logo

Sabtu, 08 Februari 2020

Cerita Pekerja Krematorium Wuhan, Bakar 100 Mayat per Hari Tanpa Rehat

Cerita Pekerja Krematorium Wuhan, Bakar 100 Mayat per Hari Tanpa Rehat

DEMOKRASI.CO.ID - Pemerintah China sempat dikabarkan melarang pemakaman bagi pasien yang meninggal akibat virus corona. Sebagai gantinya, mereka meminta jasad tersebut untuk dikremasi.

Seperti dilansir dari World of Buzz, larangan itu dilaporkan untuk memperlambat penyebaran virus berbahaya tersebut. Alih-alih mengadakan upacara pemakaman, mayat-mayat ini dibakar di ruang terbuka untuk mencegah pembusukan.

Baru-baru ini, seorang pekerja dari salah satu krematorium buka suara berbagi pengalaman kerjanya. Menyusul laporan yang dikutip New Zealand Herald, para pekerja pembakaran mengungkap bahwa mereka membakar mayat 24/7 setiap hari tanpa henti karena banyaknya korban jiwa akibat penyakit virus ini.

Sejak 28 Januari 2020, tempat pembakaran itu diduga telah menerima 100 mayat untuk dibakar setiap harinya. Dengan jumlah yang luar biasa ini, hampir mustahil bagi para pekerja tersebut untuk beristirahat dari pekerjaan mereka.

Dalam video yang beredar di internet, kota Wuhan yang terinfeksi terlihat diselimuti kabut tebal, yang diduga berasal dari asap pembakaran tubuh massal ini.

 “90 persen dari kita harus bekerja 24/7 dan kita tidak bisa pulang. Setiap titik pembakaran yang ditunjuk di Wuhan beroperasi selama 24 jam,” kata karyawan yang membakar tubuh.

“Kami tidak makan atau minum untuk waktu yang lama sepanjang hari karena kami harus selalu berada dalam alat pelindung kami. Pakaian harus dilepas setiap kali kami ingin makan, minum, atau menggunakan toilet. Tapi begitu pakaian tersebut dilepas, tidak bisa digunakan kembali."

Setelah pekerja krematorium mengungkap informasi orang dalam ini, banyak penduduk Wuhan mulai meragukan korban jiwa resmi yang diumumkan pemerintah akibat virus corona Wuhan.

Sementara itu, banyak orang yang menunjukkan gejala penyakit mematikan itu mengatakan bahwa mereka tidak diberi perawatan karena rumah sakit terlalu penuh untuk merawat mereka.

Namun pihak berwenang China telah memperingatkan masyarakat untuk tidak menyebarkan berita palsu tentang virus corona agar tidak menyebabkan kepanikan di antara warga.[vv]
loading...