logo
×

Senin, 08 Maret 2021

"Ujian Politik" Partai

"Ujian Politik" Partai

Oleh:Chusnatul Jannah

KLB Partai Demokrat versi Deli Serdang, Sumatra Utara mengukuhkan Moeldoko sebagai Ketua Umum. KLB ini dianggap ilegal karena mencongkel paksa AHY sebagai Ketua Umum yang sah.

Moeldoko dihujat karena dinilai tak tahu balas budi. Ada jasa SBY atas kepopulerannya hari ini. Ada andil SBY bagi karier kemiliteran Moeldoko yang moncer.

Hal ini mengingatkan saya pada sabda Rasulullah SAW tentang hasrat manusia yang tak pernah puas. Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)

Begitulah sifat manusia. Tak puas satu jabatan, ia meminta jabatan lain. Ambisi kekuasaan bahkan bisa melepas urat malu dari dirinya. Tak cukup jadi bawahan, ia menginginkan jadi pucuk pimpinan. Hasrat dan ambisi ini tak akan berhenti sebelum dunia digenggamnya. Sebuah gambaran singkat mengenai apa yang disebut "rakus".

Padahal, jabatan dan kekuasaan sejatinya hanyalah beban. Menanggung pertanggungjawaban yang berat. Tapi manusia berlomba-lomba meraihnya demi memuaskan ambisi berkuasa meski menghalalkan segala cara.

Apa yang menimpa Partai Demokrat pernah terjadi pada partai lain. Perpecahan internal di tubuh partai seperti anomali bagi sebuah partai di sistem demokrasi. Siapa yang berambisi kuat, dia akan berjuang sampai tujuan dan kepentingannya tercapai.

Partai seperti tak memiliki ikatan kuat di antara anggota maupun simpatisan. Hampir mayoritas bergerak karena kepentingan.

Setidaknya, "ujian" yang mendera Demokrat memberi kita pelajaran penting:

Pertama, partai haruslah memiliki prinsip dasar dan metode baku dalam menerapkan prinsip tersebut. Dengan begitu, ia tidak akan mudah dirongrong berbagai intrik yang akan mengobrak-abrik persatuan partai.

Kedua, partai harus memiliki ikatan kepartaian yang kuat. Dalam hal ini, proses kaderisasi menjadi poin penting. Jika partai dibangun berdasarkan kepentingan semata, tatkala tujuan itu berbeda, maka partai mudah digoyang pihak luar yang memang sengaja ingin memecah belah kekuatan partai.

Ketiga, orang-orang yang tergabung dalam partai haruslah memiliki kesadaran yang benar. Ia bergabung bukan karena iming-iming jabatan atau sekadar menjadikan partai sebagai kendaraan politik.

Hanya saja, sulit mewujudkan poin-poin itu jika partai berdiri hanya untuk menjadi lumbung suara di pemilu. Ada tidaknya partai seperti sama saja. Tak berpengaruh apa-apa bagi masyarakat. Yang ada partai terjebak dalam politik kepentingan dan nafsu berkuasa. Hilang sudah hakikat partai yang sesungguhnya.

Oleh karenanya, idealisme partai tak boleh luntur. Jika teguh memilih berada di luar lingkaran kekuasaan, maka konsistensi itu haruslah terjaga meski dihantam badai kudeta. Karena konsistensi partai memiliki arti penting bagi rakyat. Jangan karena kekuasaan dan jabatan, lalu berpaling dari rakyat.

Jangan karena terbuai iming-iming jabatan, rakyat ditipu habis-habisan. Kata orang Jawa, "Isuk dele, sore tempe". Hari ini oposisi, besok berkoalisi. Fenomena itu biasa terjadi di sistem demokrasi.

Bagaimana mungkin meraih hati rakyat jika partai inkonsisten? Kecuali rakyat memilih pragmatis. Setitik materi meluluhkan dan membutakan kesadaran politik mereka. Jika terus begini, peran partai sebagai wadah mendidik dan memahamkan politik yang benar menjadi tak berarti.

Mari belajar politik kepada Rasulullah SAW. Pertama, Rasulullah menyatukan dua kekuatan besar di Madinah dan dua kelompok berbeda. Beliau menyatukan suku Aus dan Khazraj serta mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar dengan kekuatan akidah Islam yang kokoh. Kekuatan yang paling kuat di antara semua ikatan manusia.

Kedua, Rasulullah amanah dalam menjalankan tugas sebagai kepala negara. Kekonsistenannya berucap dan bertindak membuatnya dipercaya berbagai pihak. Tak pernah berdusta, tidak pula mengingkari janjinya. Hal ini tercermin saat pelaksanaan perjanjian Hudaibiyah serta  mengikat perjanjian dengan kaum Yahudi di Madinah.

Ketiga, Rasulullah pemimpin adil. Beliau menegakkan hukum secara adil. Beliau pernah mengatakan, "Jika saja putriku Fatima yang mencuri, aku akan memotong tangannya".

Keempat, politik Rasulullah itu santun. Beliau tidak pernah mencontohkan meraih kekuasaan dengan cara barbar atau menggunakan kekerasan. Beliau menyampaikan kritik terhadap sistem jahiliyah kala itu dengan lisan.

Membantah argumen kaum Quraisy dengan pemikiran Islam yang termaktub dalam wahyu yang turun padanya. Santun bukan berarti melembek pada kezaliman. Beliau teguh menyampaikan Islam tanpa berkompromi dengan kemungkaran.

Islam memberikan teladan dalam berpolitik. Politik Islam bukanlah politik memperpanjang dinasti atau oligarki. Politik sesungguhnya ialah riayah suunil ummat, yakni mengurusi urusan umat/rakyat.

Partai politik mestinya bermuhasabah diri. Apakah peran dan fungsi politik yang dijalankan sudah benar atau malah menyimpang? Semoga menjadi perenungan.

(Pemerhati Politik Islam)

loading...