logo
×

Sabtu, 22 Agustus 2020

Kisah Pilu 3 Anak Petani, 4 Bulan Tidak Belajar Online, Sang Ayah Tak Sanggup Beli Ponsel

Kisah Pilu 3 Anak Petani, 4 Bulan Tidak Belajar Online, Sang Ayah Tak Sanggup Beli Ponsel

DEMOKRASI.CO.ID - Tiga bersaudara ini setiap harinya hanya berada di rumahnya saja. Yang penuh debu serta kain kotor berserakan di sana dan di sini.

Tak ada yang berharga di dalam rumahnya yang terletak di Dusun Punaga, Desa Maradekaya, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel) itu.

Namanya Muh Syarif, 14 tahun, Muh Syahrul, 12 tahun dan Muh Iksan, 10 tahun. Tak banyak pula yang bisa mereka lakukan selama masa pandemi Covid-19 ini.

Hanya beberapa buku pelajaran saja yang bisa mereka baca. Menggali ilmu meski di segala keterbatasan.

Perkembangan teknologi membuatnya tergerus. Ponsel yang saat ini menjadi kebutuhan di sektor pendidikan, justru hanya jadi tontonan belaka.

Belajar online tak bisa dia ikuti. Keterbatasan biaya membuat mereka tak mampu membeli ponsel, untuk belajar via daring.

Sebagai kakak tertua, kadang kala Muh Syarif sedih melihat kedua adiknya itu harus ketinggalan mata pelajaran. Masa depan yang suram tentu mengancam mereka.

Sudah empat bulan lamanya mereka mengalami kisah pilu ini. Tak ada bantuan dari pemerintah setempat, agar tiga bersaudara ini bisa belajar via online.

“Selama empat bulan pandemi ini, kami hanya bisa baca buku di rumah. Tidak bisa belajar online. Apalagi tugas banyak yang tidak selesai,” kata Muh Syarif, bocah kelas 3 SMP ini, Sabtu (22/8/2020).

Akibatnya, banyak nilai sekolahnya yang dibawah standar. Bahkan mengancam mereka tinggal kelas.

“Nilai sekolah kami jelek gara-gara ini. Belajar online menyulitkan kami yang tak punya ponsel. Kami harap bisa dibantu dibelikan ponsel untuk belajar,” tambah bocah berkulit cokelat ini.

Tidak ada jalan lain jika benar-benar sistem pembelajaran online ini jadi penghalang, untuk mewujudkan cita-citanya di masa depan kelak.

Alternatif lain, mereka terpaksa membantu ayahnya menanam sayur dan buah di sawah. Lahan di sana pun bukan milik mereka. Melainkan punya orang lain.

“Sawahnya orang ini saya garap. Saya pun digaji per bulan dengan hasil yang tidak pasti. Jadi mana mungkin saya bisa belikan tiga buah ponsel untuk anak-anak saya ini,” kata ayah kandung Syarif, Sudirman Daeng Tappa.

Selain sang ayah yang mati-matian merawat anaknya agar hidup layak kelak, sementara sang ibu bernama Subaedah tak jarang menitihkan air mata yang jatuh membasahi pipinya.

Ketiga anaknya itu tak bisa berbuat apa-apa. Hanya meratapi nasib di tengah sawah sembari menanti kerasnya kehidupan yang suram, akibat pendidikan yang baginya sangat sulit di masa saat ini.
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: