logo
×

Minggu, 29 Maret 2020

Jokowi Mesti Pecat Luhut Pandjaitan Supaya Indonesia Selamat Menyintas Badai Corona

Jokowi Mesti Pecat Luhut Pandjaitan Supaya Indonesia Selamat Menyintas Badai Corona

Oleh: Maya Andrayani

Sumpah hanya judul begini yang terbayang oleh saya ketika menyikapi tindak-tanduk Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Keberadaan Luhut dalam Kabinet Indonesia Maju sudah bak duri dalam daging. Tragisnya, rasa sakit tertusuk-tusuk itu berulang-ulang ditimpakan kepada rakyat Indonesia yang sedang diamuk cemas gara-gara pandemi corona.

Betapa tidak! Ketika negara ini sedang berjuang untuk menbatasi masuknya orang asing demi mengerem wabah virus corona di Indonesia, Luhut terus saja memainkan narasi yang sama. narasi pembelaan terhadap TKA Cina.

Tanpa memiliki data akurat kondisi Indonesia, Luhut mengklaim bahwa badai Corona sudah mereda. Karena itu, Luhut mau TKA Cina segera masuk lagi ke Indonesia. Empat hari berselang, Presiden Jokowi mengumumkan pasien #1 dan #2 yang terinfeksi virus corona.

Begitu pula ketika heboh 49 TKA dari China di Kendari, Sulawesi Tenggara. Luhut lagi-lagi pasang badan dan menyebut mereka masuk secara legal. Padahal beberapa anggota DPR menegaskan bahwa  bahwa masuknya TKA dari Cina itu jelas pelanggaran. Mereka melanggar pasal 42 dan pasal 185 dalam UU Ketenagakerjaan.

Kemudian, ketika bangsa ini sedang terengah-engah menghadapi amuk Covid-19, Kementerian Kemaritiman dan Investasi terus saja memainkan narasi pemindahan ibu kota negara jalan terus. Padahal korban jiwa akibat virus corona terus berjatuhan setiap hari. Jumlah yang terinfeksi meroket dari hari ke hari.

Apalagi Jokowi sudah menegaskan bahwa penanganan pandemi virus corona merupakan prioritas. Anggaran dibongkar pasang untuk pembiayaan. Publik juga telah menuntut agar proyek-proyek mercusuar Jokowi ditunda dulu, dan anggarannya dialihkan untuk penanganan corona.

Ya, untuk penanganan pandemi virus corona bagi sekitar 271 juta jiwa rakyat Indonesia, pemerintah baru menggelontorkan anggaran sebesar Rp 158,2 triliun. Ini ketinggalan jauh dari Malaysia yang jumlah penduduknya cuma 32,6 juta jiwa.

Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin, baru sana mengumumkan pencairan dana sebesar 250 miliar ringgit Malaysia (sekitar Rp 928,5 triliun) untuk membantu warga tak ini mampu. Dana ini merupakan paket stimulus ekonomi rakyat. Namanya Prihatin. Mirip program Indonesia Bantuan Langsung Tunai (BLT).  Sebelumnya Pemerintah Malaysia juga telah mengumumkan alokasi total 600 juta ringgit (sekitar 2,23 Triliuan) untuk Departemen Kesehatan guna membeli peralatan medis dan menambah perawat.

Pendek kata, narasi Luhut terang kontraproduktif dengan semangat melawan corona di Indonesia yang sedang digeber oleh Presiden Jokowi. Ibarat fim Harry Potter, Luhut ini adalah Dementor,mahluk yang menghisap segala kenangan kegembiraan dan kebahagiaan seseorang hingga tinggal segala kesedihan dan ketakutan yang tinggal di kepala

Narasi Luhut ibarat lubang hitam yang menghidap kepercayaan rakyat kepada pemerintah. Bahkan, salah-salah publik bisa marah dan mengamuk karena menganggap pemerintah main-main dengan nyawa seluruh rakyat Indonesia.

Tragisnya, blunder ini bukan yang pertama. Sudah berulang-ulang. Pokoknya, kalau sudah bersinggungan dengan Cina, Luhut cenderung pasang badan. Makanya wajar bila netizen menuding Luhut sebagai jenderal pengkhianat, antek-antek China.

Saya pikir Jokowi mesti bertindak tegas. Luhut bukanlah menteri yang bisa “dididik”. Bukan menteri yang bisa “diatur”. Luhut terlalu liar untuk dibiarkan keluyuran di atas kapal Kabinet Indonesia Maju yang mulai oleng itu.

Tidak ada pilihan lain. Presiden Jokowi harus memecat Luhut. Pasalnya, keberadaan Luhut di KIM membuat bangsa Indonesia tidak bisa bersatu melawan pandemi corona. Segera sebelum semuanya terlambat!
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: