logo
×

Jumat, 03 Juni 2016

Panglima TNI : Neoliberalisme Lebih Berbahaya dari Komunisme

Panglima TNI : Neoliberalisme Lebih Berbahaya dari Komunisme

Nusanews.com - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyebut ancaman paham neoliberalisme pada pancasila bisa melebihi ancaman komunisme melalui bangkitnya Partai Komunis Indonesia. Pasalnya PKI telah diantisipasi lewat TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966  yang melarang berkembangnya ideologi tersebut.

"Saya ingatkan kebangkitan PKI bukan hanya dilihat di permukaan, tapi di bawah permukaan. PKI berbahaya, tapi yang lebih berbahaya neoliberalisme," kata Gatot selepas acara simposium nasional Anti PKI bertajuk Mengamankan Pancasila dar Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (2/6/2016).

Gatot menyontohkan neoliberalisme yang mulai menyebar secara luas di Benua Eropa seperti Belanda, Denmark dan Prancis yang menyebabkan gereja-gereja mulai kosong namun bukan karena pindah agama, sebagai akibatnya rumah ibadah tersebut banyak yang dijual karena tidak ada jemaatnya.

"Dengan adanya proses ini, lama-lama orang jadi ateis. Akibatnya makin terbukalah dengan ideologi lainnya, masuk ke Indonesia yang bisa berbahaya seperti individualisme, anarkisme bahkan komunis. Maka dari itu kita harus waspada," ujar Gatot seperti dikutip Antara.

Hal ini menurutnya, terjadi juga di Indonesia dengan menjamurnya tempat belanja modern yang menggantikan pasar tradisional.

"Pancasila kalau diperas jadi gotong royong. Gotong royong akan dihilangkan dengan menghilangkan publik area. Maka Presiden katakan hidupkan kembali pasar tradisional," kata Gatot.

Lebih lanjut, Gatot menuturkan, untuk menangani isu kebangkitan PKI, tidak harus  secara fisik, misalnya dengan menghakimi pihak yang dianggap menghidupkan kembali PKI karena menggunakan atribut-atribut berbau komunis. Cara menindak oknum yang ditengarai memicu kebangkitan PKI, kata Gatot, bisa dengan mencari akar permasalahannya.

"Cari misalnya kalau ada yang pakai kaos, dekati. Belinya dimana, bikinnya dimana lalu ditelusuri dengan mendatangi toko yang menjual atribut-atribut tersebut dan mencari tahu siapa saja yang memesan. Kita bekerja di bawah, dimana otaknya," ujar dia.

Seperti diberitakan, isu kebangkitan PKI itu, santer diucapkan mantan Kepala Staf Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), Mayor Jenderal (purnawirawan) Kivlan Zein. Dia menyebut PKI telah berdiri kembali dua minggu lalu. (ts)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: