logo
×

Kamis, 31 Maret 2016

Inilah Kisah Orang-orang Minang yang Murtad, Memakai Atribut-atribut Budaya Minang untuk Kristenisasi

Inilah Kisah Orang-orang Minang yang Murtad, Memakai Atribut-atribut Budaya Minang untuk Kristenisasi

NBCIndonesia.com - Jika bercerita perihal pemurtadan atau kristenisasi maka sebagian besar dari kita akan terkenang akan satu sosok yang bernama Yanwardi. Dia adalah seorang Mantan Minangkabau yang berasal dari Lubuak Basuang Kabupaten Agam, dahulunya bersukukan Koto. Dia memiliki seorang nenek yang telah hajah yakni Oemi Kalsum dan ibunya bernama Saumil Warsih, kedua-duanya telah almarhum.

Dalam keseharian dia menyematkan nama sukunya di belakang namanya sehingga menjadi Yanwardi Koto. Anak-anaknya pun diberi nama belakang yang sama yakni Koto pula. Anak-anaknya tersebut ialah Zedi Koto dan Zecha Koto, sedangkan isterinya bernama Yanthie Gouw seorang perempuan dari Manado Sulawesi Utara.

Sebenarnya terdapat sekitar 30-an orang pendeta Nasrani yang dahulunya ialah orang Minangkabau. Namun yang berhasil kami dapatkan nama-namanya hanyalah empat orang saja yakni:

1. AKMAL SANI, asal Koto Baru Pangkalan, Kabupaten Limo Puluah Koto.

Dia merupakan tokoh dibalik INJIL Berbahasa Minang. Pendiri dan Ketua PKSB, yaitu: Persekutuan Kristen Sumatera Barat (PKSB).

2. YANUARDI KOTO, asal Lubuk Basung, Kabupaten Agam.

Para Jemaat Gereja Kristen Nazarene Rantau Jakarta

Ungu ialah salah satu warna kebesaran dari Gereja Kristen. Merupakan warna tergelap dalam Gereja dan memiliki makna pertobatan yang sungguh-sungguh. Untuk lebih jelas silahkan dilihat di:
http://viktorabadiwaruwu.blogspot.com/2010/01/arti-simbol-simbol-dan-warna-dalam.html

Ketua Yayasan Sumatera Barat yang berkantor di Jakarta. Yayasan ini berfungsi sebagai lembaga pencari dana dari Luar Negeri dan pengartur MISI/ manajemen pemurtadan. Orang inilah yang berada di balik malapetaka yang menimpa Wawah pada tahun 1999.

3. SYOFYAN asal LINTAU, Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar. Pimpinan Sekolah Tinggi Teologia (STT) milik Doulos World Mission (DWM) Amerika, yang berada di desa terpencil di bilangan Majalengka, Jawa Barat. Sekolah ini merupakan pusat pendidikan dan pembinaan Pendeta untuk Kristenisasi di Minangkabau abad ke 21. Paling tidak (DATA 2005) sudah 623 orang anak Minang yang sudah dikristenkan sejak tahun 2000. Mereka disebar di Pulau Jawa, diasramakan, disekolahkan, dikuliahkan, dimodali berdagang, dihidupi.

Paduan Suara kanak-kanak pada Gereja Kristen Nazarene Rantau Jakarta yang mengiringi ritual agama nasrani di Gereja mereka.
4. MARDJOHAN RASYID, asal Sawahlunto. Pimpinan PKSB, yaitu: Persekutuan Kristen Sumatera Barat.

Sungguh sangat mengejutkan tatkala mendapat kabar buruk berupa malapetaka ini. Seperti apakah negeri yang akan kita tinggalkan untuk anak kamanakan kita nantinya duhai engku dan encik sekalian.

Karena sulit bagi kami untuk mendapatkan data-data perihal para pendeta yang lain maka untuk kali ini akan kami coba membahas perihal Sang Murtadin Yanwardi. Sekarang murtadin ini telah menjadi pendeta dan sangat giat dalam melakukan misinya terutama sekali kepada perantau orang-orang Minangkabau di Sumatra Barat. Selain memiliki yayasan, dia juga mendirikan Gereja Kristen Nazarene Rantau Jakarta atau biasa disingkat GKN Rantau Jakarta. Juga ada Gereja Kristen Rantau Padang namun tampaknya mereka memiliki kepengurusan yang sama.

Afolo Waruwu & Yanwardi.
Gereja ini menggunakan simbol-simbol Minangkabau dalam melaksanakan upacara keagamaan mereka seperti menggunakan beberapa ukiran khas Minangkabau pada ruangan kebaktian mereka. Menggunakan pakaian adat Minangkabau, simbol-simbol rumah gadang, dan lain sebagainya. Gereja inilah yang menjadi tempat Yanwardi “menggembalakan domba-dombanya” yang tersesat. Termasuk di dalamnya anak dan isterinya.

Yanwardi memiliki seorang kawan yakni sepasang suami isteri. Si suami juga seorang pendeta gereja di Padang. Namanya lelaki tersebut ialah Afolo Waruwu dan isterinya ialah Mei S.K.Hardjolelono. Pasangan ini bersama Yanwardi tampaknya berkawan dekat.

Yanthie-Isteri Yanwardi (kiri) & Mei-Isteri Afolo (kanan)
Walaupun begitu kami sangatlah sangsi bahwa anggota jemaat gereja GKN Rantau Padang atau Jakarta sepenuhnya orang Minangkabau. Sebab kami sangat yakin bahwa etnis Batak justeru lebih banyak mendominasi bersama etnis lainnya.

Beberapa waktu lalu menyebar foto Yanwardi dengan memakai pakaian kebesaran seorang penghulu dalam melaksanakan ritual agamanya di gereja. Hal ini tentulah sangat menyakitkan bagi sebagian besar orang Minangkabau. Namun begitu hal serupa ini telah berlangsung lama namun baru mengemuka sekarang.

Segelintir fihak (orang Minangkabau) yang berideologikan SEPILIS mempertanyakan kemarahan tersebut. Sebab menurut mereka belum ada hitam di atas putih, atau suatu produk hukum yang jelas-jelas menyatakan bahwa seluruh simbol-simbol Adat Minangkabau tidak boleh dipakai oleh penganut agama lain, atau dipakai dalam ritual ibadah agama lain.

Afolo & Fauzi Bahar yang semasa itu masih menjadi “leader di Padang”
Kami kembali terkenang akan beberapa kabar yang serupa tapi tak sama juga terjadi di daerah lain. Seperti yang terjadi pada salah satu kawasan di Jabodetabek pada tahun 1999. Dimana pada perayaan natal di Kampung Sawah, Pondok Gede, Kota Bekasi para jemaat dari gereja tersebut menggunakan pakaian Adat Betawi dalam melaksanakan ritual agama mereka. Walaupun jumlah orang betawi hanya 800 orang dari 4.000 orang jemaat gereja. Masyarakat banyak yang protes namun kalangan Liberal mulai mencemooh dengan mengatakan orang Islam tak memiliki “toleransi”. Mereka beranggapan simbol-simbol Budaya Betawi bukan hanya milik umat Islam.

Afolo (disebelah kiri bapak berbaju biru muda). tampaknya dalam salah satu acara resmi bersama pemuka agama lain
Begitu pulalah agaknya yang berlaku di Minangkabau ini. Sudah menjadi muslihat bagi orang-orang kafir ini dalam menyebarkan agamanya, mereka akan menggunakan segala tipu-daya. Dan sudah menjadi kebijakan mereka pula untuk mengadopsi seluruh elemen budaya lokal ke dalam ritual agama mereka. Tujuannya ialah untuk lebih memudahkan jalan bagi mereka untuk mengabarkan “Kabar Gembira dari Tuhan Yesus” kepada penduduk setempat.

Yanwardi & Afolo dalam pakaian Kependetaan mereka. Berfoto bersama pengurus Gereja Kristen Nazarene Rantau
Yang mereka lakukan sekarang ialah mendobrak, awalnya memang susah, orang akan banyak yang marah dan mencaci. Namun apabila mereka jalan terus tak tergoyahkan, dilakukan terus-menerus, maka lama-lama orang Islam Minangkabau itu akan penat jua. Dan akhirnya tiada lagi halangan bagi misi mereka. Seperti yang terjadi di Bekasi tersebut, hingga saat ini Misa Natal dengan memakai pakaian adat Betawi masih berlangsung.

Bagaimana gerangan pendapat engku dan encik? Akan mendiamkan hingga nantinya pintu rumah engku dan encik diketuk oleh para ‘pengembala” dari Nazaret?


Engku & Encik lebih tahu

Na’uzubillah..

Salah seorang kenalan di Padang pernah mengabarkan bahwa pernah dua orang penginjil datang mengetuk pintu rumahnya guna mengabarkan “Kabar gembira dari Tuhan Yesus”. Walau sudah dikatakan “Terimakasih, saya seorang Muslim..” namun dua orang kafir ini tetap bersikeras mengajak bercakap.

Itu baru pada salah satu kawasan di Kota Padang, bagaimana dengan kawasan lainnya? Bagaimana pula dengan daerah (kota&kabupaten) lainnya di Propinsi Sumatera Barat ini? Akankah kita nanti hingga pintu rumah kita yang diketuk oleh mereka duhai engku dan encik? Apabila sudah demikian, maka sudah terlambat bagi kita untuk bergerak.. (sumbar)
loading...