logo
×

Kamis, 27 Februari 2020

Indonesia Kini Negara Maju? Tanpa Islam, Kemajuan Hanyalah Semu Bahkan Palsu

Indonesia Kini Negara Maju? Tanpa Islam, Kemajuan Hanyalah Semu Bahkan Palsu

Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam/ Dosen dan Pengamat Politik

Indonesia termasuk salah satu negara yang dikeluarkan dari daftar negara berkembang lalu dimasukkan sebagai negara maju oleh Amerika Serikat (AS). Pemeringkatan ini terkait fasilitas perdagangan yang berhubungan dengan mitra dagang AS. Ada konsekuensi yang harus ditanggung Indonesia setelah berubah dari negara berkembang jadi negara maju versi AS. China pun termasuk yang kena getahnya, karena termasuk yang dikeluarkan dalam daftar.Amerika Serikat lewat US Trade Representative (USTR) merevisi daftar kategori negara berkembang mereka untuk urusan perdagangan internasional.Beberapa negara yang semula ada di daftar negara berkembang seperti China, Brazil, India kini naik kelas jadi negara maju. Termasuk juga Indonesia dan Afrika Selatan, sebagaimana pengumuman USTR yang dikutip dari The Star.Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Internasional (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani berpendapat status baru ini dapat berdampak pada fasilitas yang biasa diberikan kepada Indonesia oleh AS sebagai negara berkembang dalam hal perdagangan. Fasilitas ini membuat produk ekspor Indonesia ke pasar AS bisa berdaya saing.

Hal ini biasa disebut fasilitas Generalize System of Preference (GSP) atau keringanan bea masuk impor barang ke Amerika Serikat. (cnbcindonesia.com. Senin. 24/02/2020).

Realitas  Indonesia Penyandang Lebel Negara Maju
Indonesia  baru saja mendapatkan predikat lebelisasi “ Negara Maju” oleh  digdaya Amerika. Setelah puluhan tahun.  Perjuangan membawa Negara ini yang hanya berjalan di tempat, dan pada lebel “Negara Berkembang” kelihatannya membuahkan hasil. Dalam waktu sekejap, tanpa ada sinyal-sinyal maupun rambu-rambu pencapaian yang menggembirakan, kini Indonesia tiba-tiba mendapat lebel Negara Maju sejak dikeluarkannya dari list daftar Negara berkembang. Apakah ini kabar sukacita atau justru duka cita?

Kondisi realitas Negara Indonesia diketahui oleh seluruh dunia. Apalagi Amerika Serikat adalah polisi dunia. Dimata dunia, Indonesia hari ini bukan lagi Negara macan Asia seperti zaman orde baru. Sejak zaman reformasi, pasca referendum Timor-Timur, Indonesia sudah tidak punya taring yang bisa ditunjukkan di dunia internasional. Wibawa, rasa segan, kharismatik, dan keunikan negeri jamrud khatulistiwa ini telah pudar dan tidak memiliki kemilau lagi. Bukan berarti masa orde baru Indonesia tidak punya masalah besar, tetap ada, bahkan sejak pasca kemerdekaan pun, Negara ini terus dirundung masalah besar. Sejarah orde baru dicoreng dengan peristiwa perang saudara, dan konflik SARA. Meskipun kondisi perekonomian tidak sehancur era Jokowi kini. Bukan juga berarti tidak ada warga miskin yang menjadi PR rezim pemerintahan Soeharto. Justu kemiskinan masa kini tidak lepas adalah dampak dari penyimpangan pengelolaan Negara yang tertutupi selama puluhan tahun di masa orde baru. Bergantinya rezim babak baru menjadi reformasi malah membuat Negara semakin tidak jelas arah.

Lalu kini di masa revolusi mental, kondisi Indonesia semakin memprihatinkan. Konflik internal antara rakyat dan penguasa selalu disulut oleh beberap pihak yang mengingininkan negeri ini segera caos. Tetapi sedikit yang bisa menyadarinya. Dari segi ketahanan hukum dan politik, pelaksanaan pemilu penuh kecurangan dan bahkan harus mengorbankan ratusan nyawa anggota KPPU. Tetapi hukum tidak pernah menyentuh siapa pelakunya. Senyap dan didiamkan. Penguasa malah membuat gaduh dengan menantang ulama dan memonterisasi ajaran Islam. mendistorsi pemahaman yang benar dengan mengangkat para ulama su’ untuk dibenturkan dengan kaum muslimin.

 Bicara soal kondisi ekonomi Negara yang stagnan dan hanya pada limit 5% pertumbuhannya,  tidak ada kenaikan dari periode sebelumnya. Malah hutang luar negeri meningkat, konon mencapai 5.000 T. Bagaimana Negara akan membayarnya? Belum lagi semua sektor riil usaha masyarakat diberatkan dengan pungutan-pungutan tidak rasional. Mulai dari pemberlakuan cukai untuk plastik, , softdrink, hingga asap knalpot. Sunami PHK melanda masyarakat, ditambah RUU Cilaka Omnibus law yang hanya sarat dengan kepentingan investor tetapi menjerat pekerja. Penguasa nampak jelas menjadi budak pengusaha Kapitalis apalagi investor China. Belum lagi kondisi pendidikan yang semakin hancur dan mengerikan. Kelakukan generasi muda diluar akal sehat semakin marak. Mulai dari kasus bully, incest, pembunuhan, bunuh diri hingga membuang bayi-bayi hasil zina. Ditambah RUU pertahanan Keluarga yang dipersimpangan jalan, menambah semaraknya permasalahan bangsa besar ini. Ditambah  kehadiran teknologi robotisasi di instansi pemerintah yang akan segera menyapu manusia dan digantikan oleh robot-robot yang kini tengah disiapkan. Dampaknya, pengangguran akan meriah. Inikah wajah Negara yang dilebeli maju oleh Amerika?

Maju Bukanlah Sekedar Lebel, Melainkan Terukur Nyata

Menimbang banyaknya permasalahan yang menimpa bangsa ini, rasanya imposible lebel Negara Maju itu layak diterima. Namun, satu sudut pandang yang tidak bisa dibantahkan kenapa Indonesia harus menerima lebel itu. Sudut pandang itu adalah permainan politik kapitalis global. Amerika mengeluarkan Indonesia dari Negara berkembang bukan tanpa tujuan. Secara realitas terlihat bahwa rezim Jokowi adalah rezim yang tidak bisa ditaklukkan Amerika lagi sepenuhnya. Sebab, mata telah bermain dengan China. Kemesraan Indonesia dengan China dalam hal hubungan dagang dan investasi telah mengalahkan pamor Amerika sebagai Negara berkuasa. Sehingga Amerika merasa perlu memberikan suatu shock terapi untuk Indonesia akibat perselingkuhanya dengan China. Amerika jelas tahu hancurnya kondisi ketahanan Indonesia dari segala hal. Namun Indonesia sudah tidak banyak lagi mengeluh dan mengemis ke AS, melainkan ke China. Kini, serangan virus Corona yang sedang mengguncang perekonomian China dan hampir lumpuh, AS justru melebelinya dengan Negara maju.

Seperti kata para pengamat ekonomi global, bahwa menjadikan Indonesia sebagai Negara maju adalah kerugian besar yang akan berdampak buruk bagi Indonesia. Sebab dari segi aturan perdagangan global, tentunya Indonesia akan mengikuti peraturan biaya yang sangat mahal seperti yang disepakati Negara-negara maju. Tekanan psikis akan melanda republik ini akibat ketidaksiapannya menjadi Negara maju. Satu hal yang harus diketahui dengan benar, bahwa pola permainan kapitalis adalah untung-buntung, menang-kalah. Artinya, tidak akan pernah kapitalis melakukan sesuatu yang menguntungkan lawan. Atau minimal seri. Tetapi keberuntungan harus selalu berada dipihak mereka.

Pemberian lebel Negara maju tentulah hanya akal-akalan untuk kepentingan kemenangan AS dari segi politik ekonomi, juga polisi dunia. Amerika akan lebih mudah melakukan pemantuan terhadap Indonesia dari segi ekonomi, dan juga mendikte politik dalam negeri Indonesia agar disesuaikan sama dengan Negara-negara maju lainnya. Secara ekonomi, kapitalis jelas akan melumpuhkan perekonomian Idonesia dengan terus menekan nilai rupiah yang tak kunjung membaik. Hingga akan berdampak pada nilai hutang dan bunga yang telah ditanam oleh Indonesia kepada IMF. AS hanya menginginkan keburukan bagi internal Negara ini.

Kemudian, dari segi permainan politik internasional, pemantauan terhadap perkembangan Islam dan kelompok Islam akan lebih mudah dilakukan. Bahkan Indonesia nantinya harus mengikuti seluruh kesepakatan Negara-negara maju khususnya terkait WOT dengan lebih extreme lagi. Pemerintah Indonesia memang tidak berani mengatakan secara terbuka dan dipublik bahwa Islam dan kelompok yang memperjuangkannya adalah musuh dan ancaman. Namun seperti yang disepakati oleh Negara-negara kapitalis Barat, bahwa Islam sebagai ideology adalah ancaman bagi dunia. Bahkan PM Inggris Borish Johnson mengatakan bahwa Islam dan imigran muslim adalah ancaman bagi Inggris. So, tidak menutup kemungkinan, Indonesia akan semakin liberal dengan lebel Negara majunya. Indonesia akan menjadi mitra agenda global bagi Amerika. Hingga keinginan Amerika menaklukkan semua dunia di bawah kaptalis akan terwujud. Dengan demikian, menurutnya tidak ada ideology yang akan bangkit. Komunis telah ditekan, dan kemunculan Islam juga diawasi serta terus dijadikan isu terpenting sebagai ancaman global. Walhasil Indonesia menuju liberalisme sempurna. Seperti inikah kemujuan yang membanggakan?

Tanpa Islam, Kemajuan Hanya Semu Bahkan Palsu

ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf:96)

Sebagai agama yang mengajarkan keyakinan kepada Allah swt sebagai Sang Khaliq dan Mudabbir, kaum muslimin tentunya harus bersandar pada setiap ajaran Islam untuk menjalani kehidupannya. Allah swt telah memberikan janji kepada manusia yaitu kepada mereka yang beriman dan bertaqwa, akan memberikan negeri mereka berkah yang melimpah dari langit dan bumi.

Beriman dan bertaqwa yang dimaksud adalah manusia yang menjalankan perintah Allah secara totalitas dalam segala aspek kehidupan. Itulah syarat agar keberkahan didapatkan manusia. Jika melihat kondisi negeri kaum muslimin hari ini, dapat disimpulkan bahwa ummat Islam telah jauh dari keberkahan karena telah meninggalkan ketaqwaan mereka kepada Allah swt, dan mengingkari RasulNya dari segi penerapan aturan hidup.  pemikiran, budaya, dan hukum yang diadopsi telah berkiblat ke Barat yang kapitalis. Pandangan hidup Barat sebatas mengejar materi dan ketenaran dunia. Kebahagian diartikan sebagai pencapaian kebutuhan fisik dan naluri dengan cara apapun. Dengan ide kebebasan, manusia kehilangan arah hidup dan mengundang banyak masalah serta menimbulkan kerusakan. Meskpiun secara fisik, kemajuan Negara-negara Barat dapat dilihat dan diukur, namun itu semuanya semu. Sebab setiap keberhasilan yang mereka raih, pasti ada kerugian bagi yang lain. Misalnya kesehatan, ekosistem laut, habitat hewan,   maupun iklim global yang terus jadi wacana. Satu sisi ada kemajuan fisik, namun di sisi lain mengalami banyak kerusakan. Inikah yang disebut maju?

Belum lagi kegalaun hidup dan angka bunuh diri serta pembunuhan yang tinggi menjadi gambaran tak terpisahkan dari wajah asli Negara – Negara Barat yang dilebeli maju. Secara ideologi, kempemipinan kapitalis memang maju menjadi garda terdepan memberikan pengaruh kepada kehidupan manusia dewasa ini. Namun tidak lebih hanya sekedar capaian kekuasaan dan bukan pengayoman apalagi keadilan. Sekali lagi, bukankah semua ini adalah kemajuan semu? Bahkan palsu! Kata siapa di Negara maju tidak ada pengangguran? Homeless? Perceraian? Stress? Depresi? Semua itu justru subur di Negara-negara yang katanya maju seperti Barat dan Negara kapitalis lainnya.

Islam telah menunjukkan sebuah tatanan hidup yang mulia, mengayomi, juga melindungi hak-hak manusia. Tanpa memandang suku, warna kulit, dan wilayah. Bahkan yang non muslim pun mendapatkan haknya dari Negara yang menerapkan syariat Islam. selama lebih 13 abad, Islam telah menjadi digdaya di dunia dan memberikan banyak dampak kemajuan bagi dunia Barat hari ini. Tidak ditemukan dalam catatan sejarah, adanya ilmuwan muslim yang bunuh diri atau stress sebagaimana banyak terjadi di masa sosialis dan kapitalis. Kejahatan sangat minim terjadi. Sebab kehidupan manusia dibentengi oleh ketaqwaan individu, kontrol masyarakat, dan penerapan aturan yang adil oleh Negara. Kemajuan gemilang yang pernah diraih oleh peradaban Islam, tidak akan pernah dicapai oleh komunis dan kapitalis. Sebab, kedua ideologi tersebut tidak akan pernah memberikan kemajuan hakiki, melainkan kemajuan semu dan palsu. Hanya dengan penerapan Islam di Indonesia, kemajuan sejati dan hakiki akan diraih. Dan syariat Islam telah terbukti mampu menjadikan bumi ini mendapatkan berkah dari Allah swt. Peradaban Islam adalah peradaban paling maju sepanjang sejarah kehidupan manusia.  Wallahu a'lam bissawab.
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: