logo
×

Sabtu, 06 Juni 2020

Prabowo dan Regenerasi Partai Gerindra yang 'Tersumbat'

Prabowo dan Regenerasi Partai Gerindra yang 'Tersumbat'

DEMOKRASI.CO.ID - Partai Gerindra bakal menggelar kongres untuk pemilihan ketua umum tahun ini. Meskipun belum ada pengumuman terkait waktu dan lokasi kongres, nama Prabowo Subianto disebut-sebut akan terpilih kembali menjadi ketum partai yang ia lahirkan pada 2008 silam.

Prabowo dinilai sejumlah elite Gerindra memiliki figur yang sangat kuat. Namun, sosok Prabowo yang bertahan menjadi ketum selama bertahun-tahun itu justru dinilai menunjukkan kegagalan regenerasi partai. 

Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin menyatakan ketiadaan sosok pengganti Prabowo sebagai ketum di partai berlambang burung garuda itu menggambarkan regenerasi partai yang tersumbat.

Tapi, kata dia, itu bukan persoalan Gerindra semata. Pasalnya permasalahan serupa juga dialami parpol-parpol besar di Indonesia seperti PDIP dan NasDem.

Menurut Ujang, hanya Partai Demokrat yang belakangan berani mengganti jabatan ketum dari Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). Walaupun, pewaris jabatan ketum itu adalah putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono.

"Sebagian besar parpol di Indonesia hampir tidak ada yang regenerasi, hanya Demokrat. Lihat partai-partai lain, ada yang dua periode sampai lima periode enggak ganti. Artinya, regenerasi di parpol tersumbat, tidak berjalan dengan baik," ujar Ujang saat dihubungi, Jumat (5/6).

Meskipun demikian, Ujang menduga Prabowo memang masih akan terpilih sebagai ketum demi kesiapan parpol mendekati Pilkada 2020, hingga Pemilu 2024.

Apalagi di bawah kepemimpinan Prabowo, Gerindra berhasil meraup suara kedua terbanyak nasional dalam Pilpres 2019 dan suara ketiga terbanyak di parlemen. Ujang menilai itu pun sudah menjadi dalam kalkulasi politik Prabowo.

Menurut Ujang akan sulit bagi pria yang kini menjabat Menteri Pertahanan itu untuk maju dalam Pilpres 2024 jika tak lagi menjabat ketum.

"Kalau ketum diberikan ke orang lain, Pak Prabowo akan kesulitan mengendalikan partai. Oleh karena itu, jalan paling aman adalah menjadi ketum Gerindra. Itu kekuatan yang bisa digunakan," katanya.

Ujang mengakui banyak kader muda di Gerindra yang sebenarnya dapat menggantikan Prabowo sebagai ketum seperti Sufmi Dasco Ahmad hingga Fadli Zon. Namun, selama Prabowo masih aktif di partai, regenerasi kepemimpinan bakal sulit.

"Banyak kader yang sudah siap ketika Pak Prabowo pensiun. Tapi untuk saat ini belum ada kader lain yang mampu menyaingi ketokohannya baik di internal maupun eksternal partai," tutur Ujang.

Untuk diketahui, dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) yang digelar virtual pada Kamis (4/6), seluruh petinggi DPD Gerindra diklaim meminta Prabowo kembali menjabat sebagai ketua dewan pembina sekaligus ketum periode 2020-2025.

Sekjen Gerindra Ahmad Muzani pernah menyampaikan tidak ada sosok lain yang mampu menandingi Prabowo untuk menduduki jabatan ketum sejak 2008.

Di luar Prabowo, nama Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra, Sandiaga Uno juga sempat santer disebut sebagai calon ketum.

Pada Maret lalu, Sandiaga yang maju Pilpres 2019 sebagai cawapres bersama Prabowo ini tak menampik ada sejumlah pihak yang menginginkannya sebagai ketum Gerindra. Namun, menurut Sandiaga, keputusan akhir tetap menjadi kewenangan Prabowo.

Oleh karena itu, Ujang juga menilai kecil kemungkinan Sandiaga menjadi ketum Gerindra.

Selain sosoknya tak sekuat Prabowo, Sandiaga juga pernah diterpa isu berselisih dengan Prabowo usai gelaran Pilpres tahun lalu. Mantan wakil gubernur DKI Jakarta itu diketahui sempat tak datang ke deklarasi yang digelar Prabowo usai gelaran Pilpres meski belakangan ia mengaku sedang sakit.

"Setelah itu kan ada clash dengan Pak Prabowo. Jadi selain regenerasi enggak ada, Pak Prabowo juga menutup regenerasi. Sandiaga tidak akan kuat bersaing dengan Pak Prabowo," tuturnya.

Senada Ujang, Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo menilai, hingga saat ini belum ada sosok yang berkarakter kuat seperti Prabowo di Gerindra. Ia meyakini Prabowo masih akan menjabat sebagai ketum.

"Kharismanya terlalu besar, jauh dari semua pengurus Gerindra," ujar Adi.

Menurutnya, jabatan Prabowo sebagai ketum juga disiapkan demi Pilpres 2024. Untuk itu, tak dipungkiri bahwa proses regenerasi di partai yang berdiri sejak 12 tahun lalu itu akan mandeg.

"Kalau tujuannya 2024, kaderisasi bisa nomor sekian. Yang jelas kepemimpinan Pak Prabowo ini masih mengakar sekali," ucapnya. (*)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: