logo
×

Selasa, 15 September 2020

Haris Rusly Moti: Era Jokowi Dan LBP, Cengkeraman China Makin Membahayakan!

Haris Rusly Moti: Era Jokowi Dan LBP, Cengkeraman China Makin Membahayakan!

DEMOKRASI.CO.ID - Dominasi asing, khususnya China di berbagai sektor di Indonesia bukan lagi menjadi barang baru. Mulai dari sektor tambang hingga soal utang negara tak lepas dari keterlibatan negara berjuluk negeri tirai bambu itu.

Yang lebih membuat gerah, dewasa ini banyak pejabat yang secara terang-terangan membela kepentingan China di Bumi Pertiwi. Kritikan tersebut disampaikan aktivis Petisi ’28, Haris Rusly Moti meski tak menyebutkan pejabat mana yang ia maksud.

“Sobat, aku bingung dengan sejumlah pejabat negara yang begitu vokal bela kepentingan RRC (China) di Indonesia. Padahal mereka disumpah bela Indonesia,” kata aktivis Haris Rusly Moti di akun Twitternya, Senin (14/9).

Meski tak menjelaskan sosok yang dimaksud, masyarakat bisa melihat dengan jelas keberadaan China yang belakangan makin mendominasi di Indonesia.

“Di era Presiden Joko Widodo dan LBP (Luhut Binsar Panjaitan/Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi), dominasi RRC di dalam ekonomi, tambang, dan telekomunikasi mulai mencengkeram dan sangat membahayakan. Waspada!” tandasnya.

Merujuk pernyataan Haris Rusly Moti, China memang tercatat sebagai negara pemberi utang bagi Indonesia. Setidaknya, China tercatat menjadi negara pemberi utang terbanyak nomor empat setelah Singapura, Jepang, dan Amerika Serikat.

Per Mei 2020, setidaknya ULN pemerintah Indonesia ke China mencapai 1,78 miliar dolar AS, sementara ULN sektor swastanya mencapai 18,3 miliar dolar AS. Sehingga secara total ULN RI ke Negeri Tirai Bambu mencapai 20,1 miliar dolar AS.

China juga melebarkan sayapnya dalam bidang pertambangan Indonesia, khususnya batu bara. Bukan tanpa alasan, China merupakan negara yang paling banyak mengonsumsi batu bara, yakni mencapai 1.907 MTOE per tahun.

Sedangkan di sektor telekomunikasi, belum lama ini PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) menggandeng Alibaba Cloud dengan dalih mempercepat digitalisasi di Indonesia.
loading...