
NUSANEWS - Pengamat Politik Ujang Komarudin menilai pernyataan 'buta dan budek' yang diungkapkan cawapres nomor urut 02 Ma'ruf Amien sebagai bentuk kekesalannya pada lawan politiknya.
"Karena dianggap tidak mau mengakui keberhasilan-keberhasilan pemerntah," kata Ujang kepada Kricom di Jakarta, Senin (12/11/2018).
Namun, Ujang berpendapat, Ma'ruf tidak perlu meluapkan amarahnya dalam pidato kepada masyarakat. Pasalnya, hal itu hanya akan membuat bingung dengan polah para kontestan Pilpres 2019 yang terus menerus melakukan perang kata-kata tanpa ada kampanye gagasan maupun program.
"Dampaknya ke masyarakat membuat masyarakat semakin bingung dengan perdebatan kata-kata yang semakin hari semakin tajam. Dan mengurangi substansi kampanye," ungkap pengajar Universitas Al Azhar ini.
Sementara dari segi elektabilitas, Ujang menilai pernyatan 'buta dan budek' tidak akan memengaruhi tingkat keterpilihan calon. "Tidak terlalu berpengaruh dengan elektabilitas. Namun kata- kata buta dan tuli membuat kubu lawan sakit hati," ucap Ujang.
Ujang mengangap, di tengah tahun politik ini, suasana saling sindir diprediksi akan marak. Sehingga, masyarakat disuguhkan dengan suasana yang kurang baik.
"Wajar jika saling sindir. Begitu juga jika Ma'ruf Amin menyindir lawan politiknya. Karena terkadang di politik, sindiran harus direspons juga dengan sindiran," tutup Ujang.
SUMBER

