logo
×

Minggu, 16 Oktober 2016

Pengamat Intelejen: (Sudah Settingan) Sulit, Kalau Pimpinan Ormas Islamnya Saja ‘Berotak’ Liberal

Pengamat Intelejen: (Sudah Settingan) Sulit, Kalau Pimpinan Ormas Islamnya Saja ‘Berotak’ Liberal

Nusanews.com - Kasus penistaan yang dilakukan oleh Basuki Tjahja Purnama akhirnya menyingkap ‘otak’ keberpihakan para pimpinan ormas Islam yang ada

Kedok kedok yang awalnya disimpan dengan rapi, namun akhirnya terbuka dengan sendirinya, secara ‘khas’ nya pemikiran kaum liberal, mengatakan ssegala hal nya dengan halus dan meminta jangan membawa bawa nama ormasnya untuk ikut berpolitik menjatuhkan gubernur Ahok

Pengamat Intelejen Sofjan Lubis memberikan pendapatnya “ini sebuah hasil yang ditanam sejak lama, menciptakan dan membina seseorang untuk disipakan menjadi pemimpin ormas Islam agar pola pikir ormas tersebut ‘berubah’ dari aslinya sebagai pejuang Umat”

Intelejen telah lakukan itu sejak orde baru, buah dari operasi intelejen orde baru didalam pengawasan dan pengendalian Ormas dan lembaga lembaga keislaman, menanam orang yang diciptakan dan dibina pola pikirnya dan disiapkan untuk memimpin oramas tersebut kedepannya

Era Presiden Jokowi adalah ‘puncak’ dari masa pengabdian para infiltran tersebut

Masanya mereka ‘bertugas’ dengan mengedepankan pola pikir yang berbeda dan membaw lari khittah asli ormas kepada pola pikir yang makin jauh dari sifat perjuangan Umat, dan menjadikannya lebih liberal dan impoten (loyo)

Ormas ormas Islam akan dibuat ‘impoten’ alias loyo dalam bergerak dan berjuang ditengah umat, membawa ormas yang dahulu dikenal paling dekat dan dapat menjadi andalan umat, akhirnya kini malah berpikir dan bersifat ‘berbeda’ dari keinginan umat Islam kebanyakan

Dan kasus penghinaan kepada Islam yang dilakukan Gubernur Ahok, menjadi poin untuk melihat ‘keaslian’ cara berpikir pimpinan dan ketua ormas tersebut yang sudah disiapkan lama oleh intelejen” tutup Sofjan (ln)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: