logo
×

Selasa, 15 September 2020

Cerita Penuh Pilu Arsilan, Mantan Tukang Kebun Soekarno yang Kini Jadi Pemulung untuk Bertahan Hidup

Cerita Penuh Pilu Arsilan, Mantan Tukang Kebun Soekarno yang Kini Jadi Pemulung untuk Bertahan Hidup

DEMOKRASI.CO.ID - Kisah pilu datang dari Arsilan. Ia diketahui merupakan mantan tukang kebun keluarga Bung Karno (Presiden Soekarno) yang kini hidup serba kesulitan. Arsilan menjadi tukang kebun di kediaman presiden pertama Republik Indonesia itu di tahun 1945 sampai 1958.

Arsilan pernah tergabung ke dalam tentara pelajar hizbullah, sebelum menjadi tukang kebun di keluarga Proklamator Indonesia itu. Arsilan juga berperan dan turut berpengaruh menjelang pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia oleh Presiden Soekarno, 17 Agustus 1945 silam.

75 tahun berlalu, hidup Arsilan berbalik. Menjadi saksi hidup proklamasi kemerdekaan tak menjadikannya ‘merdeka’ secara ekonomi. Kini, untuk menyambung hidupnya, ia harus menjadi pemulung. Ini kisah lengkapnya:

Orang yang Menyiapkan Tiang Bambu Saat Proklamasi

Di saat pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Arsilan sempat menyaksikan prosesnya dari balik pagar halaman rumah Bung Karno. Arsilan menyebutkan jika, dia dan ayahnyalah yang menyiapkan dan memasang tiang bambu untuk pancang bendera sang saka merah putih.

Dilansir dari akun Instagram @sorotandunia, Arsilan disuruh untuk mencari bambu, tanpa diberitahu untuk apa bambu itu nantinya.

“Yang masang tiang saya juga ikut. Itu sehari sebelumnya. Kita disuruh pasang, tapi tidak tahu untuk apa. Waktu itu sih belum ada tiang bendera besi, sudah habis sama Jepang,” terangnya.

Kini Tinggal di Gubuk Bawah Pohon

Kalau dulu Arsilan tinggal di rumah Soekarno, kini pria yang lahir pada tahun 1925 tersebut, tinggal di sebuah bangunan semi permanen. Rumah gubuknya itu berdiri di atas trotoar kawasan Jalan Bonang. Kediamannya persis berada di sisi luar tembok sebelah Timur Taman Proklamasi, di Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat.

Walau dulu ia dekat dengan proklamator Indonesia yang sangat berpengaruh, kini ia terlantung di pinggir jalan.

Berjuang Lillahi taala Tanpa Meminta Imbalan

Arsilan menceritakan jika dahulu ia sering ikut berjuang tanpa meminta imbalan. Hanya bermodalkan niat demi membantu kemerdekaan negara Republik Indonesia, Arsilan ikut turun ke ‘medan pertempuran’.

Saat itu di masa penjajahan Jepang, Arsilan tergabung ke dalam Tentara Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI), atau yang dulu lebih dikenal dengan sebutan Laskar Rakyat. Dalam organisasi itu, Arsilan ikut membela rakya Indonesia.

“Saya bukan orang kuli, kalau orang kuli minta gaji,” jelas Arsilan.

Menjadi Pemulung

Saat ini demi membiayai kehidupan sehari-harinya, Arsilan melakukan pekerjaan sebagai pemulung di sekitaran Tugu Proklamasi. Hasil yang didapat pun tidak menentu setiap harinya.

“Paling besar (pendapatan memulung) Rp20 ribu. Yang penting bisa untuk ngopi,” lanjutnya.
loading...