logo
×

Sabtu, 12 September 2020

Prediksi Para Juru Wabah soal Kasus Corona di Indonesia yang Terbukti Benar

Prediksi Para Juru Wabah soal Kasus Corona di Indonesia yang Terbukti Benar

DEMOKRASI.CO.ID - Sebelum virus corona masuk ke Indonesia pada awal Maret 2020, sudah jauh-jauh hari peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health memperingatkan bahwa virus SARS-CoV-2 mungkin sudah masuk Indonesia sejak Januari 2020. Alih-alih mengencangkan ikat pinggang, pemerintah justru menganggap penelitian itu sebagai penghinaan.

Bagai buah simalakama, prediksi itu akhirnya terjadi juga. Corona di Indonesia mulai terkonfirmasi pada awal Maret 2020 dan kasusnya terus merangkak naik. Pemerintah lantas menerapkan peraturan yang disebut Pembatas Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah yang terkonfirmasi kasus COVID-19 untuk membendung penularan virus corona. Namun dalam pelaksanaannya, pemerintah terkesan bimbang. Di tengah kasus corona sedang tinggi-tingginya, PSBB justru dilonggarkan. 

Di sisi lain, para peneliti dan juru wabah terus memperingatkan pemerintah agar menerapkan peraturan ketat guna menahan laju penyebaran corona. Beberapa di antaranya bahkan melakukan serangkaian penelitian untuk memprediksi apa yang bakal terjadi jika pandemi terus dibiarkan tanpa ada peraturan yang jelas. Kini, sejumlah prediksi itu menjadi kenyataan. Berikut prediksi peneliti dan juru wabah yang terbukti benar.

 
Kurva Corona di Indonesia Diprediksi seperti ‘Gunung Gede’

18 Mei 2020, ketika pemerintah sedang gencar-gencarnya mencanangkan relaksasi PSBB, ahli epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono, mewanti-wanti agar pemerintah tidak salah langkah. Jika mereka nekat melakukan relaksasi ini, Pandu menyebut bakal terjadi berbagai kemungkinan. Salah satunya terjadi kenaikan kasus corona yang tidak konsisten, persis seperti landscape ‘Gunung Gede’. 

“Maksud kaya Gunung Gede tuh gini. Kurvanya naik turun, sudah sampai puncak, sudah turun bagus, belum sampai turun drastis, bisa naik lagi. Bahkan mungkin puncaknya lebih tinggi dari sebelumnya," jelasnya.

Kurva kasus corona di Indonesia hingga 9 September 2020. Foto: Google

Apa yang dikatakan Pandu benar-benar terjadi. Ini dapat dilihat pada gambar tabel di atas, di mana kurva corona di Indonesia tampak bergerak naik tidak beraturan. Bahkan, per 29 Agustus 2020, jumlahnya sudah naik di kisaran angka 3.000 kasus per hari. 

Menurut Pandu, kurva tidak beraturan ini tak lain karena kebijakan pemerintah yang melonggarkan peraturan ketika angka penularan virus mengalami penurunan. Padahal, kata Pandu, baik pemerintah maupun masyarakat harus tetap waspada dan jangan terlena dengan penurunan kasus corona. Karena bagaimanapun, virus masih berada sekitar masyarakat.

Kasus corona diprediksi mencapai 1.000 hingga 4.000 per hari 

Berdasarkan pemodelan yang dibuat tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia pada Juli 2020, pandemi virus corona di Indonesia diprediksi akan terus berlangsung sampai akhir tahun 2020.

Tim FKM UI juga memberikan prediksi tren penambahan kasus harian corona di Indonesia berdasarkan 3 level penanganan yang berbeda. Hasil prediksi menunjukkan bahwa jika peraturan pembatasan sosial dijalankan secara sedang, maka laporan jumlah kasus corona harian bisa mencapai 1.000 kasus. Sementara jika peraturan dilakukan secara longgar, maka kasus corona per hari bisa mencapai 4.000 kasus.

Nyatanya, sejak 15 Juni 2020, laporan kasus corona di Indonesia mulai memasuki jumlah angka yang diprediksi, kisaran 1.000 kasus per hari. Sementara belakangan ini, ketika PSBB mulai dilonggarkan, kasus corona melejit ke angka di atas 3.000 kasus per hari, mendekati jumlah prediksi FKM UI. 

Staf medis Indonesia ikut serta dalam tes massal untuk virus corona COVID-19 di stadion Patriot di Bekasi. Foto: AFP/REZAS

Prediksi jumlah kasus corona di Indonesia dari peneliti Unpad

Yuyun Hidayat, M.SIE., PhD, dosen Statistika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unpad dan timnya memprediksi total angka kasus dan kasus aktif COVID-19 di Indonesia. Mereka menggunakan model autoregresif modifikasi (modified autoregressive). 

Pertama, Yuyun memprediksi angka total kasus dari 31 Mei - 6 Juni. Menurut Yuyun, jumlah kasus corona dalam rentang waktu tersebut berkisar antara 29.053 - 32.585. Hasilnya, kasus yang diumumkan pemerintah di rentang waktu yang sama adalah 30.514. Ini artinya, prediksi jumlah kasus corona yang dilakukan Yuyun, terbukti benar. Begitupun prediksi kasus aktif berkisar 16.601-21.916, di mana angka aktualnya sebesar 18.806. 

Prediksi kedua dilakukan pada 7 Juni-13 Juni dengan total kasus berada pada 34.344 - 37.626. Hasilnya, jumlah kasus corona yang diumumkan pemerintah di rentang waktu tersebut adalah 37.420. Untuk prediksi angka kasus aktif berada pada 18.772 - 23.838, di mana aktualnya 21.553. 

Sementara prediksi ketiga dilakukan pada 14 Juni - 20 Juni dengan prediksi total kasus 41.236 - 45.345. Jumlah kasus yang diumumkan pemerintah dalam rentang waktu tersebut adalah 45.029. Sedangkan prediksi kasus aktif 20.640 - 27.201, dan jumlah yang diumumkan pemerintah 24.717.

Terakhir, prediksi keempat yang dilakukan pada 21 - 27 Juni yang kembali akurat. Prediksi total kasus barada di angka 50.595 - 56.589, dan jumlah yang diumumkan pemerintah adalah 52.812, sedangkan prediksi kasus aktif 23.098 - 32.818, dan aktualnya 28.183.

Prediksi corona di Indonesia mencapai 100.000 kasus di akhir Juli 2020

Pada 11 Juli 2020, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, memprediksi bahwa Indonesia akan memiliki 100.000 kasus corona pada akhir Juli 2020, melebihi kasus corona di China. Prediksi itu diambil berdasarkan data kasus per hari yang terus mengalami lonjakan di setiap harinya. 

Prediksi Ari ternyata benar. Di akhir bulan Juli 2020, tepatnya Jumat (31/7), kasus positif corona di Indonesia mengalami penambahan 2.040 kasus positif baru. Dengan begitu, total corona di Indonesia di akhir bulan Juli mencapai 108.376 kasus terkonfirmasi. Sementara hari sebelumnya, Kamis (30/7), jumlah yang terinfeksi mencapai 106.336 orang.   

Peneliti UI prediksi kasus corona melesat setelah lebaran

Pada pertengahan Mei 2020, ahli epidemiologi UI, Pandu Riono, memprediksi bakal terjadi lonjakan kasus corona di Indonesia setelah Hari Raya Lebaran. Prediksi ini dibuat berdasarkan kecenderungan tindak mobilitas masyarakat melalui perilaku mudik dan tidak mudik.

Menurutnya, pergerakan yang dilakukan masyarakat selama pandemi sangat berpengaruh terhadap bertambahnya jumlah kasus pasien positif di Jakarta maupun non-Jakarta. Hasil prediksi ini dibuat lewat pemodelan data estimasi kumulatif berdasarkan data utama terkait orang dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, yang melakukan mudik Lebaran ke provinsi Jawa dan lainnya. 

Hasil prediksi Pandu juga terbukti benar. Menurut Doni Monardo, yang kala itu menjabat sebagai Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, telah terjadi peningkatan kasus corona pasca-lebaran yang jatuh pada Sabtu-Minggu 24 Mei 2020.

Sejumlah kendaraan memadati jalan menuju titik pemeriksaan pemudik di perbatasan Karawang-Bekasi, Jawa Barat, Jumat (22/5/2020).  Foto: ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar

Doni mengatakan, peningkatan kasus corona pasca-lebaran itu terjadi di daerah yang menunjukkan masih ada warga yang tetap mudik, sehingga memicu sebaran kasus baru. "Jumlah kasus yang terjadi di daerah-daerah bervariasi ada daerah dengan pengendalian bagus dan ada daerah dapatkan kasus cukup tinggi," tuturnya.

Jika melihat laporan kasus corona per hari, kasus corona mulai naik 14 hari setelah lebaran atau per 9 Juni 2020 dengan laporan kasus harian mencapai 1.000 kasus. Ini artinya, corona mulai menyebar di daerah-daerah di Indonesia akibat perilaku masyarakat yang nekat mudik lebaran. 
 
Simpulan

Deretan prediksi di atas bisa menjadi pertimbangan pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan. Pemerintah harus mulai mendengar saran yang direkomendasikan para ilmuwan atau ahli epidemiologi.

Infografik Corona di RI: Prediksi Jitu Para Juru Wabah. Foto: kumparan

Seperti kata mantan wakil presiden, Jusuf Kalla, pandemi virus corona bisa dihentikan dengan melihat dasar masalah, yakni penularan virus yang terjadi antarmanusia. Maka, hal yang perlu pemerintah lakukan adalah menerapkan intervensi ketat dengan membatasi aktivitas sosial. 

“Bagaimana cara-cara intervensi yang maksimal diterapkan? Salah satunya adalah dengan mendengarkan saran para pakar atau ilmuwan kesehatan dalam menerapkan setiap kebijakan terkait pembatasan sosial. Sebab, merekalah yang pada akhirnya bisa menghentikan wabah virus corona,” kata JK beberapa waktu lalu.
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: