logo
×

Minggu, 05 Juni 2016

Untuk Beli "Pampers", Petugas Satpol PP Ini Berjualan Bunga Tabur

Untuk Beli "Pampers", Petugas Satpol PP Ini Berjualan Bunga Tabur

Nusanews.com - Herman Sancoko (31) merupakan tenaga honorer pada Satpol PP Kabupaten Banyuwangi. Demi mendapatkan tambahan, ia nyambi  berjualan bunga tabur di Tempat Pemakaman Umum Gentengan, Kecamatan Banyuwangi.

Kepada Kompas.com, Minggu (5/6/2016), Herman bercerita, dia sengaja berjualan untuk menambah uang agar bisa membeli pampers dewasa untuk istrinya.

"Setelah melahirkan anak yang kedua, istri saya tidak bisa kontrol kencing karena ada sarafnya yang putus, jadi sehari-hari menggunakan pampers," ujar Herman.

Herman dan Ayu, istrinya, berjualan di pinggir jalan dan melayani para penziarah yang akan nyekar ke makam keluarganya. Nyekar di makam sudah menjadi tradisi Muslim menjelang puasa di Banyuwangi.

"Namanya juga usaha. Di sepanjang jalan ini memang banyak pedagang kembang dadakan. Jadi, kami ikut jualan juga sejak Kamis kemarin," ungkapnya.

Herman berjualan saat sedang tidak bertugas. Sejak 3 tahun terakhir, dia bertugas di rumah dinas wakil bupati Banyuwangi. Lelaki kelahiran 1985 tersebut menjadi anggota satpol PP sejak tahun 2012.

"Kebetulan untuk hari ini pas dinas malam, jadi ya jualan di sini, gantian sama istri," ujarnya.

Sementara itu, Ayu (25), istri Herman, menjelaskan, sejak melahirkan anak keduanya yang kini berusia 1,5 tahun, dia tidak bisa mengontrol saat buang air kecil.

"Pas lahiran, normal. Lalu, ada tulang yang patah, jadi sempat beberapa kali operasi. Setelah operasi, saya enggak bisa nahan kencing. Keluar saja, enggak bisa kontrol pipis," ujarnya.

Akhirnya, setiap hari, ia menggunakan pampers anak-anak yang dia modifikasi. Sudah tidak terhitung berapa banyak pampers yang Ayu gunakan karena terlalu sering mengeluarkan air seni. Akhirnya Ayu memilih mengurangi minum.

Sebenarnya, menurut dokter, penyakit tersebut bisa ditangani dengan operasi, tetapi harus di Surabaya. Namun, Ayu mengaku masih trauma.

"Memang ada BPJS, tetapi untuk hidup di sana sama wira-wiri kan juga butuh biaya," ucapnya.

Untuk modal berjualan bunga, dia dan suami harus berutang sebesar Rp 250.000 kepada kerabatnya.

"Berapa pun hasilnya, kami syukuri. Alhamdulillah, bisa buat tambahan beli pampers dan kebutuhan pas puasa," pungkasnya sambil tersenyum. (kp)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: