logo
×

Rabu, 03 Agustus 2016

Waspadai China-AS, Indonesia Perkuat Keamanan Laut

Waspadai China-AS, Indonesia Perkuat Keamanan Laut

Nusanews.com - Dalam konteks perubahan kawasan strategis Indonesia, saat ini ada pertarungan kekuatan besar China sebaga rising power dan Amerika Serikat.

Di tengah situasi ini, Indonesia perlu melakukan tindakan pengamanan di wilayah strategis. Wilayah yang dianggap paling penting ada di beberapa lokasi dari Selat Malaka yakni, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Ombai.

Hal itu disampaikan oleh Deputi I Kemenko Maritim bidang Kedaulatan Maritim, Havas Oegroseno. Pihaknya tengah melakukan  pendataan melalui survei untuk kebijakan pengamanan ALKI 1, dan juga terhadap penyusunan kebijakan nasional terhadap masalah strategis terkait wilayah strategis Indonesia.

"Selat Sunda itu kondisinya sama Selat Malaka  sama penuhnya. Cuma ada bedanya karena di kita (Selat Sunda) itu traffic domestik. Apa perlu dibuat perempatan, untuk safety navigation. Tujuannya strategis, kalau ada kapal pemerintah asing, kapal perang, itu gimana kita atur traffic yang terbaik. Hasilnya akan diumumkan ke IMO, (International Maritime Organization). Jadi dampaknya banyak," ujar Havas di Jakarta, Rabu, (3/8).

Di ALKI 1, Havas membeberkan ada kenaikan traffic dari Afrika, Australia, dan Eropa untuk kapal-kapal tanker besar. Kapal-kapal bertonase besar ini sudah tidak mampu ditampung Selat Malaka lagi sehingga kini melalui Selat Sunda.

" Datang dari Eropa, kirim barang ke Tanjung Priok, gak lagi lewat Selat Malaka, mereka lewat Selat Sunda.  Kalau gak diamankan dari segi keselamatan ya sulit. Traffic navigasi Jawa-Bali-Sumatera juga tinggi," kata Havas lagi.

Ada beberapa desain perempatan dari IMO, namun masih membutuhkan diskusi lebih lanjut. Pakar IMO dan Pakar hidrografi asing pernah menyampaika kepada pemerintah secara informal soal traffic tinggi di Selat Sunda, makanya pemerintah menggandeng TNI AL untuk mensurvei dan membuktikan hal tersebut.

"Dengan kemampuan kita yang canggih, kita mau buktikan bahwa kita mampu lakukan survei sendiri, tentukan sendiri seperti apa," tegas Havas.

Survei dilakukan selama 50 hari melibatkan 50 personel dari tenaga teknis dengan pendekatan ilmu geodesi, oseanografi dan hidografi. (rmol)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: