
NUSANEWS - Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa sore ini tertekan sebesar 75 poin ke posisi Rp14.624 dibandingkan sebelumnya Rp14.549 per dolar AS.
Direktur Lingkar Survei Perjuangan (LSP) Gede Sandra mengatakan, dampak pelemahan rupiah terutama akan menyasar kepada sektor industri yang masih sangat bergantung kepada impor bahan baku dan barang modal. Impor menjadi lebih mahal. Sektor industri ini pun akan pindahkan beban ke masyarakat konsumen sehingga harga-harga barang dan makanan akan naik.
“Apalagi saat ini juga menjelang Natal dan Tahun Baru, yang memang harga biasanya sudah naik karena terjadi peningkatan permintaan terhadap makanan. Jadi konsumen akan dihantam dua kali,” ujar Gede kepada Harian Terbit, Selasa (11/12/2018).
Seharusnya, kata Sandra, pada momentum pelemahan rupiah ini masyarakat di sektor perkebunan yang berorientasi ekspor akan diuntungkan. Tetapi sialnya pada saat yang sama terjadi kejatuhan harga komoditi perkebunan seperti sawit, kopra, dan karet sehingga para petani kebun tidak dapat ambil manfaat dari pelemahan Rupiah ini sembari terus tertekan akibat naiknya harga-harga kebutuhan mereka.
Sempat Menguat
Gede Sandra menyatakan, beberapa waktu lalu rupiah sempat menguat karena berbagai faktor, signal “dovish” (melonggarnya suku bunga acuan) dari The FED, terjadi “gencatan senjata” perang dagang AS-Tiongkok selama 90 hari ke depan.
Sementara dari dalalam negeri adalah penarikan utang secara besar-besaran selama periode September-November yg mencapai Rp 114 triliun, dengan tingkat bunga utang yang tertinggi di Asia Pasifik. Sehingga dana asing kembali masuk ke Indonesia untuk meraih imbal hasil tinggi. Meskipun fundamental ekonomi Indonesia termasuk yang termasuk terlemah di Asia Tenggara akibat defisit transaksi berjalan yang sangat besar, 3,37% dari PDB.
Tetapi beberapa hari ini, setelah kejadian penangkapan petinggi Huawei (pabrikan handphone terbesar asal China) oleh AS, memberi signal bahwa perang dagang akan kembali lanjut, sehingga berbondong-bondong dana asing kembali meninggalkan Indonesia yang memiliki fundamental ekonomi rentan karena defisit transaksi berjalan sangat besar. Akibatnya pun rupiah kembali melemah.
SUMBER

