logo
×

Sabtu, 15 Januari 2022

Mantan PM Ukraina Ingatkan Presiden Zelensky: Jangan Bertemu Putin, Kalau Tidak Ingin "Disantap" sebagai Sarapan

Mantan PM Ukraina Ingatkan Presiden Zelensky: Jangan Bertemu Putin, Kalau Tidak Ingin "Disantap" sebagai Sarapan

DEMOKRASI.CO.ID - Satu-satunya sikap yang harus diambil saat berususan dengan Rusia bukanlah bernegosiasi, tapi berpegang teguh pada persatuan dan pendirian.

Begitu pesan yang disampaikan mantan Perdana Menteri Ukraina Arseny Yatsenyuk kepada Presiden Volodymyr Zelensky di Forum Keamanan Kiev, yang disiarkan oleh saluran YouTube Open Ukraina pada Rabu (13/1) waktu setempat.

Ia mengatakan Zelenky harus menghindari diskusi langsung dengan mitranya dari Rusia, Vladimir Putin.

"Cara terbaik untuk menghalangi Rusia adalah dengan tetap kuat dan bersatu, baik di dalam negeri maupun internasional," kata Arseny, seperti dikutip dari RT, Sabtu (15/1).

“Saya tidak mengkritik Zelensky, tetapi saya menyarankan dia untuk tidak melakukan negosiasi terpisah dengan Putin," katanya, menambahkan bahwa presiden Ukraina hanya dapat berbicara dengan Putin jika ditemani oleh AS dan Uni Eropa.

Jika tidak, kata Yatsenyuk, jika Zelensky berhadapan langsung dengan Putin, pemimpin Rusia itu "akan memakannya untuk sarapan."

Yatsenyuk juga bersikeras bahwa Kiev harus menerima senjata pertahanan mematikan untuk mencegah dan menghentikan Moskow.

Pernyataan mantan perdana menteri Ukraina itu muncul di tengah meningkatnya permusuhan antara kedua negara Eropa Timur. Pada hari Rabu, diplomat Rusia dan perwakilan dari NATO bertemu di Brussels untuk membahas masalah keamanan di benua Eropa, di mana Kiev adalah salah satu titik fokus utama.

Jens Stoltenberg, Sekretaris Jenderal blok militer pimpinan AS, menjelaskan bahwa NATO tidak siap untuk berkompromi pada apa yang dianggapnya sebagai nilai-nilai intinya untuk memenuhi tuntutan Rusia.

Bulan lalu, Moskow meminta jaminan tertulis bahwa Ukraina tidak akan diterima sebagai anggota blok tersebut.

Menurut kepala NATO, hanya Ukraina dan 30 sekutu yang dapat memutuskan kapan Ukraina menjadi anggota, karena Rusia tidak memiliki hak veto.

Ketegangan di perbatasan Rusia-Ukraina juga telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Pada akhir November, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov memperingatkan tentang banyaknya pasukan dan peralatan dikumpulkan di jalur kontak di Donbas yang didukung oleh banyak instruktur Barat di Ukraina.

Diplomat top itu juga menuduh negara-negara Barat mendorong para pejabat di Kiev untuk terlibat dalam provokasi anti-Rusia, yang dia peringatkan dapat berubah menjadi petualangan militer. [rmol]

Komentar Pembaca