![]() |
| Presiden Jokowi menerima kunjungan delegasi FIFA dan AFC di Istana Merdeka, Jakarta (2/10). Dari kiri: Mariano Araneta (Komite Eksekutif AFC dari Filipina), Kozo Tashima (Anggota Komite Eksekutif FIFA dari Jepang), Pangeran Abdullah Ibni Sutlan Ahmad Shah ((Anggota Komite Eksekutif FIFA dari Malaysia), Presiden Joko Widodo dan Menteri Pemuda dan Olah Raga Imam Nahrowi. |
Dalam pertemuan, baik FIFA maupun AFC sepakat bahwa ke depannya sepakbola Indonesia membutuhkan sebuah perubahan. Hal itu pula yang akan menjadi acuan dasar dalam membenahi segala aspek yang menentukan perkembangan sepakbola di masa depan.
"Jelas, secara umum FIFA, AFC, PSSI, dan Pemerintah memandang Indonesia merupakan negara yang berpotensi tinggi dalam sepakbola dan untuk itu, reformasi dibutuhkan untuk memaksimalkan potensi mereka," sebut FIFA dalam pernyataan yang dimuat pada laman resmi mereka.
"Presiden Republik Indonesia memahami bagaimanapun reformasi harus terjadi di bawah naungan Statuta FIFA, dan Pemerintah sebagai salah satu pemangku kepentingan menyambut baik reformasi itu," papar FIFA.
Delegasi FIFA dan AFC yang diwakili oleh Kohzo Tashima (anggota Komite Eksekutif FIFA), HRH Pangeran Abdullah (anggota Komite Eksekutif FIFA), Mariano Araneta (anggota Komite Eksekutif AFC), James Johnson (AFC), Sanjeevan (AFC), dan John Windsor (AFC) juga menyambut positif agenda pertemuan tersebut.
"Presiden Republik Indonesia menyatakan perhatian soal sepakbola Indonesia dan menegaskan kembali komitmennya untuk pengembangan permainan. Delegasi ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, termasuk Presiden Republik Indonesia atas pertemuan yang produktif," ungkap FIFA.
FIFA kembali dijadwalkan untuk kembali melakukan pertemuan dengan Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), PT Liga Indonesia, serta pertemuan terakhir dengan PSSI, pada Selasa, 3 November 2015.(vv)


