logo
×

Selasa, 15 September 2020

Jubir Presiden Fadjroel Rachman Disebut Buzzer dengan Pin Istana

Jubir Presiden Fadjroel Rachman Disebut Buzzer dengan Pin Istana

DEMOKRASI.CO.ID - Direktur Eksekutif Oversight of Indonesia`s Democratic Policy, Satyo Purwanto menyebut Jurubicara Presiden Joko Widodo, Fadjroel Rachman tidak lebih dari seorang buzzer yang beruntung memakai pin Istana Presiden.

Hal itu dia sampaikan untuk menanggapi pernyataan Jurubicara Presiden, Fadjroel Rachman yang mengetwitt sebuah tulisan “memang susah sih ini orang, enggak bisa kerja, maunya ribut aja” di akun twitternya @fadjroel_ pada Minggu 13 September 2020 lalu.

Satyo menyebutkan, dari rekam jejak saja tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang Fadjoel Rachman.

“Fadjroel ini buzzer berpin Istana, apakah dia ini pernah jadi karyawan?, apa dia pernah jadi pimpinan perusahaan?, apakah dia pernah pimpin sebuah Kementerian?, pernah jadi rektor sebuah Universitas?,” ujarnya seperti melansir rmol.id, Senin 14 September 2020.

Menurut Satyo, keterangan yang disampaikan Fadjroel tersebut ditujukkan untuk Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

“Menurut terawangan ahli nujum si Fadjroel ini lagi ngomongin Gubernur Jakarta, dia pikir mengendalikan penyebaran Covid-19 bisa cuma lewat nyinyir di twitter doang?” kata Satyo.

Dengan demikian, mantan Sekjen Prodem ini meminta agar Presiden Jokowi untuk memecat Fadjroel dari jabatan sebagai jurubicara.

“Jokowi mestinya segera pecat ini orang cuma jadi beban politik presiden,” pungkas Satyo.

Disisi lain, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah menyatakan terlalu sulit mencari sebuah prestasi dari Fadjroel Rachman sebagai Jurubicara Presiden.

Hal itu dia sampaikan untuk menangganpi tulisan Fadjroel di akun Twitter @fadjroel_ yang mengatakan “memang susah sih ini orang, enggak bisa kerja, maunya ribut aja”.

Menurut Dedi, kicauan Fadjroel tersebut tidak mencerminkan kualitas seorang pejabat negara.

“Sederhananya, kicauan semacam itu tidak mencerminkan kualitas pejabat negara. Sebagai Jubir Presiden mestinya ada hal etis yang dijaga, yakni ujaran publik. Terlebih jika itu berkaitan dengan hubungan sesama pejabat negara,” ujarnya.

Dengan demikian, imbuh Dedi Kurnia, berbekal kicauan Fadjroel tersebut sudah menjadi dasar yang kuat bagi Joko Widodo untuk menggantinya sebagai Jurubicara Presiden.

“Bisa jadi, terlalu sulit mencari prestasi Fadjroel sebagai Jubir Presiden, dan itu yang membuat kicauan sindiran itu mengemuka. Presiden mestinya tidak ragu mengganti jubir yang lebih elegan dan piawai menjaga nama baik jubir kepala negara,” pungkas Dedi.
loading...