logo
×

Jumat, 14 Januari 2022

Proyek Kereta Cepat Jkt-Bdg Datangkan Ahli dari China, Ini Fakta-Faktanya

Proyek Kereta Cepat Jkt-Bdg Datangkan Ahli dari China, Ini Fakta-Faktanya

DEMOKRASI.CO.ID - Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, mengunjungi lokasi pengerjaan konstruksi Tunnel 2 Kereta Cepat Jakarta-Bandung pada Rabu (12/1). Dalam kesempatan itu, Luhut membeberkan sejumlah tantangan teknis dalam proyek KCJB.

PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sampai mendatangkan 17 ahli penggalian atau grouting dari China. Berikut adalah fakta-faktanya.

Penjelasan KCIC Mengenai Proyek Kereta Cepat JKT-Bdg

Direktur Utama KCIC Dwiyana Slamet Riyadi menjelaskan, Tunnel 2 Kereta Cepat Jakarta-Bandung ini memang memiliki tantangannya tersendiri. Tunnel 2 memiliki tantangan geografis yang tinggi, karena lokasinya berada di area clay shale atau mirip seperti tanah lempung.

"Tunnel 2 memang salah satu titik tersulit. Lokasinya berada di area clay shale yang karakteristik tanahnya mudah lapuk apabila terekspos saat penggalian berlangsung. Untuk itu, diperlukan kehati-hatian dalam pengerjaannya dan tidak bisa dilakukan secara terburu-buru," kata Dwiyana dalam keterangan resmi.

Dalam penanganan Tunnel 2 tersebutlah terjadi transfer teknologi antara tenaga ahli tunnel dan grouting dari China, dengan tenaga ahli lokal yakni dari ITB. Menurutnya, para tenaga ahli dari China ataupun ITB berkolaborasi menangani tantangan geografis di Tunnel 2.

Menko Marves Luhut Pandjaitan kunjungi pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung. Foto: Dok. PT KCIC


Cerita Luhut soal 17 Ahli dari China Didatangkan Demi Terowongan Kereta Cepat

"Saat turun dari kereta inspeksi, saya menyaksikan sendiri bagaimana terowongan yang memiliki total panjang 1.052 m ini adalah salah satu struktur konstruksi yang punya tantangan geografis cukup tinggi. Belum lagi, terowongan 2 juga merupakan terowongan single-hole double track dengan kedalaman terkubur maksimum sedalam 53,6 m. Kesulitan pembangunan terowongan ini juga semakin kompleks karena berada di area clay shale atau jenis tanah dengan karakteristik yang sangat mudah melapuk apabila terkena air dan terekspose penggalian pada saat konstruksi," papar Luhut.

Karena itu, Luhut merasa pekerjaan tersebut perlu dilakukan dengan kehati-hatian dan kecermatan yang tinggi. Pertimbangan berbagai faktor keselamatan perlu diperhatikan secara serius mengingat pembangunan semacam ini belum pernah dilakukan sebelumnya. "Karena untuk membenahi hal tersebut akan dilakukan proses penyuntikan sejumlah bahan cor ke dalam tanah untuk memadatkan struktur tanah yang ada nantinya," ujarnya.

Komentar Pembaca