logo

Kamis, 02 Januari 2020

Siram Novel Baswedan, Brigadir RM Dan RB Salah Artikan Jiwa Korsa

Siram Novel Baswedan, Brigadir RM Dan RB Salah Artikan Jiwa Korsa

DEMOKRASI.CO.ID - Dua anggota Polisi pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan, RM dan RB salah mengartikan semangat korsa Polri. Menyiram Novel, bukanlah bentuk panggilan jiwa korsa.

Begitu yang dikatakan oleh Peneliti Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi kepada wartawan, Kamis (2/1).

Menurut Fahmi, jiwa korsa tak boleh jadi alasan untuk perbuatan yang jelas tidak memberi contoh baik bagi masyarakat luas.

“Tentu saja implementasi yang benar dari jiwa korsa tak seperti itu,” kata katanya.

Ia berpendapat sebenarnya tidak ada yang salah dari semangat korsa. Masalahnya adalah penerapan yang membabi-buta.

Apalagi, menurutnya, jika korbannya dianggap sebagai bagian dari dirinya, maka cap pengkhianat langsung melekat, tanpa melihat duduk perkara.

“Pokoknya hantam dulu, sikat dulu. Apalagi ketika ada keyakinan bahwa kehormatan korps telah tercoreng, lembaga telah dipermalukan, dan pembalasan atau penghukuman dianggap layak setimpal dilakukan pada siapapun yang telah mempermalukan, menghina apalagi mengkhianati,” jelasnya.

Padahal, lanjut dia, doktrin korsa sejatinya ditanamkan untuk membangun kekompakan dan kerjasama tim dalam rangka pencapaian tujuan organisasi.

“Tentunya jangankan perbuatan yang jelas tindak pidana seperti peyiraman air keras ini, jiwa korsa mestinya bahkan tak membuat pelanggaran disiplin atas nama solidaritas dan kekompakan dapat ditolerir,” demikian Fahmi.

Komentar Pembaca

loading...