![]() |
| Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di atas KRI Barakuda-633, saat peledakan kapal nelayan asal Thailand di Selat Dempo, Kepri, 9 Februari 2015. (Int) |
Dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, keduanya terbang sekitar 1,5 jam ke arah selatan Pulau Jawa. Meski pesawat tersebut berbadan kecil, mantan menko perekonomian di era Gus Dur itu mengacungi jempol peralatan yang ada dalam pesawat buatan Prancis tersebut.
"Yang menarik, pesawat pengintai milik Boeing itu cukup kecil, tapi peralatannya lumayan bagus dan stabil," ujar Rizal di Jakarta, Rabu (4/11).
Kehebatan lainnya, pesawat Boeing tersebut bisa memonitor dan memantau pergerakkan kapal-kapal di perairan Indonesia, baik yang dilengkapi pemancar (transmitter) maupun yang tifak.
Dengan begitu pesawat pemantau tersebut bisa membantu pemerintah untuk menjaga laut dari ulah para pelaku illegal fishing.
"Kita bisa memantau kapal-kapal yang ada di perairan. Ini bisa menjangkau (kapal yang dilengkapi) transmitter, maupun yang tidak ada transmitter,” kata Rizal.
Biasanya kapal yang tidak memiliki transimitter adalah kapal perompak ikan Indonesia. Meskipun begitu, keberadaannya tetap bisa dimonitor. “Wilayah Indonesia timur dan barat bisa ter-cover. Sangat bermanfaat untuk memantau illegal fishing dan lebih efisien dibanding pesawat besar pengintai," kata Rizal.(jpnn)


