logo
×

Minggu, 07 Februari 2021

LDII Soroti Kegaduhan Politik Saling Serang di Medsos, Gak Heran Ujaran Kebencian Malah Jadi Pemandangan Rutin

LDII Soroti Kegaduhan Politik Saling Serang di Medsos, Gak Heran Ujaran Kebencian Malah Jadi Pemandangan Rutin

DEMOKRASI.CO.ID - Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso turut menyoroti kegaduhan tokoh politik yang akhir-akhir saling serang di media sosial.

Menurutnya, kegaduhan para tokoh Indonesia tak mencerminkan karakter bangsa Indonesia yang menghargai perbedaan, toleran, tenggang rasa serta gotong-royong.

“Media sosial kini menjurus pada perilaku nirakhlak yang dipertontonkan ke publik. Meskipun bangsa ini direkatkan oleh Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika, namun komentar yang menyerang SARA sangat disayangkan,” kata Chriswanto Santoso dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (6/2/2021).

Seharusnya, kata Chriswanto, semua pihak terutama para politisi dan para buzzer yang berafiliasi dengan kepentingan tertentu, menyadari kebangsaan Indonesia tak bersifat natural atau alamiah.

“Nasionalisme kita bukan seperti nasionalisme Jerman ataupun bangsa-bangsa Skandinavia yang disatukan oleh kesamaan bahasa dan suku. Indonesia menyatu karena perasaan senasib sebagai bangsa yang dijajah, ditindas, dan dihina,” kata Chriswanto.

Chriswanto lantas menukil pesan Bung Karno, bahwa bangsa Indonesia membutuhkan nation building.

Namun, dalam kasus buzzer, lanjutnya, mereka malah memainkan berbagai isu agar daya nalar kritis masyarakat menjadi tumpul.

“Jadi, tak mengherankan ujaran kebencian bahkan yang menyerang SARA menjadi pemandangan yang rutin dalam media sosial. Sementara, mereka yang kritis-konstruktif, aspiratif, dan mengedukasi mulai terpinggir,” ujarnya.

Sementara itu, praktisi telematika Lukman A. Fatah mengatakan, agar masyarakat tak mudah membagikan hal-hal yang merusak kerukunan, dibutuhkan sosial cek ricek.

“Dalam media sosial cek ricek sangat lemah, apalagi dengan mayoritas penduduk Indonesia adalah umat Islam, dalam Al Quran diajarkan supaya berita itu di-tabayun atau dicek lagi kebenarannya,” papar Lukman yang juga Ketua DPP LDII.

Ia mengatakan, bila cek dan ricek telah dilakukan, hal lain adalah memikirkan kembali, manfaat dari penyebaran informasi tersebut.

“Manfaat dan mudarat sebelum sharing informasi harus dilakukan meskipun mengetahui informasi tersebut adalah benar,” ujar Lukman. []

loading...