Partai Golkar adalah partai raksasa, partai besar yang dibenci dan dirindu. Dibenci karena harus memetik buah dari kekeliruan masa lalu, dirindu karena karya-karyanya yang masih membekas pada batin rakyat Indonesia, meski keserakahan telah meruntuhkannya pada tanggal 21 Mei 1998.
Partai Golkar memang sempat jatuh namun bangkit kembali, partai yang pernah menuai amuk massa karena dosa masa lalu, kini melalui Munaslub Partai Golkar di Bali tahun 2016 menunjukkan bahwa pohon beringin memang teduh dan akarnya kuat menghunjam poros bumi Indonesia, sehingga tak mudah roboh.
Di era Jokowi-JK, Partai Golkar menghadapi periode yang berat, karena harus mempertahankan daya kompetitif dan daya tarik secara tergopoh-gopoh akibat konflik internal yang dinamis, rumit dan panjang.
Sebagai publik, sebelum pembukaan Munaslub Partai Golkar tahun 2016 di Bali kita menanti apakah Golkar akan menambah bobot legitimasi bagi kepemimpinan Jokowi-JK ataukah akan terus menjadi penyeimbang dan berdiri di persimpangan jalan. Penantian itu telah terjawab dari sambutan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Aburizal Bakrie, bahwa siapapun yang terpilih akan terikat untuk mendukung Pemerintahan Jokowi-JK.
“Kalau sekedar untuk mempertahankan kekuasaan kita tak kan ada di sini malam ini, saya lebih jeneng daripada jumeneng (saya lebih memilih nama baik daripada kedudukan), demi kemajuan dan kebesaran Partai. Kekuasaan hanyalah instrumen untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri”, begitulah menurut Aburizal Bakrie.
Bahkan dalam sambutannya Aburizal Bakrie menyatakan, keahlian Partai Golkar adalah mengelola kekuasaan, bukan melakukan perlawanan terhadap kekuasaan. Partai Golkar ahli membangun dan ahli dalam berkarya demi mencapai cita-cita besar bangsa Indonesia.
Adalah F. W. Nietczhe, seorang eksistensialis yang memiliki keyakinan bahwa setiap manusia memiliki kehendak untuk berkuasa (will to power), bahkan terkadang tanpa rasa malu menabrak rambu-rambu kepantasan hingga kemudian menemukan keseimbangan kembali. Keseimbangan itu dalam konteks Partai Golkar dapat diwujudkan lewat proses regenerasi yang serius dengan sebuah politik harapan (political hope) dan bukan sebuah kamuflase yang direkayasa.
Gerontokrasi di tubuh Partai Golkar
Selama ini Partai Golkar masih abai terhadap regenerasi politik yang bermakna, sehingga mengalami apa yang disebut Eep Saifulloh Fatah sebagai gerontokrasi atau dikuasai oleh orang-orang tua dengan peluang yang sangat kecil bagi kaum muda.
Sebagai sebuah politik harapan bagi kader-kader muda Partai Golkar Munaslub adalah jalan dan inspirasi untuk mengakhiri kegalauan kader-kader muda Partai Golkar yang tetap setia dan rela antre menunggu giliran dan kebijaksanaan kaum senior.
Kita berharap Partai Golkar dapat mempertahankan posturnya sebagai partai raksasa di tengah menuver politik lawan-lawannya, terutama PDIP yang semakin kuat dan solid karena ditopang kekuasaan yang berserak, menebar keseluruh lapisan sosial, hukum dan politik.
Kader muda adalah aset dan merupakan bagian dari modal bagi Partai Golkar untuk mempertahankan posturnya sebagai partai raksasa yang memiliki jaringan infrastruktur kuat, sumber daya finansial yang kokoh serta pengalaman yang cukup.
Munaslub Partai Golkar adalah forum tertinggi dalam mengambil kebijakan, sehingga momen ini dapat menjadi alat untuk melakukan konsolidasi organisasi dan dapat mempromosikan kader-kader muda yang piawai dan mampu bertahan di tengah situasi politik nasional yang semakin kompleks.
Kepada Tuan Presiden
Meski Partai Golkar adalah partai raksasa, tak lama setelah Jokowi-JK memimpin Indonesia hampir saja badan pohon beringin “diamputasi” oleh sebuah kekuasaan yang banal dan politik internal yang melibatkan sumber daya Partai Golkar sendiri.
Partai Golkar diserang dari segala penjuru angin karena dosa gerontokrasi yang bebal telah dilawan oleh sekelompok kecil kader muda Partai Golkar yang nekat dengan menepikan rasa takut berbalut relasi kuasa.
Perlawanan itu berujung Munaslub tahun 2016 yang digelar di Bali saat ini, sebuah pagelaran Partai Golkar yang sangat kolosal. Momentum inilah yang dapat menggeser libido politik lawan-lawan Partai Golkar yang banal untuk melakukan “amputasi” terhadap anggota tubuh Partai Golkar. Jika Munaslub benar-benar menjadi momentum untuk bersatu tak kan ada lagi kegoncangan yang menguras perhatian seluruh rakyat Indonesia.
Tapi begitulah politik, meski Presiden Joko Widodo dalam sambutannya pada acara pembukaan Munaslub Partai Golkar di Bali menyatakan, “kita harus bersatu padu, kita harus bersama, tak mungkin lagi kita bertarung antar saudara, karena persaingan dari luar telah masuk kepada kita sendiri”, namun Presiden sendiri mengatakan bahwa kehendak untuk bersaing dan berkompetisi—dengan Negara lain—tak kan surut, mungkinkah kehendak bersaing itu juga berlaku bagi Partai Golkar mengingat Presiden adalah kader PDIP?
Bahwa benar pemikiran Partai Golkar telah membentuk struktur, ekonomi dan sosial politik Indonesia sebagaimana dikatakan Presiden. Partai Golkar telah memberi sumbangsih politik yang matang terhadap bangsa Indonesia, partai yang memiliki jam terbang yang tinggi serta pengalaman yang luas dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Karenanya, sebagai anak bangsa yang menghargai sejarah, kepada tuan Presiden kami meminta agar “jangan amputasi partai Golkar”.
* Penulis adalah alumni Pascasarjana Ilmu Politik UI, Dosen dan Praktisi Hukum. (akt)

