logo
×

Selasa, 23 Agustus 2016

Tiongkok Bersikeras di Posisi Dua Olimpiade

Tiongkok Bersikeras di Posisi Dua Olimpiade

Nusanews.com - Media pemerintah Tiongkok menyambut penutupan Olimpiade Rio sebagai "keberhasilan lengkap" kontingennya, dan bersikeras bahwa negara itu finis kedua dalam perolehan medali di atas Britania Raya, Senin (22/8).

Tiongkok menghibur dunia dengan lebih memberi penekanan pada semangat manusia, rasa hormat, dan persahabatan, dari sekedar memenangkan gelar, menurut kantor berita Xinhua.

"Bagi Tiongkok, dua pekan terakhir penuh dengan kemenangan atas kerja keras dan semangat manusia. Dengan total 70 medali -- 26 emas, 18 perak dan 26 perunggu -- Tiongkok berada di posisi kedua perolehan medali keseluruhan," tulis media tersebut.

Namun kantor berita itu tidak menyebutkan peringkat perolehan medali resmi yang menempatkan Britania Raya di posisi kedua dan Tiongkok di posisi ketiga.

Total perolehan medali Britania Raya memang lebih rendah yaitu 67, namun mereka mendapat 27 emas sehingga bisa finis kedua di bawah Amerika Serikat.

Tiongkok meraja lela di Olimpiade Beijing 2008 dengan 51 medali emas, namun turun ke posisi dua di Olimpiade London 2012 dengan 38 emas, dan kembali turun ke posisi tiga di Olimpiade Rio dengan 26 medali emas.

Xinhua mengutip Gao Zhidan, Wakil Presiden Komite Olimpiade Tiongkok, yang mengatakan bahwa Tiongkok sukses besar di Olimpiade Rio.

"Para atlet Tiongkok datang ke sini untuk menunjukkan semangat bertanding mereka, menjadi jembatan persahatan dan menunjukkan sisi terbaik rakyat Tiongkok," tulis Xinhua.

"Orang-orang akan mengenang pesta olahraga ini lebih dari apa yang terjadi di arena olahraga. Para atlet Tiongkok ikut berperan dalam beberapa momen manusiawi yang menyentuh hati."


Contoh momen tersebut adalah lamaran pernikahan yang diterima perenang He Zi di pinggir kolam, yang disebut sebagai salah satu momen paling menyentuh di Olimpiade Rio.

Tulisan Xinhua tersebut juga mengkritik tim Amerika Serikat akibat skandal laporan perampokan palsu oleh empat perenangnya.

"Amerika Serikat bersalah atas pelanggaran etika dan pidana dalam kasus para perenang Ryan Lochte, Gunnar Bentz, Jack Conger dan Jimmy Feigen," tulis Xinhua, dan membandingkan dengan kasus doping yang dialami perenang Tiongkok.

"Bukannya berbohong atau melarikan diri dari pihak berwenang, Tiongkok memberi respons cepat dan tulus sejak muncul berita perenang Chen Xinyi gagal tes doping."(bs)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: