Erick Thohir Harusnya Copot Direksi Tukang Nyinyir, Jangan Cuma Nyindir
logo

Erick Thohir Harusnya Copot Direksi Tukang Nyinyir, Jangan Cuma Nyindir

Erick Thohir Harusnya Copot Direksi Tukang Nyinyir, Jangan Cuma Nyindir

DEMOKRASI.CO.ID - Tak dijelaskan secara rinci siapa sosok direksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang rajin mengkritik pemerintah.

Namun demikian, pernyataan terbuka yang disampaikan Menteri BUMN, Erick Thohir ini dinilai patut diapresiasi.

"Kami apresiasi, namun alangkah baiknya jika Pak Menteri menyebut spesifik siapa direksi yang dimaksud agar tidak menimbulkan kegaduhan dan tanda tanya berkelanjutan," kata Jurubicara Sinergi Kawal BUMN, Abdul Rohim dalam keterangan tertulisnya, Rabu (4/12).

Sayangnya, ia tak sependapat dengan sikap Erick yang seakan melempar bola liar di publik. Mantan Ketua TKN Jokowi-Maruf itu dianggap tak etis mengumbar masalah BUMN ke publik, namun membiarkan informasi yang disampaikan mengambang tanpa kejelasan.

Sebagai pemangku kebijakan, Erick Thohir seharusnya langsung melakukan tindakan tegas, seperti mencopot direksi BUMN yang dianggap salah tanpa harus berkoar-koar di media massa.

"Tidak perlu mengumbar masalah tersebut kepublik. Kami khawatir teguran Pak Menteri tersebut menimbulkan kisruh dalam tubuh BUMN. Indonesia memiliki 142 BUMN, tentunya kita tidak menghendaki sentilan Erick berdampak terhadap kinerja BUMN," tegasnya.

Sebagai pimpinan tertinggi Kementerian BUMN, Erick Tohir bisa langsung menyebutkan direksi yang dimaksud, serta tidak perlu sungkan mencopot direksi yang bersangkutan dengan catatan terukur dan transparan, bukan soal like and dislike.

"Persoalan yang sedang mendera BUMN masih banyak dan kompleks, perlu kontribusi pemikiran dan masukan dari berbagai kalangan masyarakat. Oleh karena itu Pak Erick jangan sungkan menyer UIap banyak informasi dan masukan dari berbagai kalangan masyarakat," tutupnya.

Pernyataan Erick tersebut disampaikan saat dirinya menekankan soal loyalitas dalam bekerja. Ia meminta kepada jajarannya untuk memberikan kritik secara langsung, bukan melalui media massa maupun media sosial.

Bukan berarti saya antikritik, tapi harus dikritisi langsung. Jangan lewat media. Kalau dia kerja di BUMN, mengkritisi BUMN tapi lewat media, itu kan enggak etis," kata Erick. (Rmol)
loading...

Rekomendasi Untuk Anda