
Nusanews.com - Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai adanya kepentingan asing di balik kenaikkan harga cukai rokok.
Pasalnya, menurut Firman, sejumlah Non-Governmental Organization (NGO) yang melakukan kajian dan mendorong pemerintah untuk menaikkan cukai rokok pasti memiliki kerja sama dengan NGO asing.
"Yang melakukan dorongan melalui kajian ini kan NGO-NGO dan kelompok-kelompok yang memang anti rokok.Mereka ada kepentingan lain. Mereka itu kan pasti ada kerja sama dengan NGO-NGO luar negeri yang memang punya target membenturkan antara industri farmasi dengan industri pertembakauan,"ujar Firman di Gedung DPR Jakarta, Senin (3/10/2016).
Firman menyebutkan, ada sejumlah negara yang mendorong naiknya cukai rokok. Negara-negara ini, lanjutnya, tidak memiliki industri rokok di negaranya.
"Indonesia ini kan memang surganya rokok, bahan bakunya murah, izinnya murah, pekerjanya juga murah. Yang menginginkan rokok kita naik itu ya negara-negara yang memang tidak memiliki industri rokok. seperti Singapura, China, dan Australia. Mereka nggak punya tembakau dan pabrik rokok," tegasnya.
Firman mengatakan, naiknya cukai rokok akan mematikan industri rokok lokal. Alhasil, akan banyak rokok asing yang dengan mudah masuk ke Indonesia.
"Sekarang ini kan rokok Amerika sudah mulai hijrah ke Indonesia. Ada juga negosiasi, katanya dengan Jepang, yang akan membeli pabrik rokok di Indonesia," ujar politisi dari Partai Golkar itu.
Untuk itu, Firman mengingatkan pemerintah jangan sampai salah langkah dan sembrono dalam mengambil keputusan. Kebijakan kenaikkan cukai rokok harus dipelajari dan pertimbangkan lagi secara matang.
"Jangan sampai industri-industri strategis seperti rokok ini dikuasai asing. Bahkan kretek yang merupakan heritage warisan leluhur kita juga nanti dinikmatin asing keuntungannya," ujar Firman. (ts)

