
NUSANEWS - Ucapan Cawapres KH Ma'ruf Amin soal orang buta dan tuli karena tak mau mengakui keberhasilan Presiden Joko Widodo malah mengundang kritikan. Salah satunya dari Partai Demokrat yang kini berada di luar pemerintahan.
Ketua Divisi Advokasi Demokrat, Ferdinand Hutahean menilai, justru melihat bahwa Ma' aruf sebagai cawapres semakin buta dan tuli karena tidak bisa melihat situasi nyata di tengah masyarakat.
"Ma'ruf buta dan tuli tak bisa melihat kesusahan masyarakat dan tidak bisa mendengar keluh kesah rakyat karena sudah terlalu berhasrat menjadi penguasa atau menjadi wakil presiden," kata Ferdinand kepada Kricom di Jakarta, Senin (12/11/2018).
Ferdinand menilai, ucapan Ma'ruf itu sungguh sangat tidak patut diucapkan oleh seorang tua yang sudah sepuh. Apalagi, dia seorang ulama besar.
"Ternyata tidak memberikan kesejukan dan keteduhan dalam politik, apalagi beliau seorang ulama," ucap caleg Demokrat dari Dapil Jawa Barat ini.
Ferdinand mendesak Ma' ruf membuka mata dan telinga tentang keluhan rakyat di bawah.
"Jangan cuma melihat yang besar-besar seperti jalan tol sebagai ukuran keberhasilan. Ukuran keberhasilan pemerintah itu adalah rakyat makin sejahtera, mudah cari uang dan banyak lapangan kerja. Jadi ukurannya bukan banyak jalan tol atau infrastruktur," terangnya.
Kalau cuma mengukur keberhasilan dari jalan atau infrastruktur, Ferdinand yakin bangsa ini tak perlu merdeka karena ia menilai, penjajah pasti akan membangun infrastruktur yang banyak.
"Tapi kan tujuan kemerdekaan kita bukan itu, tujuannya adalah supaya bangsa berdaulat, setelah berdaulat kemudian mandiri, setelah mandiri baru kemudian rakyat sejahtera. Itu dasarnya dimerdekakan, bukan supaya bisa membangun jalan tol," sebutnya.
Dengan begitu, Ferdinand yakin, Jokowi-Ma'ruf tidak paham tentang cita-cita luhur kemerdekaan, tetapi hanya paham cita-cita kaum kapitalis serta liberalis.
"Seakan tak perduli rakyat makin susah, yang penting infrastruktur dibangun menguntungkan kapitalisme," tutupnya.
SUMBER

