
NBCIndonesia.com - Melalui perbedaan, bangsa Indonesia dapat bersatu dari Sabang hingga Merauke. Perbedaan tersebut merupakan sebuah keindahan mozaik yang dapat menyatukan warga Indonesia.
Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya diwarnai oleh paham radikalisme dan fundamentalis yang ada. Indonesia yang memiliki banyak perbedaan, membuat paham tersebut berpeluang besar untuk masuk.
Salah satu ciri radikalisme adalah tidak terbuka dengan pendapat dan masih menganggap paham tersebut yang paling benar. Hal tersebut diungkapkan oleh anggota MPR Ketua Fraksi Partai PKS T. B. Soenmandjaja saat menjadi pembicara dalam acara Netizens Jogja Ngobrol Bareng MPR di Hotel Eastparc, Yogyakarta, Sabtu (19/03/2016).
Acara yang diselenggarakan sejak Jumat (18/03/2016) ini merupakan kerja sama antara MPR RI dengan komunitas blogger Jogja. Dalam kesempatan kali ini, Soenmandjaja mengajak peserta yang terdiri dari para netizen dan blogger untuk memerangi radikalisme dan memperkaya pemahaman Pancasila serta wawasan kebangsaan.
Perbedaan di Indonesia juga menuntut adanya toleransi beragama. Menurut Soenmandjaja, jika terjadi masalah mengenai perbedaan agama, masyarakat tidak perlu menyalahkan agama yang dianut oleh paham radikal tersebut.
"Masalah radikalisme bukan hanya ideologi, tapi bisa saja masalah ekonomi. Jangan menyalahkan agamanya, tetapi salahkan pribadi pemeluk agama tersebut," ungkapnya.
Namun, beliau menambahkan ada tiga faktor yang menyebabkan seseorang menjadi radikal dan fundametalisme. Tiga faktor tersebut adalah faktor keluarga, dimana bisa saja pada masa dahulu keluarga orang tersebut mengalami konflik yang membekas pada dirinya. Faktor kedua adalah proses pendidikan atau pengajaran. Sementara faktor ketiga adalah pilihan.
"Seseorang bisa memilih menjadi radikal atau tidak," ujarnya.
Pada acara yang berlangsung dengan keseruan ini, Soenmandjaja berpesan kepada para netizen untuk menjadi ujung tombak dalam menjaga radikalisme dan penjaga akhir NKRI.
"Empat Pilar MPR RI punya filosofi indah yang mampu menangkal radikalisme," tutupnya.(kp)

