logo
×

Selasa, 02 Februari 2021

Diunggulkan Jokowi-Prabowo, Lumbung Pangan di Kalteng Terancam Gagal Panen

Diunggulkan Jokowi-Prabowo, Lumbung Pangan di Kalteng Terancam Gagal Panen

DEMOKRASI.CO.ID - Program lumbung pangan atau food estate di Kalimantan Tengah terancam gagal panen. Sawah di lokasi proyek lumbung pangan nasional yang diunggulkan Presiden Joko Widodo itu gagal mencapai target pemerintah.

Para petani di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah mengeluhkan padi mereka yang tak berisi. Seorang petani bernama Mardi Pranoto mengatakan, sawahnya hanya menghasilkan 2 ton gabah kering giling per hektare.

Padahal, biasanya sawah miliknya menghasilkan 4 ton sampai 5 ton gabah kering giling per hektare.

“Silakan pemerintah lihat sendiri. Ini karena kami diminta menanam lebih cepat,” kata Mardi, dikutip dari Harian Kompas.

Petani di Desa Belanti Siam itu menyebut, kegagalan panen ini karena petani mengikuti waktu tanam arahan pemerintah. Bibit padi yang digunakan juga mereka ganti sesuai keinginan pemerintah.

“Kami sudah bertahun-tahun di sini, dari generasi ke generasi. Harusnya pemerintah dengarkan apa yang kami alami atau pengalaman kami, lalu jalankan,” tambah Mardi.

Petani lain bernama Agus juga mengakui sawahnya gagal panen. Lahan seluas 2 hektare milik keluarganya hanya menghasilkan 800 Kg per hektare.

Hama tikus dan cuaca buruk, berupa angin kencang dan hujan deras ikut menggagalkan panen di sawah Agus.

“Harusnya pakai bibit kami saja, bibit baru tidak cocok,” kata Agus.

Petani di Desa Gadabung, tetangga Desa Belanti Siam, juga mengalami gagal panen.

“Pemerintah meminta kami menanam tiga kali setahun. Ini harus dievaluasi lagi karena biasanya kami hanya dua kal tanam,” kata Surapto, Kepala Desa Gadabung.

Jokowi berharap food estate di Kalteng ini dapat menghasilkan 4-5 ton per hektare tiap kali panen untuk membantu mencapai kedaulatan pangan. 

Ia sampai memerintahkan Menteri Pertahanan Prabowo mengawal program lumbung pangan seluas 148 ribu hektare agar menghasilkan 592 ribu ton hingga 740 ribu ton sekali panen.

Pemerintah sampai ikut menerjunkan tentara untuk membajak sawah. Para petani juga mendapat bantuan pupuk, kapur, benih, dan alat pertanian.

Petani telah menanami sawah mereka sejak Oktober, lebih cepat daripada masa tanam sebelumnya pada November atau Desember.

Namun, menjelang panen raya pada Februari 2021, petani mengeluhkan gagal panen. Petani Kalteng biasanya melakukan panen pada bulan April atau Mei.

Ahmad Hidayat, tenaga teknis lapangan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian menyebut, petani masih menggunakan bibit uji coba. Hal ini ikut menyebabkan gagal panen.

Selama ini, Kementerian Peranian menguji coba berbagai jenis bibit di lahan-lahan yang berbeda, mulai dari bibit Hibrida hingga Impair 42.

Anggota DPD Agustin Teras Nanang meminta pemerintah memperhatikan masalah petani ini.

“Kondisi ini harus menjadi perhatian pemerintah karena erat kaitannya dengan pelayanan publik. Saya akan sampaikan masalah ini kepada menteri pertanian dengan harapan apa yang menjadi keinginan mereka (petani) bisa terwujud,” kata Teras. []

Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: