan lewat Serat Sastra Gendhing.
Falsafah ini memuat tujuh amanah. Amanah pertama, Swadana Maharjeng Tursita, menyebutkan bahwa seorang pemimpin haruslah memiliki sosok intelektual, berilmu, jujur, dan pandai menjaga nama, mampu menjalin komunikasi atas dasar prinsip kemandirian.
Kedua, Bahni Bahna Amurbeng Jurit, menyebutkan bahwa seorang pemimpin harus selalu berada di depan dengan memberikan keteladanan dalam membela keadilan dan kebenaran.
Ketiga, Rukti Setya Garba Rukmi, menggarisbawahi bahwa seorang pemimpin harus memiliki tekad bulat menghimpun segala daya dan potensi guna kemakmuran dan ketinggian martabat bangsa.
Keempat, Sripandayasih Krani, yaitu pemimpin harus memiliki tekad menjaga sumber-sumber kesucian agama dan kebudayaan, agar berdaya manfaat bagi masyarakat luas.
Kelima, Gaugana Hasta, yaitu seorang pemimpin harus mengembangkan seni sastra, seni suara, dan seni tari guna mengisi peradapan bangsa.
Keenam, Stiranggana Cita, yaitu seorang pemimpin harus memiliki keinginan kuat untuk melestarikan dan mengembangkan budaya, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan membawa obor kebahagiaan umat manusia.
Ketujuh, Smara Bhumi Adi Manggala, yaitu seorang pemimpin harus menjadi pelopor pemersatu dari berbagai kepentingan yang berbeda-beda dari waktu ke waktu, serta berperan dalam perdamaian di dunia
Kalau mau berpikir sederhana dan nggak mau repot mengamalkan tujuh amanah dari Sultan Agung, maka pemimpin republik ini dapat menggunakan falsafah Patih Gajah Mada yaitu, Manisca, Kayika, Wascika yang artinya berpikir yang baik, bicara yang baik dan berbuat yang baik. [***]
SUMBER

